
Mardigu Wowiek: Indonesia Jangan Mau Tangan di Bawah Tiongkok
Nama Mardigu Wowiek Pransantyo belakangan dikenal publik sebagai konten creator dan influencer yang banyak bicara tentang situasi geopolitik dan geoekonomi global, juga sangat kritis terhadap kebijakan luar negeri Indonesia. Pengusaha sekaligus trainer ini pun memiliki jutaan pengikut di media sosial YouTube. Dalam forum Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Jakarta pada 1 Desember lalu, pria yang akrab dipanggil "Bossman Sontoloyo" ini bersama dengan narasumber lain mengupas isu tentang "Mengidentifikasi dan Merespon Bentuk Baru Intervensi dalam Urusan Internasional".
Mardigu menilai lemahnya kebijakan politik luar negeri selama pemerintahan Presiden Joko Widodo yang sangat bergantung pada dua negara adidaya. Untuk itu, menurutnya, bangsa Indonesia perlu berubah dalam berhubungan dengan negara lain dan memiliki daya tekan yang kuat.
[Mardigu Wowiek Pransantyo, pengusaha dan Pengamat Geopolitik]
"Secara bernegara, kita memang perlu bersahabat dengan negara manapun. Kita tahu, secara ekonomi kita masih bergantung pada Tiongkok, secara power kita masih bergantung pada Amerika. Dan, ke depan, selama beberapa tahun masa reformasi ini, kita tidak equal, tidak setara. Maksudnya tidak setara itu adalah, kita malah yang tidak diuntungkan, yang diuntungkan malah mereka. Ke depan kita harus punya kekuatan tawar, kita punya kekuatan tekan, dengan alat tekan dan alat tawar kita mau sejajar, kalau mau kita untung. Gitu yah. Kebijakan ke depan ini kalau perlu beat them baru joy, jadi kalahin aja Tiongkok, kalahin aja Amerika. Jadi lebih agresif tapi caranya elegan, jadi tidak melalui perang, ….. kita antiperang, jadi postur kita lebih, bukan kayak ngarep atau tangan dibawah, tapi kita sejajar, kira-kira begitu."
Dengan realitas tersebut, Mardigu menyarankan agar politik luar negeri pemerintah kita ke depan tidak lagi meneruskan kebijakan pemerintah sebelumnya. Apalagi dalam menghadapi China.
[Mardigu Wowiek Pransantyo, pengusaha dan Pengamat Geopolitik]
"Yang sudah ya udah, ke depan kita harus sejajar, Banyak sekali mineral-mineral kita yang dibutuhkan oleh Tiongkok. Nah itu adalah senjata tawar kita. Tiongkok memerlukan itu. Tiongkok adalah pengimpor mineral, karena dia adalah manufaktur pabriknya dunia. Kita adalah bahan bakunya dunia. Saya pikir kita punya kekuatan sejajar, Jangan mentang-mentang dia punya tehnologi, kita punya barang. Teknologi lebih tinggi, gak ada. Tanpa barang kan, teknologinya juga gak jalan kan."
NTD News melaporkan dari Jakarta.
**********
Support us by Joining NTD Fanclub, dapatkan T-Shirt NTD Fanclub, Coffee Mug dan kesempatan pasang iklan di Youtube NTD yang ditonton ribuan viewers. Info lebih lanjut ☛ https://bit.ly/ntdfanclub
Donasi dukung kami ☛ https://ntdindonesia.com/donasi/
Lebih banyak berita dan artikel ☛ https://ntdindonesia.com/
Terhubung dengan kami di Ganjing World ☛
https://www.ganjingworld.com/channel/u7SnRLmAnT8ee
Terhubung dengan kami di Safechat ☛ https://safechat.com/channel/2790461463648540578
Terhubung dengan kami di Facebook ☛ https://facebook.com/ntdindonesia/
Terhubung dengan kami di Telegram ☛ https://t.me/ntdindo
Terhubung dengan kami di Twitter ☛ https://twitter.com/indonesia_ntd
Saksikan juga video kami di ☛ https://www.dailymotion.com/ntdindonesia
Video inspirasi setiap hari ☛ https://www.youtube.com/ntdkehidupan
#china #tiongkok #mardiguwowiek #kebijakanluarnegeri #pilpres2024 #jokowidodo #kebijakanchina #kebijakanpemerintah #beltandroadinitiative #proyekobor
