Serial Kuliah Kebahagiaan

Iswahyudi

Ketika kita bertanya pada seorang filosof Tiongkok Kuno Konfusius tentang resep bahagia, mungkin secara ekplisit beliau tidak banyak menyebut kata kebahagiaan atau bahkan tidak pernah menyebut kata itu, tapi yang beliau ajarkan adalah esensi dari kebahagiaan sendiri. Yang diajarkan Konfusius lebih terfokus pada pengembangan diri (kultivasi diri ) dari kekuatan kharismatik pribadi.

Tiap orang mempunyai benih kebajikan dalam dirinya dan tugas seseoang merawatnya bak petani yang menyemai benih padi sehingga ia bisa berpanen lebih banyak kebajikan di masa mendatang dan berkontribusi pada keharmonisan keluarga bahkan negaranya. Ajaran Konfusius berpusat pada pembinaan diri (kultivasi diri) dan keharmonisan sosial yang tujuan besarnya adalah kebahagiaan jangka panjang dalam konteks yang lebih luas. Kalau Sokrates berfokus pada pengembangan diri dengan kritis melihat kehidupan (Kehidupan yang tidak dipertanyakan tidak layak dijalani), Konfusius selangkah lebih maju yaitu bagaimana seseorang kultivator berkontribusi pada masyarakat.

Apa yang ajarkan oleh Konfusius sangat menggugah pikiran dan terkadang sedikit misterius. Seperti banyak gaya pemikir Tiongkok yang tidak mau memberi jawaban instan, tapi merangsang untuk melakukan brainstorming dalam menemukan jawabannya. Beliau ingin kita mengejar kupu-kupu kebenaran dan menjaganya tetap hidup. Dia tidak ingin membunuh kupu-kupu itu. Dia tidak ingin membunuh kebenaran dengan menjabarkannya dalam kata-kata, seperti yang pernah dilakuakan Lao Tse pendiri taoisme, “Penjaga toko yang hebat tidak menjaga harta karun berharganya di bagaian depan toko, Anda harus menuju ke belakang toko persahabatan.”

Ajaran Tao dan kebahagiaan mungkin bukan hal yang kebetulan dijadikan pembukaan dua bagian dari Analek catatan konfusius yang paling terkenal keduanya berbicara tentang kebahagiaan. Yaitu “Sang Guru berkata: Mempelajari dan pada waktunya mempraktekkan apa yang telah dipelajari, bukankah ini suatu kesenangan? Ketika teman datang dari tempat yang jauh, bukankah ini menyenangkan? Tetap tidak terpengaruh ketika bakatnya tidak diakui, bukankah ini sebuah junzi?

Mungkin kita bertanya bagaimana kebahagiaan dari seorang yang mempelajari suatu kebenaran atau kebijaksanaan dan mempraktekkan tidak sebanding dengan kebahagiaan seorang yang bertemu dengan teman yang datang dari tempat jauh. Rupanya intepretasi teman dari jauh ini bukan sembarang teman biasa, tapi teman istimewa sesama kultivator, atau teman sesama dalam perjalanan menuju realisasi diri atau teman dalam Tao. Itulah kata kunci untuk mewujudkan kebahagiaan dalam skala yang tak terbatas pada diri pribadi tapi membuat jejaring pertemanan untuk mewujudkan masyarakat bahagia.

Untuk membuat ekosistem kebahagiaan yang lebih luas, harus berkolaborasi dengan lebih banyak orang. Itulah kebahagiaan ala Konfusius. Seseorang tidak bisa memisahkan diri dari masyarakat. Meminjam istilah sekarang bahwa sebaik-baiknya seseorang adalah yang paling bermanfaat bagi masyarakatnya.

Kebahagiaan dan Kemanusiaan

“Sang guru berkata bahwa orang yang tidak memiliki sifat Ren tidak dapat menangani kesulitan dalam waktu yang lama atau mengalami kebahagiaan jangka panjang. Orang-orang dengan sifat Ren merasa nyaman dalam kemanusiaan. Orang-orang yang belajar mendapat manfaat dari Ren.”

Gagasan Konfusius tentang kemanusiaan (ren) adalah tentang mencoba menempatkan diri Anda pada posisi orang lain dan bertindak berdasarkan perasaan itu dengan penekanan pada tindakan sehingga lebih dari sekadar simpati, tapi tindakan yang menyebabkan kebahagiaan jangka panjang. Ikatan mendalam yang sering dihasilkan dari praktik kebaikan merupakan sumber kenyamanan dan stabilitas yang luar biasa.

Ini bisa diintepretasikan bahwa orang yang bijak bukanlah mereka dilatih untuk menjadi pembicara kebajikan atau orang yang bahkan menghasilkan uang darinya tapi orang yang membuktikan dengan tindakan.

Kebahagiaan dan kehidupan yang bermakna bisa terwujud dengan cara yang dibilang sederhana. Seperti yang diungkapkan dalam Analek “Sang Guru berkata, Untuk makan sayuran kasar, minum air, dan menekuk siku untuk tidur– kegembiraan juga ada di dalamnya. Kekayaan dan peringkat tinggi yang diperoleh dengan cara yang tidak benar bagiku seperti awan yang mengambang.”

Dalam perjalanan hidup Konfusius demi menyebarkan kebijaksanaannya, Beliau pernah menghabiskan 12 tahun di jalan yang sangat berbahaya memohon kepada para pemimpin Tiongkok yang kejam dan apatis untuk mendasarkan pemerintahan mereka pada kemanusiaan dan

kesopanan tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan Konfusius sering menghabiskan malam di jalan tanpa apa-apa. Kenyataan hidup berupa kemiskinan dan penolakan yang ia hadapi seperti digambarkan sebagai ‘Untuk makan sayuran kasar, minum air, dan menekuk siku untuk tidur’ yang menghalangi Konfusius untuk bahagia. Dalam bahasa psikolog Martin Seligman, Konfusius telah menemukan kehidupan yang bermakna, tahap ketiga dari kebahagiaan.

Konfusius di masanya banyak dipandang sebagai pembuat onar tetapi tidak seperti Socrates. Dia lebih merupakan pelatih kepemimpinan daripada seorang filsuf yang melatih sekelompok ‘radikal’ demi misinya menyelamatkan Tiongkok dari kehancuran. Situasi pada waktu itu diwarnai perpecahan dan peperangan yang mengakibatkan kekacauan sosial dan politik. Konfusius bersikeras untuk mengubah dunia, dengan jalan seseorang harus mengubah dirinya terlebih dahulu. Kepemimpinan transformatif berdasarkan teladan pribadi adalah perekat yang akan menjaga negara bagian pusat dari kehancuran total dan memulihkan perdamaian di kekaisaran. Di masanya ajarannya tidak digunakan, tapi tiga ratus sesudahnya menjadi ajaran yang dipedomani. Sang Guru berkata: Ketika seseorang memerintah dengan kebajikan, ia seperti Bintang Utara – ia berdiam di tempatnya dan bintang-bintang lain menghormatinya.

Kebahagiaan dan Pendidikan

“Guru berkata ‘Mengetahui itu tidak sebaik menyukainya. Menyukainya tidak sebaik menikmatinya’.”

Dari periskop ini pembelajaran sejati memiliki tiga tahap. Tahap satu adalah tentang mengetahui secara intelektual sesuatu yang seringkali tidak menggerakkan Anda. Anda menghafalnya selama satu atau dua hari mengambil sertifikat atau kredit terakhir dan kemudian Anda melupakannya. Tahap pembelajaran kedua adalah tentang menaruh minat pada apa yang Anda pelajari. Anda mulai menyukainya dan itu mulai menjadi bagian dari diri Anda. Tahap ketiga yang disebut Konfusius sebagai kegembiraan di dalamnya adalah tahap Eureka Anda. Seperti yang terjadi pada Archimedes dari Yunani yang ditanyai oleh raja apakah mahkotanya terbuat dari emas murni atau tidak. Archimedes tidak tahu bagaimana mengetahuinya sampai suatu hari ketika dia sedang mandi dia tiba-tiba menyadari bagaimana dia bisa menemukan jawabannya. Terinspirasi apa yang terjadi di bak mandinya yang banyak disebut sebagai momen Eureka di mana ia melompat keluar kegirangan tanpa menyari bahwa ia masih belum berbusana. Dan hukum Archimides ditemukan. Inilah pengetahuan otentik.

Ajaran Konfusius punya relevansi sekaligus kontribusi tersendiri dalam ilmu kebahagiaan (science of happiness), terutama berkaitan tentang dampak persahabatan (dalam ungkapan Analek ‘teman dari jauh dalam Tao) terhadap kebahagiaan seseorang. Sebuah studi menemukan dampak persahabatan terhadap kebahagiaan, yaitu studi Harvard yang dipimpin oleh Robert Waldinger yang melacak kesejahteraan 268 mahasiswa tahun kedua. Selama lebih dari 80 tahun salah satu penemuan kunci adalah dampak dari hubungan dekat pada kesejahteraan baik kesejahteraan psikologis dan fisik terutama dalam hubungan dengan keluarga dan teman. Ungkapan Konfusius yang kita baca sebelumnya tentang persahabatan dan Tao menyiratkan bahwa persahabatan diperkuat oleh tujuan bersama dan bermakna. Makna dan kesejahteraan yang berbicara secara ilmiah sekarang menjadi topik besar yang menarik.

Dan Konfusius telah membuktikan dengan kisah hidupnya yang mana di tengah penolakan dan kemiskinan, Konfusius mengalami rasa damai dan kebahagiaan yang mendalam. Dia memiliki misi tidak peduli berapa banyak pemimpin yang mengabaikannya dan berapa malam dia harus begadang mengajar siswa yang tidak tahu apa-apa tentang kekuatan kemanusiaan yang dijalankan, dia tidak akan menyerah. Martin Seligman pelopor psikologi positif berbicara tentang tiga dimensi kebahagiaan; hidup yang menyenangkan, hidup yang baik dan hidup yang bermakna.

Sang Guru berkata.‘Ketika saya berusia lima belas tahun, saya bertekad untuk belajar. Pada usia tiga puluh saya mengambil pendirian saya. Pada usia empat puluh saya tanpa kebingungan. Pada usia lima puluh saya tahu perintah Tian. Pada usia enam puluh saya mendengarnya dengan telinga yang patuh. Pada usia tujuh puluh saya mengikuti keinginan hati saya dan tidak melewati batas.’

*) Artikel pernah dimuat di Koran Epochtimes Indonesia edisi 797

www.epochtimesindonesia.com