
Pura Ponjok Batu desa Julah, Kecamatan Tejakula Buleleng Bali 08-03-2023
Keberadaan Pura Ponjok Batu tidak lepas dari sejarah kedatangan Brahmana suci dari Jawa pada abad ke-15 pada masa pemerintahan raja Waturenngong di Bali, beliau adalah Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra seorang pendeta Siwa Sidanta yang bergelar Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh.
Beliau diangkat sebagai penasehat raja Waturenggong, sangat dihormati karena pengabdian yang sangat tinggi pada kerajaan dan juga karena ajaran-ajaran spiritualnya, serta mampu menanggulangi berbagai masalah dan meningkatkan kemakmuran.
Bahkan dengan kemampuan spiritual dan kekuatan bathinnya mampu mengetahui benih-benih keruntuhan Hindu di Jawa. di Lombok sendiri beliau dikenal sebagai Tuan Semeru.
Dari latar belakang sejarah Pura Ponjok Batu serta kaitannya dengan kedatangan Danghyang Nirartha, maka Pura Ponjok Batu ini merupakan Pura Dang Kahyangan, untuk menghormati orang-orang suci yang berhubungan perkembangan agama Hindu pada masa tersebut.
Namun demikian Pura Ponjok Batu memiliki rekaman sejarah panjang kalau di telusuri, termasuk juga kajian arkeologis, di kawasan ini ditemukan juga benda purbakala.
Pura Ponjok Batu yang juga merupakan salah satu objek wisata di kawasan Bali Utara atau Kabupaten Buleleng bisa ditelusuri melalui kebudayaan manusia pada masa lampau (arkeologi), berdasarkan prasasti (efigrafi) dan cerita rakyat (folklore).
Dari segi arkeologis, pada saat pemugaran untuk perbaikan pura Ponjok Batu pada tahun 1995 ditemukan sarkopagus atau peti mayat (sarkopah) yang terbuat dari batu cadas.
Menurut kajian arkeologis ini tentu bisa diketahui bahwa sarkofagus tersebut adalah peninggalan benda purbakala dari jaman perundagian di Bali (tahun 2500-3000 SM), sebuah jaman yang sudah sangat tua.
