Kunjungan PM India Narendra Modi ke Tiongkok membuat heboh. Saat perundingan AS-India mandek, Presiden Trump menerapkan tarif 50% pada impor India, dengan alasan ekonomi India yang "mati" dan pembelian minyak Rusia. Langkah ini, bersama dengan kesepakatan AS-Pakistan, membuat India frustrasi dan dianggap beberapa pihak makin mendekatkannya dengan Tiongkok. Namun, Alan Zhang, seorang analis urusan Tiongkok, berpendapat ini adalah strategi Trump untuk menarik kembali industri manufaktur dan ekonomi Amerika Serikat.
Perdana Menteri India Modi dan kunjungan pertamanya ke China dalam tujuh tahun membuat gebrakan
bukan hanya karena foto-fotonya tersenyum bersama Xi Jinping dan Vladimir Putin.
Presiden Trump ikut berkomentar, membidik China dan apa yang disebutnya poros kejahatan.
Apa strategi Trump pada India dan mengapa strategi ini tampaknya tidak berlaku saat menyangkut rezim komunis China?
Mari kita bahas.
Pada KTT Organisasi Kerjasama Shanghai minggu ini,
Perdana Menteri India Narendra Modi terlihat berbincang hangat dengan pemimpin rezim China Xi Jinping
dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kemudian ia juga terlihat menyambut pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bersama Putin.
Hari Jumat, Presiden Trump berkomentar,
sepertinya kita telah kehilangan India dan Rusia ke China yang dalam dan gelap.
Saat perundingan perdagangan AS-India terhenti, Trump menganggap India sebagai negara yang ekonominya mati.
Mulai 27 Agustus, AS memberlakukan tarif 50% atas impor India
yang mencakup tarif 25% pembelian minyak Rusia oleh India.
AS menganggap pembelian minyak ini membantu mendanai perang Rusia di Ukraina.
Namun India menolak dan berkata bahwa China lah pembeli minyak Rusia terbesar.
Sementara itu, pemerintahan Trump memecah keheningan diplomatik selama setahun dengan Pakistan
dan menanda tangani kesepakatan pengembangan minyak baru dengan Islamabad.
Langkah itu juga membuat India frustasi.
Beberapa analis berkata strategi Trump telah membuat India lebih dekat dengan China.
Namun seorang analis urusan China, Alan Zhang, melihatnya secara berbeda.
Ia yakin ini adalah strategi untuk memulihkan industri manufaktur dan dominasi ekonomi Amerika.
Sanksi AS terhadap India telah memicu frustasi di New Delhi.
New Delhi menyebut tindakan tersebut tidak adil.
Mengapa? Mereka bertanya.
Washington bersikap begitu keras terhadap India sementara tidak melibatkan Beijing.
Ada alasan yang lebih mendalam atas tindakan Trump.
Sanksi itu bukan hanya hukuman atas pembelian minyak dan senjata Rusia oleh India.
Trump mungkin juga ingin mencegah bisnis Amerika yang keluar dari China pindah ke India.
Secara khusus, mereka mungkin ingin mencegah perusahaan seperti Apple
mengalihkan manufaktur skala besar ke India dan ingin mengembalikannya ke Amerika Serikat.
Tentu saja ia tidak bisa mengatakannya dengan lantang.
Trump punya strategi kebijakan,
banyak dari itu adalah membawa kembali rantai pasokan penting ke Amerika.
Dari perspektif ini,
tekanan Trump pada India dapat dilihat sebagai bagian dari manuver geopolitik yang lebih luas.
Sanksi India lebih dari sekedar reaksi pada perdagangannya dengan Rusia,
tapi adalah rencana jangka panjang Trump untuk menghidupkan kembali ekonomi industri Amerika.
Hubungan AS-India juga didasarkan pada hubungan antara kedua pemimpin negara tersebut.
Mantan penasehat keamanan nasional John Bolton berkata,
ikatan pribadi yang dulu erat antara Trump dan Modi kini telah putus.
Trump secara terbuka mengklaim berjasa merendahkan ketegangan militer antara India dan Pakistan pada bulan Mei.
Sebagai tanggapan, Pakistan menominasikan Trump untuk hadiah Nobel Perdamaian,
tetapi Modi menolak gagasan bahwa Trump memainkan peran mediasi apapun,
bersikeras bahwa India harus menyelesaikan konflik itu sendiri.
Sebelum kunjungannya ke China, Modi singgah di Jepang,
di mana ia mengatakan pada media lokal bahwa India dan AS telah berteman di masa lalu,
dan akan terus berteman di masa depan.
Minggu ini di Beijing, pemerintah China mengadakan parade militer besar-besaran,
di mana Xi berdiri bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.
Parade ini menunjukkan persatuan dari musuh-musuh utama Amerika,
di mana Presiden Trump mengunggah postingan di media sosial berkata,
Sampaikan salam hangat saya pada Vladimir Putin dan Kim Jong-un
saat kalian berkonspirasi melawan Amerika Serikat.
Ini adalah salah satu dari sedikit serangan langsung Trump pada China dan sekutunya,
yang disebut Trump sebagai poros kejahatan.
Ini adalah perubahan penting mengingat ia sering menyebut Xi Jinping sebagai teman baik.
Trump tampaknya telah memahami PKC lebih baik dari waktu ke waktu,
terutama selama negosiasi perdagangan yang melibatkan Menteri Keuangan Scott Bisson
dan menyaksikan parade militer China baru-baru ini di Beijing.
Pengalaman-pengalaman ini membantu Trump memahami bahwa PKC bukan hanya tokoh yang buruk,
tapi juga lawan yang tangguh dan tak kenal kompromi.
Tapi Trump juga menyadari kenyataan pahit,
bahwa AS tidak bisa melepaskan diri dari China dalam semalam.
Kedua negara ini sangat terjerat secara ekonomi,
baik itu modal, rantai pasokan, maupun investasi.
Jadi pemisahan secara tiba-tiba tidaklah mungkin.
Saat ini genjatan senjata tarif AS-China telah diperpanjang hingga November.
Namun ketegangan tetap tinggi dengan berlanjutnya perdebatan
mengenai fentanil, tanah jarang, kedelai, dan kapas.
Trump telah berhasil bernegosiasi dengan Uni Eropa, Inggris, dan Jepang,
namun mengapa pendekatan yang sama tidak berhasil dengan China.
Tampaknya Presiden Trump tidak sepenuhnya memahami Xi Jinping.
Trump selalu menggunakan taktik negosiasi bisnis dalam diplomasi dan geopolitik.
Ia sering memberi tekanan, lalu sedikit mengalah,
berharap pihak lain akan mengalah dan berkompromi.
Namun hal ini tidak akan berhasil dengan Xi Jinping dan PKC.
Secara fundamental, PKC berbeda dari entitas bisnis pada umumnya
atau bahkan bangsa rasional yang mengejar keuntungan ekonomi.
Bagi PKC, kelangsungan hidup partai lebih penting dari apapun.
Bahkan kesejahteraan ekonomi negara.
Ketika Trump memaksakan kekerasan dengan harapan kompromi,
PKC tidak akan menyerah.
Rezim tahu mereka bisa membebankan rasa sakit dan penderitaan apapun pada rakyat China.
Seperti pepatah Tiongkok kuno,
bukan saya yang makan rumput, tapi rakyat saya yang makan.
Ini adalah ciri inti dari rezim otoriter seperti China.
Rezim ini tidak memikirkan kepentingan nasional negara,
namun memikirkan kekuatan dan kelangsungan hidupnya sendiri.
Itulah sesuatu yang tidak akan pernah dikompromikan oleh PKC.
Menurut Menteri Keuangan AS Besan,
putaran perundingan perdagangan tingkat tinggi berikutnya
dapat terjadi paling cepat di akhir Oktober atau awal November.