SHANGHAI TELAH RUNTUH. DARI KOTA BERJAYA MENJADI KOTA HANTU. KE MANA PERGINYA 25 JUTA ORANG?

Shanghai, kota yang dulunya merupakan pusat kehidupan dan perdagangan di China, kini digambarkan sebagai "kota hantu". Banyak mal dan jalan pejalan kaki yang dulu ramai sekarang terlihat sepi dan kosong. Mal seperti Wanda Mall, yang baru dibuka 1,5 tahun, sudah mulai tutup hanya dalam enam bulan. Lantai atas mal tersebut ditutup, dan hanya sedikit bisnis yang masih beroperasi di lantai bawah.
Fenomena serupa terlihat di berbagai distrik lain, seperti Hong Xiao, Minhang, dan Pudong. Jalan jalan yang pernah dijuluki "Little Nanjing Road" kini dipenuhi toko toko yang tutup dengan tanda tanda yang memudar. Bahkan di lokasi premium seperti Bund, mal yang dulunya ramai pengunjung kini menjadi area yang dihindari turis, dengan lebih dari 200 toko disegel dan tutup.
Tingkat kekosongan di mal Shanghai diperkirakan mendekati 40% dan terus meningkat. Banyak orang menyalahkan e commerce, tetapi artikel tersebut menyebutkan bahwa masalah yang lebih dalam adalah krisis ekonomi yang membuat orang orang tidak lagi memiliki uang untuk berbelanja. Banyak warga, terutama mereka yang berusia paruh baya, kesulitan mencari pekerjaan setelah kehilangan pekerjaan mereka. Seorang warga bahkan menyebutkan bahwa mendapatkan pekerjaan yang layak seperti memenangkan lotre.
Selain itu, program pembongkaran dan relokasi penduduk di area seperti North Bund, yang dulunya merupakan bagian dari "Segitiga Emas" Shanghai, telah menyebabkan daerah tersebut kehilangan vitalitasnya karena penduduk asli pindah. Pemandangan ini menimbulkan pertanyaan: ke mana perginya 25 juta penduduk Shanghai?. Beberapa netizen berspekulasi bahwa populasi kota menyusut dan bisa berkurang setengahnya dalam satu dekade. Kondisi ini menggambarkan sebuah kota yang kehilangan sinarnya, dengan bisnis yang tutup dan warga yang berjuang untuk bertahan hidup.
