Membaca Motif Trump Menarik Diri dari Badan PBB
Membaca Strategi-Strategi Trump

Wan Jaya
Banyak yang bilang dunia ini seperti lautan yang luas. Kadang tenang, kadang berombak, tapi yang pasti, setiap negara adalah perahu yang berlayar di sana. Jika kita menyimak kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump, kita bisa melihat dia seperti nakhoda yang memutuskan untuk mengubah arah perahunya dengan berani. Perubahan itu pun sangat jelas terlihat ketika Trump menarik Amerika Serikat dari berbagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ada alasan yang dalam di balik keputusan ini—sebuah keputusan yang bisa diibaratkan seperti seseorang yang memilih untuk keluar dari kerumunan dalam sebuah pesta yang sudah tidak nyaman lagi. Lantas, apa yang mendorong Trump untuk mengambil langkah kontroversial ini?
PBB, sebagai sebuah institusi internasional, memang memiliki tujuan mulia untuk menjaga perdamaian, memajukan hak asasi manusia, dan memfasilitasi kerjasama internasional. Namun, tidak semua negara melihat PBB seperti itu. Trump adalah salah satu yang skeptis terhadap keberlanjutan dan tujuan dasar PBB. Bagi Trump, PBB bukan lagi sebuah organisasi yang berdiri di atas prinsip yang netral dan adil, melainkan semakin dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan tertentu yang sering kali bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat. Itu sebabnya, Trump memutuskan untuk menarik Amerika Serikat dari beberapa badan PBB, mulai dari WHO hingga Dewan Hak Asasi Manusia, karena dianggap sudah terlalu jauh dari nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh negara adikuasa itu.
PBB yang Tidak Lagi Netral: Suara Tertelan Arus
Bayangkan PBB itu seperti sebuah kapal besar yang melaju di tengah lautan internasional. Kapal ini harusnya bisa melaju dengan stabil, menjaga keseimbangan di antara berbagai kepentingan dunia, tapi kapal itu malah mulai terombang-ambing oleh arus politik yang diciptakan oleh negara-negara tertentu. Dan yang membuat Trump marah, Amerika Serikat yang sudah menjadi penyumbang dana terbesar, malah merasa kapal itu lebih sering dipengaruhi oleh negara-negara yang tidak berpihak pada kepentingannya. Negara-negara seperti China, misalnya, yang bukan hanya menjadi kekuatan ekonomi besar, tetapi juga mulai mengendalikan beberapa badan internasional penting di bawah PBB.
Trump melihat hal ini sebagai tanda bahwa PBB mulai kehilangan arah. PBB, yang mestinya menjadi suara adil bagi seluruh dunia, kini lebih mirip dengan pasar bebas tempat negara-negara besar saling berjualan pengaruh. Dan, di pasar ini, China telah memainkan peran besar dengan menyusupkan pengaruhnya ke dalam struktur tubuh PBB. Sebuah pencapaian besar bagi China yang tahu betul bagaimana menggerakkan dadu di meja perundingan internasional. Pada saat yang sama, Amerika Serikat, meskipun menjadi donor utama, justru merasa suaranya tidak didengar.
Untuk Trump, langkah yang paling bijak adalah menarik diri dari badan-badan ini—seperti menarik jangkar dari perahu yang mulai terhanyut arus. Ini bukan sekadar soal menghentikan kontribusi finansial, tapi tentang mengembalikan kontrol atas kebijakan luar negeri negara tersebut. Baginya, lebih baik berlayar sendirian daripada terombang-ambing dalam kapal yang sudah dipengaruhi oleh tangan-tangan yang tidak bisa dipercaya.
Menjaga Kedaulatan, Menghindari Ketergantungan
Ada sebuah metafora yang tepat untuk menggambarkan posisi Amerika Serikat dalam PBB. Amerika Serikat adalah sebuah raksasa di dunia ini—sama halnya dengan sebuah pohon raksasa di tengah hutan yang menguasai semua cahaya matahari. Pohon ini menyediakan banyak manfaat bagi hutan sekitar, memberi tempat berlindung dan memberi kehidupan. Namun, dengan kekuatannya itu, pohon ini juga bisa menjadi target bagi mereka yang ingin merusak keseimbangannya.
Dengan menarik diri dari PBB, Trump ingin memastikan agar Amerika Serikat tidak menjadi pohon yang terus menjadi sasaran bagi semua pihak yang berkepentingan. Trump ingin Amerika Serikat kembali ke jalan yang lebih mandiri, tanpa terus-menerus bergantung pada badan-badan internasional yang mungkin sudah tidak lagi berpihak pada negara tersebut. Keputusan ini lebih pada pengembalian kedaulatan. Ketergantungan pada PBB, yang selama ini seperti rantai yang mengikat kaki Amerika, harus dihentikan. Dengan cara ini, Amerika Serikat bisa mengatur langkahnya sendiri tanpa perlu khawatir akan diganggu oleh kebijakan-kebijakan yang tidak jelas atau justru merugikan.
Kebijakan luar negeri Trump mengedepankan prinsip America First. Itu adalah cermin dari keinginannya untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai negara yang tidak tergantung pada negara atau lembaga manapun. Sebagai negara yang kuat dan memiliki pengaruh besar di dunia, Amerika Serikat memiliki hak untuk menentukan arah perahunya sendiri, tanpa terpengaruh oleh arus global yang tidak sesuai dengan kepentingannya.
Badan PBB yang "Dikooptasi" oleh Kekuatan Lain
Salah satu alasan utama Trump menarik diri dari PBB adalah karena ia melihat bahwa badan-badan ini sudah "dikooptasi" oleh negara-negara dengan agenda yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang diyakini oleh Amerika Serikat. Salah satu contoh yang paling jelas adalah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang di bawah kepemimpinan Tedros Adhanom Ghebreyesus, dianggap sangat tunduk pada pengaruh China. Pada saat pandemi COVID-19 merebak, Trump melihat bahwa WHO gagal memberikan respons yang cepat dan transparan mengenai asal-usul virus dan cara penanggulangannya. Menurutnya, WHO lebih mengutamakan hubungan dengan China ketimbang kepentingan dunia.
Jika kita ibaratkan WHO dan badan-badan lainnya di PBB sebagai sebuah jembatan yang menghubungkan berbagai negara, maka jembatan itu sudah mulai retak. Retaknya jembatan ini terjadi karena kepentingan beberapa negara mulai mengambil alih fungsi sebenarnya, menjadikan jembatan itu lebih sebagai alat untuk memperjuangkan agenda tertentu, bukannya tempat bertemunya kepentingan dunia yang adil. Trump, sebagai seorang pengusaha yang selalu berpikir pragmatis, tidak ingin berlayar melewati jembatan yang sudah rapuh seperti itu. Baginya, keluar dari PBB adalah cara untuk menjaga agar kapal Amerika tetap kokoh di lautan internasional yang penuh tantangan ini.
Melawan Pengaruh Luar yang Mengancam Kedaulatan
Kebijakan Trump ini sebenarnya adalah semacam alarm bagi dunia bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah diam jika kedaulatannya terancam. Dalam dunia internasional, jika kita ibaratkan sebagai pertarungan dalam ring tinju, Amerika Serikat adalah petinju yang sudah lama mendominasi. Namun, belakangan ini, petinju tersebut merasa dihakimi oleh wasit yang tidak lagi objektif, dan ditantang oleh pesaing-pesaing yang lebih lihai memanipulasi aturan. Dengan menarik diri dari badan PBB, Trump ingin memastikan bahwa Amerika Serikat akan tetap memegang kendali atas takdirnya sendiri, tanpa dibebani oleh keputusan-keputusan yang dibuat oleh negara-negara yang tidak punya kepentingan pada kesejahteraan Amerika.
Penutup: Kembalinya Kedaulatan di Lautan Internasional
Langkah Trump menarik diri dari badan PBB bukan hanya soal menarik perhatian dunia atau soal politik domestik. Ini adalah upaya strategis untuk menjaga agar Amerika Serikat tetap menjadi negara yang berdiri tegak, tidak terpengaruh oleh arus global yang bisa mengarah ke jurang. Keputusan ini adalah pernyataan tegas bahwa Amerika Serikat akan terus berlayar sesuai dengan rencana dan tidak akan terombang-ambing oleh perubahan arus yang datang dari luar. Dalam politik internasional, ini adalah langkah berani yang mengingatkan dunia bahwa kadang, lebih baik berjalan sendiri daripada mengikuti kerumunan yang sudah terlanjur dibawa arus.


Comments