00:11 Pesawat Pembom China dan Rusia Terbang Dekat Okinawa Jepang 02:23 China Beli Senjata Rusia untuk Persiapan Invasi Taiwan
China dan Rusia menunjukkan kekuatan militer dengan menerbangkan lebih dari 10 pesawat di dekat Jepang, memicu kekhawatiran Tokyo dan kritik AS. ---------------------- Dokumen bocor ungkap China diam-diam beli senjata Rusia, persingkat waktu persiapan invasi Taiwan, jadi PR buat AS.
China menunjukkan kekuatan militernya pada Jepang.
Lebih dari 10 pesawat pembom dan pesawat tempur China dan Rusia
terbang di dekat pulau-pulau selatan Jepang pada hari Selasa.
Pesawat pembom Rusia dilaporkan mampu membawa senjata nuklir,
sementara pesawat China dapat membawa rudal.
Baik Jepang maupun Korea Selatan mengerahkan jet tempur untuk memantau ancaman ini,
yang juga memasuki zona pertahanan udara terbatas Korea Selatan.
China dan Rusia telah melakukan penerbangan bersama di dekat Jepang
setiap tahun selama tiga tahun terakhir.
Namun kali ini beberapa pesawat terbang lebih dekat setelah melewati selatan Okinawa.
Latihan itu berlangsung selama delapan jam.
Jepang menyebut patroli bersama itu sebagai kekhawatiran serius bagi keamanan nasional.
Penerbangan pembom bersama yang berulang kali dilakukan oleh kedua negara
menandakan perluasan dan intensifikasi aktivitas di sekitar negara kita.
Kita tidak bisa tidak memandangnya sebagai unjuk kekuatan pada Jepang.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah sebuah pesawat tempur China
mengunci radarnya pada jet-jet Jepang.
Ini adalah langkah provokatif, karena ini biasa dilakukan tepat sebelum meluncurkan senjata.
Pihak China melakukan penguncian radar secara berkala selama kurang lebih 30 menit.
Kami akan terus menuntut dengan tegas agar pihak China
mencegah terulangnya tindakan berbahaya seperti itu.
Kementerian luar negeri China mengatakan Jepang membuat tuduhan palsu.
AS pada hari Selasa mengkritik tindakan China untuk pertama kalinya.
Seorang jubir Departemen Luar Negeri AS berkata
tindakan China tidak kondusif bagi perdamaian dan stabilitas regional
dan AS akan tetap berkomitmen teguh pada sekutunya Jepang.
Ketegangan yang meningkat terjadi setelah Perdana Menteri Jepang
menegaskan dukungannya untuk Taiwan bulan lalu.
Ia memperingatkan bahwa serangan China pada Taiwan
dapat memicu potensi respon militer dari Tokyo.
Sebagai tanggapan, seorang diplomat China membuat komentar
yang mengancam Perdana Menteri Jepang di media sosial.
China juga melarang ekspor makanan laut Jepang
dan membatalkan 40% penerbangan ke Jepang untuk bulan Desember.
Sementara itu, Jepang mengusir dua kapal penjaga pantai China
di perairan sekitar Kepulauan Senkaku,
wilayah sengketa berjarak lebih dari 100 mil dari Taiwan.
Dokumen Rusia yang bocor oleh hacker mengungkap bahwa
China diam-diam membeli senjata Rusia sejak 2022
guna membangun kekuatan armadanya sebagai persiapan untuk menyerang Taiwan.
Laporan ini diberitakan oleh harian The Cave Independent.
Sumber tersebut mengatakan China telah membeli pesawat,
kendaraan tempur, amunisi serta peralatan perang dari Rusia
yang digunakan untuk memperkuat satuan penerjun payung dan udara militer China.
China juga membeli kendaraan lapis baja
yang bisa dijatuhkan dari pesawat menuju darat.
Kontrak jual-beli itu diperkirakan rampung pada 2027,
saat yang tepat di mana pemimpin China Xi Jinping mengatakan
militernya siap untuk menginvasi Taiwan.
China berupaya menyembunyikan pembayaran pembelian peralatan tersebut
untuk menghindari terjerat sanksi internasional.
Hubungan antara militer China dan Rusia kian terlihat jelas.
Awal bulan ini, pasukan militer kedua negara melakukan latihan anti-rudal bersama
setelah sebelumnya melakukan patroli kapal selam gabungan pertama
di Pasifik beberapa bulan lalu.
Di awal 2025, para pemimpin China, Rusia, dan Korea Utara
hadir bersama pada acara parade militer besar di China.
Penasihat Presiden Ukraina mengatakan sekitar 60% suku cadang
yang ditemukan pada senjata Rusia di Ukraina berasal dari China.
Seorang pakar China memperingatkan bahwa penjualan senjata Rusia ke China
adalah PR bagi AS.
Sun mengatakan senjata Rusia dapat memperkokoh militer China
dan mempersingkat waktu persiapan untuk menginvasi Taiwan.
Menurutnya, AS dan Taiwan perlu mengevaluasi kembali urgensi semacam ini.