6 Oktober 2026 Perang Yaman kembali memasuki fase yang sangat menentukan. Setelah ketegangan meningkat selama beberapa pekan dan kelompok Houthi memperluas tekanan militernya di sejumlah front strategis, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional akhirnya mengumumkan dimulainya operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang berada di bawah kendali Houthi. Pada Minggu, 4 Oktober 2026, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Rashad al-Alimi, mengumumkan dimulainya operasi tersebut melalui pidato yang disiarkan televisi. Al-Alimi mengatakan pemerintah telah memasuki fase baru untuk mengembalikan kendali negara atas wilayah Yaman. Menurut Al-Alimi, seluruh peluang untuk meredakan ketegangan dan menyelesaikan konflik melalui jalur damai telah semakin menyempit. Karena itu, angkatan bersenjata, aparat keamanan, serta berbagai formasi militer yang berada di bawah pemerintahan Yaman diperintahkan menjalankan operasi berdasarkan rencana yang telah disiapkan. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Arab Saudi, yang selama ini menjadi pendukung utama pemerintah Yaman, sekaligus menyerukan kepada mitra regional dan internasional agar mendukung upaya memulihkan lembaga-lembaga negara. Dengan pengumuman tersebut, eskalasi di Yaman kini tidak lagi sekadar berupa ancaman ataupun bentrokan lokal. Konflik telah berkembang menjadi operasi militer yang lebih luas, dengan salah satu pusat pertempuran terpenting berada di kawasan Bab el-Mandeb. Selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden itu mempunyai arti strategis jauh melampaui Yaman. Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran penting dunia. Karena itu, perubahan kendali militer di sepanjang pesisirnya berpotensi memengaruhi keamanan perdagangan internasional, pengiriman energi, serta stabilitas kawasan Laut Merah. Reuters sebelumnya melaporkan pada 2 Oktober 2026 bahwa Arab Saudi dan pasukan pemerintah Yaman telah mempersiapkan operasi besar tersebut selama beberapa pekan. Salah satu opsi adalah operasi terfokus untuk merebut kembali kawasan pesisir yang mengendalikan Bab el-Mandeb. Namun, terdapat pula skenario yang lebih luas berupa serangan melalui beberapa front. Kekuatan darat Yaman yang dapat dikerahkan dalam operasi itu diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 personel.
On October 4, 2026, the internationally recognized government of Yemen launched a massive military operation to reclaim territories from Houthi control. Supported by Saudi Arabia and US intelligence, the offensive focuses on strategic areas, particularly the Bab el-Mandeb strait, marking a critical escalation in the conflict to restore state control and secure global trade routes.
Salam Pemirsa, 6 Oktober 2026, Perang Yaman kembali memasuki fase yang sangat menentukan.
Setelah ketegangan meningkat selama beberapa pekan dan kelompok hauti memperluas tekanan militernya di sejumlah front strategis,
pemerintah Yaman yang diakui secara internasional akhirnya mengumumkan dimulainya operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang berada di bawah kendali hauti.
Pada Minggu 4 Oktober 2026, Ketua Dewan Kemimpinan Presiden Yaman sekaligus Pengelima Tertinggi Angkatan Bersenjata
Rasad Al-Alimi mengumumkan dimulainya operasi tersebut melalui pidato yang disiarkan televisi.
Al-Alimi mengatakan pemerintah telah memasuki fase baru untuk mengembalikan kendali negara atas wilayah Yaman.
Menurut Al-Alimi, seluruh peluang untuk meredakan ketegangan dan menyelesaikan konflik melalui jalur damai telah semakin menyempit.
Karena itu, Angkatan Bersenjata, Aparat Keamanan, serta berbagai formasi militer yang berada di bawah pemerintahan Yaman
diperintahkan menjalankan operasi berdasarkan rencana yang telah disiapkan.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Arab Saudi yang selama ini menjadi pendukung utama pemerintah Yaman
sekaligus menyuruhkan kepada mitra regional dan internasional agar mendukung upaya memulihkan lembaga-lembaga negara.
Dengan pengumuman tersebut, eskalasi di Yaman kini tidak lagi sekadar berupa ancaman ataupun bentrokan lokal.
Konflik telah berkembang menjadi operasi militer yang lebih luas dengan salah satu pusat pertempuran terpenting berada di kawasan Bab el-Mandab.
Salat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden itu mempunyai arti strategis jauh melampaui Yaman.
Bab el-Mandab merupakan salah satu jalur pelayaran penting dunia.
Karena itu, perubahan kendali militer di sepanjang pesisirnya berpotensi mengaruhi keamanan perdagangan internasional,
pengiriman energi, serta stabilitas kawasan Laut Merah.
Reuters sebelumnya melaporkan pada 2 Oktober 2026 bahwa Arab Saudi dan pasukan pemerintah Yaman
telah mempersiapkan operasi besar tersebut selama beberapa pekan.
Salah satu opsi adalah operasi terfokus untuk merebut kembali kawasan pesisir yang mengendalikan Bab el-Mandab.
Namun terdapat pula skenario yang lebih luas berupa serangan melalui beberapa front.
Kekuatan darat Yaman yang dapat dikerahkan dalam operasi itu diperkirakan mencapai lebih dari 100 ribu personel.
Perkembangan di lapangan kemudian bergerak sangat cepat.
Pada 5 Oktober 2026, militer Yaman mengumumkan telah melaksanakan 1.122 operasi penargetan terhadap posisi Houthi di Saada,
Al-Jaf, Taiz, serta kawasan pesisir barat.
Sasaran yang disebutkan mencakup posisi artileri dan peluncur roket, benteng pertahanan, jalur pasokan,
konsentrasi pasukan hingga pusat komando dan kendali.
Jurubicara militer Yaman, Majid Abdullah Al-Nuzaili, mengatakan operasi tersebut melibatkan pesawat tempur,
drone, artileri, rudal, peluncur roket serta penembak J2.
Menurut klaim pemerintah, operasi itu telah menetralisasi 1.747 anggota Houthi
serta menghancurkan atau melumpuhkan 364 kendaraan, perlengkapan militer dan sarana logistik.
Angkat tersebut merupakan klaim militer Yaman dan belum seluruhnya dapat diferifikasi secara independen.
Pertempuran darat juga berlangsung sengit.
Dalam bendrokan di Taiz dan Laij selama periode 24 jam hingga 4 Oktober,
sumber dari kedua pihak yang dikutip media melaporkan sedikitnya 73 kombatan tewas.
Sebanyak 34 korban berasal dari pasukan pemerintah, sementara 39 lainnya berasal dari pihak Houthi.
Situasi menjadi semakin berbahaya karena Houthi tidak hanya bertahan di wilayah Yaman.
Kelompok tersebut juga melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan tron ke wilayah Arab Saudi.
Houthi mengklaim telah menargetkan fasilitas minyak Saudi Aramco, termasuk sasaran Diriyat dan Quraish.
Klaim mengenai serang terhadap infrastruktur minyak tersebut muncul ketika Arab Saudi meningkatkan serangan udaranya untuk mendukung pasukan pemerintah Yaman.
Dengan demikian, konflik ini berkembang dalam dua arah sekaligus.
Pasukan pemerintah berusaha menekan posisi Houthi di Yaman,
sementara Houthi berupaya meningkatkan biaya perang bagi Riyadh dengan menyerang sasaran di wilayah Arab Saudi.
Dukungan udara Arab Saudi juga meningkat secara signifikan.
Dalam perkembangan pada 5 Oktober,
koalisi pimpinan Saudi dilaporkan mengerahkan sekitar 100 pesawat tempur dalam kampanye udara untuk mendukung operasi darat Yaman.
Namun satu pertanyaan penting kemudian muncul, sejauh mana Amerika Serikat akan terlibat?
Menurut laporan Axios pada 2 Oktober 2026,
Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman menghubungi Menteri Pertahanan AS Pete Hegzat pada 1 Oktober.
Dalam pembicaraan tersebut, Riyadh kembali meminta Washington melakukan serangan udara langsung terhadap sasaran Houthi.
Untuk sementara, Amerika Serikat menolak terlibat dalam serangan langsung.
Seorang pejabat AS mengatakan Washington belum akan mengambil tindakan militer kinetik,
namun Amerika tetap memberikan dukungan penting bagi intelijen dan data penentuan sasaran.
Bahkan menurut pejabat AS yang dikutip Axios,
dalam 2 pekan sebelumnya militer Amerika telah memberikan informasi mengenai lebih dari 200 sasaran Houthi kepada pihak Saudi.
Sikap tersebut memperlihatkan dirma Washington.
Amerika Serikat berkepentingan mencegah Houthi menguasai kawasan strategis Bab el-Mandeb,
tetapi pada saat bersamaan,
tidak ingin terseret lebih dalam ke medan perang baru ketika ketegangan dengan Iran juga belum sepenuhnya meredah.
Sementara itu, keterlibatan negara lain perlu dilihat secara hati-hati.
Realitas melaporkan bahwa Pakistan dan Turki memberikan dukungan dalam bentuk perlengkapan militer dan penasehat dalam persiapan operasi,
tetapi pada tahap tersebut mereka tidak diperkirakan ikut dalam pertempuran langsung di Yemen.
Di tengah operasi militer besar ini, korban kemanusiaan terus bertambah.
Data terbaru yang dikutip Asociated Press menyebut eskalasi pertempuran sejak pertengahan 2026
telah menyebabkan sedikitnya 959 orang tewas, lebih dari 4.200 orang terluka,
dan lebih dari 174.000 orang mengungsi.
Angka korban tersebut tidak selalu dapat memisahkan secara jelas antara kombatan dan warga sipil,
sementara fasilitas kesehatan di sejumlah kawasan terdampak juga menghadapi tekanan berat.
Kini, pusat perhatian tertuju pada Bab el-Mandeb dan pesisir barat Yemen.
Bagi pemerintah Yemen dan Arab Saudi,
keberhasilan merebut kembali kawasan tersebut bukan hanya persoalan memenangkan wilayah.
Bab el-Mandeb adalah pintu keluar Laut Merah menuju Teluk Aden dan Semudra Hindia.
Siapapun yang mempunyai kemampuan militer di kawasan ini,
memiliki posisi strategis terhadap salah satu jelur perdagangan paling penting di dunia.
Karena itulah pertempuran yang dimulai pada awal Oktober 2026
dapat menjadi salah satu titik balik terbesar dalam perang Yemen selama beberapa tahun terakhir.
Jika pasukan pemerintah berhasil mempertahankan momentum dan mendorong Houthi menjauh dari Bab el-Mandeb,
keseimbangan kekuatan di Yemen dapat berubah secara signifikan.
Namun apabila operasi tersebut terhambat,
perang justru berisiko berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Terutama apabila Houthi meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi
dan Washington akhirnya memutuskan untuk terlibat secara langsung.
Dengan lebih dari 100 ribu personal yang berpotensi dikerahkan,
dukungan udara bersekala besar dari Arab Saudi,
bantuan intelijen Amerika Serikat serta kemampuan rudal dan drone Houthi yang masih menjadi ancaman serius,
pertempuran ini kini bukan hanya menentukan masa depan Yemen.
Pertarungan di Bab el-Mandeb juga dapat menentukan siapa yang memegang kendali
atas salah satu jalur laut paling strategis di dunia.
Cukup sekian dulu, terima kasih atas perhatiannya.