Serigala itu bertekad untuk tidak lagi membunuh manusia, melainkan melakukan perbuatan-perbuatan baik. JULIAN STRATENSCHULTE/AFP/Getty Images

Dahulu kala, Gunung Phoenix di Provinsi Shandong menjadi tempat tinggal seorang pertapa yang menjalani kehidupan spiritual. Ia ditemani oleh seekor serigala yang bertugas sebagai penjaganya.

Melalui latihan spiritual dan pengamalan ajaran Buddha, sang pertapa telah mencapai tingkat kesempurnaan hingga menjadi dewa penjaga gunung. Mereka berdua tinggal di sebuah rumah batu yang berada di dalam gua besar di gunung tersebut. Sang dewa sangat menyayangi serigala yang menjadi pengawalnya.

Setiap hari, sang dewa menjaga kawasan gunung dan membaca kitab-kitab suci Buddha. Sementara itu, serigala pengawalnya selalu memperhatikan dengan saksama ketika sang dewa bersembahyang kepada Buddha dan melantunkan kitab-kitab suci.

Serigala itu menyadari bahwa dirinya tidak dapat menjalani latihan spiritual seperti manusia karena tidak memiliki tubuh manusia. Namun, ia tetap berusaha menghafalkan kitab-kitab suci dan bertekad untuk tidak lagi membunuh manusia. Sebaliknya, ia ingin melakukan berbagai perbuatan baik.

Serigala tersebut berharap dapat mengumpulkan cukup banyak de (kebajikan) agar dalam kehidupan berikutnya bisa terlahir sebagai manusia. Dengan demikian, ia memiliki kesempatan untuk menjalani latihan spiritual dan mencapai Kebuddhaan.

“Tolong, Berbelas Kasihanlah!”

Suatu pagi, ketika merasa sangat lapar, serigala itu meminta makanan kepada sang dewa penjaga gunung.

Sang dewa berkata, “Pergilah ke sungai yang telah mengering pada tengah hari nanti. Di sana akan ada sesuatu yang bisa kamu makan.”

Pada tengah hari, serigala itu pergi ke sungai yang mengering sebagaimana diperintahkan. Di sana, ia melihat seorang pria buta berjalan dengan bantuan tongkat bambu.

Karena rasa laparnya, serigala tersebut segera menerjang dan menjatuhkan pria buta itu ke tanah.

Pria buta itu memohon kepada serigala, “Tolong, berbelas kasihanlah kepadaku. Di rumah ada ibu saya yang sudah lanjut usia dan sedang menunggu saya pulang membawa makanan. Jika kamu memakanku, ibu saya yang malang akan meninggal karena kelaparan. Kumohon, jangan makan saya.”

Mendengar permohonan tersebut, serigala itu tidak tega memakan pria buta tersebut. Ia pun berbalik dan pergi menuju sebuah desa di dekatnya.

Setelah bersusah payah mencari makanan, akhirnya ia menemukan beberapa tulang ayam. Dengan membawa tulang-tulang itu, ia kembali ke gua. Namun, rasa laparnya belum juga hilang.

Dua minggu kemudian, serigala itu kembali merasa sangat lapar. Ia sekali lagi mendatangi sang dewa untuk meminta makanan.

Sang dewa berkata, “Pergilah lagi ke sungai yang mengering itu pada tengah hari nanti. Kamu akan menemukan makanan di sana.”

Ketika tengah hari tiba, salju turun dengan lebat dan udara terasa sangat dingin. Serigala itu pergi ke sungai tersebut. Di sana, ia melihat seorang wanita tua sedang menggendong bayi.

Karena sangat lapar, serigala itu berlari menerjang wanita tua tersebut, menjatuhkannya ke tanah, lalu menggigit bayi yang sedang digendongnya.

Ketika serigala hendak melarikan diri, wanita tua itu berlutut dan memohon dengan penuh kesedihan.

“Tolong, berbelas kasihanlah! Dia adalah satu-satunya cucu laki-laki dalam keluarga kami. Jika kamu memakannya, garis keturunan keluarga kami akan terputus. Kumohon, jangan makan dia.”

Setelah mendengar permohonan wanita tua itu, serigala kehilangan selera untuk memakan bayi tersebut. Ia meletakkan bayi itu kembali, kemudian pergi ke desa terdekat untuk mencari makanan.

Namun, seluruh wilayah telah tertutup salju. Serigala itu mencari makanan dalam waktu yang lama, tetapi tidak berhasil menemukan apa pun.

Dalam keadaan lapar dan kedinginan, ia akhirnya menyeret tubuhnya yang lemah kembali ke gua.

Sejak saat itu, serigala yang semakin lemah tersebut tidak pernah keluar lagi. Tidak lama kemudian, ia meninggal dunia karena kelaparan.

Sang Pemimpin Kuil dan Anak Serigala

Setelah kematiannya, serigala tersebut terlahir kembali sebagai seorang anak laki-laki dalam sebuah keluarga di desa yang sama.

Anak itu senang mengunjungi kuil setempat. Ia sering pergi bersama keluarganya untuk membakar dupa dan bersembahyang di hadapan patung Buddha.

Ketika berusia 13 tahun, anak tersebut pergi ke Kuil Phoenix yang berada di Gunung Phoenix dan memutuskan untuk menjadi seorang biksu.

Kuil Phoenix terletak tidak jauh dari gua tempat rumah batu yang dahulu menjadi tempat tinggal sang dewa dan serigala pengawalnya. Di tempat itulah anak tersebut pernah hidup sebagai seekor serigala dalam kehidupan sebelumnya.

Anak laki-laki itu dengan sungguh-sungguh mempelajari ajaran Buddha dan membina wataknya. Ketika berusia 20 tahun, ia akhirnya dipercaya menjadi pemimpin kuil tersebut.

Sementara itu, sang dewa penjaga gunung sangat menyayangi serigala pengawalnya. Setelah serigala itu meninggal, sang dewa kehilangan semangat untuk menjaga gunung dan membaca kitab-kitab suci Buddha.

Setiap kali teringat bahwa serigala kesayangannya meninggal karena kelaparan, ia kehilangan nafsu makan dan tidak dapat tidur.

Beberapa tahun kemudian, sang dewa juga meninggal dunia di dalam gua tersebut.

Setelah kematiannya, sang dewa terlahir kembali sebagai seekor anak serigala berwarna kuning di antara anak-anak serigala lainnya di Gunung Phoenix.

Pada awalnya, anak serigala itu tumbuh dengan baik karena mendapatkan susu dari induknya. Namun, setelah induknya berhenti menyusui, ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan.

Hal ini terjadi karena ia masih mengingat dengan jelas kehidupan sebelumnya dan tidak ingin membunuh makhluk lain untuk mendapatkan makanan.

Akibatnya, anak serigala tersebut hanya memakan sisa makanan yang ditinggalkan oleh anak-anak serigala lainnya. Ia pun sering mengalami kelaparan.

Menjalani Latihan Spiritual untuk Mencapai Kebuddhaan

Anak serigala itu mengetahui bahwa orang-orang sering meninggalkan makanan dan buah-buahan di Kuil Phoenix sebagai persembahan. Karena itu, ia kerap pergi ke kuil untuk mencari makanan dan buah-buahan.

Suatu hari, ketika anak serigala itu sedang mencuri buah di dalam kuil, pemimpin Kuil Phoenix masuk ke ruang utama.

Melihat anak serigala tersebut, sang pemimpin kuil terkejut dan berseru, “Buddha Amitabha!”

Kemudian ia menyambut anak serigala itu dengan penuh kegembiraan.

“Bagus, bagus, sungguh bagus!”

Anak serigala berwarna kuning itu memandang sang pemimpin kuil. Seketika, ia menyadari bahwa orang tersebut adalah serigala pengawalnya dalam kehidupan sebelumnya.

Sang dewa penjaga gunung kini telah terlahir sebagai seekor serigala, sedangkan serigala pengawalnya telah terlahir sebagai pemimpin kuil.

Merasa sangat malu, anak serigala itu segera berlari meninggalkan kuil menuju sisi lain gunung.

Ia tidak lagi ingin menjalani kehidupan sebagai seekor serigala. Satu-satunya keinginannya adalah kembali memiliki tubuh manusia agar dapat menjalani latihan spiritual dan mencapai Kebuddhaan.

Akhirnya, anak serigala itu berlari sekuat tenaga dan menghantamkan tubuhnya ke sebuah batu besar. Tubuhnya terpental, lalu jatuh ke lembah hingga meninggal dunia.

Pesan Moral dari Kisah Ini

Kisah ini menggambarkan betapa berharganya kesempatan untuk terlahir sebagai manusia bagi seseorang yang ingin menjalani latihan spiritual.

Dari kehidupan ke kehidupan, banyak orang memiliki cita-cita untuk mencapai Kebuddhaan. Namun, hanya sedikit yang benar-benar berhasil mencapainya.