SUAMI ISTRI YANG SELALU BERTENGKAR
Ada sepasang suami istri yang selalu bertengkar.
Hari-hari mereka selalu dipenuhi dengan pertengkaran.
Tepat di sebelah rumah mereka hidup sepasang suami istri lain.
Kehidupan mereka sangat damai.
Kadang-kadang memang terdengar suara mereka berargumen.
Tetapi tidak pernah lama.
Yang sering terdengar adalah suara obrolan riang dan tawa yang ceria.
Suami istri yang suka bertengkar ini merasa iri sekaligus heran.
Mengapa tetangga mereka itu selalu hidup rukun?
Suatu hari si istri berkata kepada suaminya.
Hei, lihat tetangga kita itu.
Mereka tidak pernah bertengkar.
Coba pergi ke sana.
Coba intip.
Lihat mengapa mereka bisa hidup begitu damai.
Si suami kemudian pergi ke rumah tetangganya.
Dari jendela dia melihat sang istri di rumah itu sedang mengepe lantai.
Tiba-tiba terdengar dia berlari keluar dapur dan berteriak.
Tampaknya suara teriakannya terdengar oleh suaminya.
Si suami berlari ke arah sumber teriakan
dan tanpa sengaja menendang ember di lantai.
Air di dalam ember itu tumpah semua.
Suami dari tetangga sebelah yang melihat pemandangan ini merasa senang.
Ia merasa yakin sebentar lagi istri tetangganya itu akan mengamuk
melihat tumpahan air dari ember.
Ia sendiri mungkin akan membalas istrinya dengan perkataan
Salahmu sendiri menaruh ember sembarangan.
Memangnya kakiku punya mata.
Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat istri tetangganya itu
menepuk suaminya dari belakang dan berkata
Aduh abang maaf ya kamu jadi menendang ember itu.
Saya menaruhnya sembarangan tadi karena saya melihat kecowak.
Saya buru-buru kabur.
Suaminya kemudian berkata
Aduh dik maafkan saya.
Pekerjaanmu jadi bertambah.
Saya tidak hati-hati.
Biarkan saya yang membersihkan semua genangan air ini.
Setelah melihat semua itu,
si suami yang selalu bertengkar dengan istrinya ini pun pulang.
Ia termenung sendirian
memikirkan betapa berbedanya dirinya dengan sikap tetangganya itu
terhadap satu sama lain.
Istrinya melihat suaminya lalu berkata
Jadi kamu sudah kesebelah.
Apa yang kamu lihat?
Sang suami menjawab
Tidak, saya tidak melihat apa-apa.
Mereka ternyata sedang pergi keluar.
Namun sejak itu,
sang suami berusaha merubah dirinya agar menjadi tidak egois lagi
dan selalu memikirkan istrinya terlebih dahulu.
Sebelum menyalahkan istrinya,
ia selalu meminta maaf terlebih dahulu.
Istrinya yang selalu bertengkar dengannya
tiba-tiba berubah menjadi penyayang,
baik hati, dan tidak egois.
Ia pun mengerti
kunci dari hidup yang damai
adalah dengan mencari ke dalam,
bukan ke luar.
Anda tidak akan bisa merubah orang lain.
Yang bisa Anda lakukan
hanyalah merubah diri sendiri.
Dengan merubah diri sendiri,
miscaya orang-orang di sekeliling Anda juga akan berubah.