BAHAYA HYPER-PARENTING: SAAT AMBISI ORANG TUA MENJADI BEBAN ANAK

Bahtera by NTD Kehidupan
645 pengikut
278 Tayangan video·7 Feb 2026
Selamat datang kembali.
Coba deh anda pikir-pikir.
Pernah nggak sih merasa khawatir
atau mungkin cemas
lihat tuntutan akademis buat anak-anak sekarang?
Hmm hmm.
Rasanya tuh seolah-olah masa depan mereka dipertaruhkan
cuma sama deretan angka di rapor.
Dan itu bukan cuma perasaan lho.
Itu realitas yang dirasakan banyak keluarga.
Kak Seto dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia
juga pernah menyoroti ini.
Oh ya?
Iya.
Beliau bilang banyak banget masalah anak-anak.
Mulai dari stres, cemas, sampai isu kesehatan mental,
akarnya itu justru dari pola asuh.
Dari rumah ya berarti?
Betul.
Dan yang menarik,
ini tuh bukan masalah kelopop ekonomi tertentu aja.
Ini terjadi di semua lapisan.
Mau keluarga sederhana,
mau yang paling kaya sekalipun.
Wah berarti ini masalah yang lebih sistemik ya.
Bukan cuma soal satu dua keluarga.
Nah karena itulah,
kali ini kita mau kupastuntas sebuah fenomena
yang namanya hyper parenting.
Hmm istilah yang menarik.
Kita akan coba bedah
apa sih ambisi orang tua yang kadang kebablasan itu,
gimana dampaknya ke anak,
ciri-cirinya apa,
dan yang paling penting,
kita cari jalan keluarnya.
Biar kita bisa dukung anak tumbuh optimal
tanpa membebani jiwa mereka.
Setuju.
Kita mulai dari mana nih?
Oke, kita mulai dari istilahnya dulu ya.
Hyper parenting.
Dari namanya aja udah kedengeran.
Intens.
Betul.
Ini pada dasarnya gaya pengasuhan yang
bisa dibilang terlalu terobsesi sama keberhasilan anak.
Terutama di bidang akademik ya.
Nah itu dia.
Bedanya sama perhatian biasa,
ini udah masuk kerana obsesi.
Tepat.
Dan obsesi itu seringkali muncul dalam bentuk target-target yang
terus terang aja,
gak realistis.
Disitulah letak masalah utamanya.
Nah ini dia.
Eli Risman, seorang psikolog,
punya contoh yang gamblang banget
dan mungkin agak menusuk buat sebagian kita.
Oh iya? Seperti apa?
Extreme.
Nilai 8,9.
Jangan harap bisa masuk lewat pintu depan.
Itu kan bukan lagi motivasi ya?
Itu udah kayak ancaman.
Iya kan?
Dan kalau targetnya setinggi itu,
seringkali di luar jangkauan alamisi anak,
efeknya malah kebalik.
Melang jadi gak termotivasi.
Betul.
Alih-alih terpacu,
anak justru bakal kelelahan.
Tapi ini bukan lelah fisik biasa yang hilang setelah tidur.
Eli Risman pakai istilah yang kuat banget buat ini.
Lelah jiwa.
Lelah jiwa, hmm.
Sebuah kelelahan yang gak kelihatan,
gak bisa diukur pakai termometer,
tapi dampaknya jauh lebih merusak di dalam.
Lelah jiwa istilah itu kuat banget ya?
Ini pasti beda ya sama sekedar capek belajar atau...
Beda sekali.
Atau lelah habis ngerjain PR.
Mungkin ini yang sulit dilihat orang tua.
Kalau anak demam kan jelas gejalannya.
Tapi gimana kita bisa ngenalin tanda-tanda
lelah jiwa ini?
Mungkin kita bisa mulai dari ciri-ciri orang tuanya dulu kali ya?
Poin yang bagus banget.
Memang lebih gampang mengidentifikasi polanya dari luar.
Oke.
Kalau dari sumber UIN Dato' Karama Palu,
ada beberapa ciri yang jelas banget dari hyper parenting.
Pertama, dan ini yang paling umum.
Apa tuh?
Keberhasilan anak itu,
cuma diukur dari prestasi akademik.
Angka dirapor, jadi satu-satunya dewa.
Oh, jadi kalau anak jago bergaul, kreatif,
tapi nilai matematikanya 7,
itu udah dianggap gagal total gitu ya?
Tepat sekali.
Logikanya sesempit itu.
Ciri kedua,
kecemasan yang berlebihan terhadap masa depan anak.
Hmm, cemas gimana tuh?
Ada ketakutan konstan kalau anaknya
nggak akan bisa lulus dari serangkaian tes.
Mulai dari tes masuk playgroup,
sampai nanti masuk universitas.
Semuanya dilihat kayak gerbang hidup atau mati.
Dan kecemasan orang tua itu pasti nular ke anaknya kan?
Tentu saja.
Lalu ciri ketiga,
nah ini mungkin racun yang paling sering kita temui.
Apa tuh?
Selalu membanding-bandingkan anak dengan anak lain.
Ah, iya.
Lihat tuh si A.
Nah, persis.
Lihat tuh, si A bisa juara Olimpiada, kok kamu nggak?
Atau anak tetangga pianonya udah jago?
Kalimat-kalimat ini bikin orang tua gampang kecewa
dan anak merasa dirinya...
Selalu kurang.
Selalu kurang dan nggak berharga.
Dan racun perbandingan ini kayaknya makin parah ya di era media sosial.
Oh, jelas.
Di mana pencapaian anak tetangga itu nggak cuma kedengeran dari obrolan,
tapi terpampang nyata di setiap lini masa,
lengkap dengan piala dan sertifikatnya.
Tekanannya jadi berlipat ganda.
Anda menangkap esensinya.
Tekanannya jadi berlipat ganda.
Ini membawa kita ke ciri keempat,
memaksakan kegiatan tanpa mempertimbangkan minat anak.
Nah, ini juga sering nih.
Eli Risman punya cerita soal anak yang dipaksa les piano enam tahun,
padahal nggak berbakat sama sekali.
Kenapa?
Ternyata karena dulu ibunya punya impian terpendam jadi pianis.
Wah, jadi itu proyeksi ambisi pribadi namanya,
bukan buat anaknya.
Persis.
Ada juga contoh lain yang lebih ekstrim.
Anak yang diikutkan tujuh jenis les dalam seminggu.
Tunggu-tunggu, tujuh les?
Iya, tujuh.
Mulai dari pacuan kuda, berenang, catur, sampai coding.
Saya cukup bayangin jadwalnya aja udah pusing.
Pacuan kuda, berenang, itu bukan lagi jadwal anak-anak.
Itu udah kayak jadwal atlet profesional yang mau ikut olimpiade.
Apa sih yang dicari orang tua dengan jadwal sepadat itu?
Pertanyaan yang valid banget.
Dan ini nyambung ke ciri terakhir yang juga penting,
kecenderungan menyalahkan pihak luar,
terutama guru, kalau anak nggak berhasil.
Oh, cari kambing hitam?
Selalu.
Ini pasti gurunya nggak bisa ngajar,
atau soal ujian yang terlalu susah.
Padahal, seringkali tekanan dari rumahlah yang bikin anak nggak bisa belajar optimal.
Mendengar ciri-cirinya, saya jadi penasaran.
Akarnya apa sih?
Niat orang tua kan pasti baik, ya?
Pasti baik.
Mereka ingin yang terbaik buat anaknya.
Jadi, di mana letak belokannya sampai niat baik itu berubah jadi tekanan yang menyiksa?
Tentu.
Niatnya selalu baik.
Nggak ada orang tua yang sengaja mau nyakitin anaknya.
Salah satu pendorong utamanya,
itu keinginan untuk menjadikan anak mereka super kids atau sang juara.
Ada keyakinan kalau anak harus disiapin sejak dini
buat selalu menang dalam kompetisi kehidupan yang keras.
Dan definisi sukses dalam kompetisi itu jadi sempit banget, ya?
Sangat sempit.
Motivasi utamanya seringkali karena masyarakat dan sistem pendidikan kita sendiri
sangat mengaitkan kata sukses dengan angka.
Seluruh sistem, dari tes masuk TK sampai seleksi kerja,
kan pakai parameter angka.
Ini secara alami bikin orang tua khawatir,
takut anaknya nggak akan lolos, takut ketinggalan.
Lalu ada faktor ambisi pribadi yang tadi kita singgung,
yang belum kesampaian, kayak kasus lesbiano itu.
Benar.
Orang tua seringkali tanpa sadar ya,
memanipulasi pengembangan kemampuan anak
buat memenuhi keinginan mereka sendiri.
Ini bukan lagi mendukung, tapi memproyeksikan ego.
Selain itu,
ada juga semacam rasa bangga yang semu.
Mendaftarkan anak ke berbagai les privat yang mahal,
itu seolah-olah jadi bukti nyata perhatian dan status sosial.
Padahal,
padahal yang dibutuhkan anak mungkin cuma waktu main.
Tepat.
Waktu berkualitas bareng,
atau sekedar waktu luang buat main tanpa tujuan.
Ada satu lagi pantangan keliru yang disebut dalam sumber kita.
Setiap anak, bila diajari pasti bisa.
Ini kedengarannya positif, tapi kayaknya bahaya ya?
Sangat berbahaya.
Karena pandangan ini mengabaikan fakta fundamental
kalau setiap anak itu unik.
Betul.
Mereka punya kapasitas, minat, bakat,
kecepatan belajar yang beda-beda.
Memaksakan satu standar untuk semua anak,
itu sama aja kayak maksa ikan buat manjat pohon.
Hasilnya cuma frustrasi.
Jadi kalau semua faktor itu digabung,
definisi sukses yang sempit,
ambisi pribadi,
rasa bangga semu,
dan pandangan keliru,
jadilah resep sempurna buat hyper parenting.
Persis.
Tapi ini bikin saya bertanya-tanya,
di mana sih batasnya?
Antara orang tua yang peduli dan suportif
dengan yang udah masuk zona hyper parenting,
kan bedanya bisa tipis banget?
Pertanyaan yang krusial.
Batasannya memang tipis,
tapi bisa dikenali dari satu hal.
Siapa yang ada di kursi pengemudi?
Maksudnya?
Dalam pola asuh yang suportif,
orang tua itu co-pilot.
Anak yang pegang kemudi, minatnya.
Orang tua kasih peta,
kasih saran rute,
pastiin bensinnya keisi.
Oke.
Tapi, pada hyper parenting,
orang tualah yang rebut kemudi,
nentuin tujuan,
dan maksa anak buat ikut,
gak peduli anaknya suka perjalanannya atau enggak.
Perbedaannya itu ada pada dialog versus dikte.
Gambaran yang jelas banget.
Kalau resep hyper parenting udah terbentuk,
dan orang tua yang rebut kemudi,
apa yang terjadi sama penumpangnya,
yaitu si anak?
Dampaknya pasti lebih dari sekedar stres biasa, kan?
Jauh lebih dari itu.
Tadi kita udah singgung soal lelah jiwa.
Secara psikologis,
anak yang terus-terusan ditekan
akan jadi individu yang stres,
gampang cemas,
dan perfeksionis secara enggak sehat.
Hmm.
Jiwa mereka merasa terkekang,
belajar jadi sesuatu yang enggak nyaman,
mereka jadi gampang putus asa,
dan yang paling parah,
mereka mengembangkan rasa takut yang luar biasa pada kegagalan.
Itu.
Pukulan yang telak sekali.
Dampaknya bukan cuma soal prestasi,
tapi sampai ke inti identitas diri anak.
Perasaan,
enggak pernah cukup baik.
Itu kan fondasi yang rapuh banget ya?
Fondasi yang sangat rapuh.
Dan disinilah ironi terbesarnya.
Niat buat memaksimalkan potensi akademis,
justru jadi bumerang.
Jadi bumerang gimana?
Malah melumpuhkan kemampuan kognitif anak itu sendiri.
Salah satu dampak kognitifnya,
anak malah jadi sulit konsentrasi.
Otak yang terus-terusan stres itu secara harfiah,
enggak punya sumber daya lagi buat menyerap pelajaran baru.
Jadi, makin ditekan buat pinter,
makin susah buat benar-benar belajar.
Tepat.
Belum lagi dampak sosialnya.
Anak-anak ini kehilangan waktu emas mereka
buat sekedar jadi anak-anak.
Waktunya habis buat pindah dari satu bimbel ke kursus lain.
Betul.
Dan itu kerugian yang besar banget.
Karena justru dari bermain itu,
anak belajar banyak keterampilan sosial
yang krusial buat masa depan.
Seperti apa contohnya?
Kayak yang disinggung di sumber kita,
saat main sama teman,
anak belajar negosiasi,
kerjasama,
sportivitas,
gimana caranya nerima kekalahan,
dan yang terpenting,
mengelola emosi mereka
saat ada konflik.
Keterampilan hidup ini
gak diajarin di tempat kelas manapun.
Oke, pembahasannya cukup berat ya.
Kita udah tahu masalahnya,
akarnya,
dan dampaknya yang ternyata dalam banget.
Sekarang,
bagian paling penting,
solusinya.
Gimana cara memperbaikinya?
Tentu.
Kunci utamanya mungkin bisa kita pinjam
dari kutipan Eli Risman.
Hargai keunikannya,
dukung minatnya.
Sesederhana itu kalimatnya,
tapi...
Nah, itu dia.
Mari kita coba pecah jadi langkah-langkah
yang lebih konkret,
apa yang bisa dilakukan orang tua
yang mungkin setelah dengar ini merasa,
wah, jangan-jangan saya udah masuk zona
hyper-parenting.
Mulainya dari mana?
Langkah pertama dan paling fundamental adalah
membangun kembali komunikasi
dan dialog yang tulus.
Bukan sekedar nanya PR ya?
Betul.
Bukan cuma nanya,
PR-nya udah selesai?
Atau, les hari ini gimana?
Ini tentang jadi pendengar yang baik
buat bener-bener tahu apa keinginan,
ketakutan, dan impian anak.
Komunikasi dua arah.
Dalam hal ini,
Eli Risman menyarankan gaya pengasuhan
yang disebut authoritative parenting.
Boleh punya target tinggi,
tapi targetnya didiskusikan bareng.
Tepat sekali.
Contoh yang beliau berikan kuat banget.
Karena suaminya pegawai negeri,
anak-anaknya dikasih pemahaman dari awal.
Ayah dan ibu
ingin sekali kamu bisa masuk sekolah negeri
karena biayanya lebih terjangkau.
Oke, jadi jujur soal kondisi.
Jujur.
Kalau kamu mau masuk sekolah swasta,
maaf, ayah tidak sanggup.
Kecuali kamu mau ayah korupsi.
Ini kan pemaparan fakta yang jujur.
Dan setelah itu ada bagian kuncinya kan?
Betul.
Setelah memaparkan kondisi,
pertanyaannya bukanlah
kamu harus belajar lebih giat,
tapi sekarang,
apa yang bisa ayah bantu
supaya kamu bisa mencapai target itu bersama-sama?
Wah, pendekatannya beda banget.
Beda sekali.
Itu bukan tekanan,
tapi ajakan buat kolaborasi.
Anak merasa jadi bagian dari tim,
bukan target dari sebuah perintah.
Oke.
Langkah kedua setelah komunikasi terbangun,
apa lagi?
Batasi aktivitas yang berlebihan.
Ini butuh keberanian dari orang tua.
Coba deh duduk dan lihat lagi jadwal Mingguan Anak.
Tanyakan ke diri sendiri dan ke anak.
Apa dia masih punya waktu luang buat sekedar bengong?
Apa dia benar-benar suka semua kegiatan itu?
Apa manfaat nyatanya?
Ini pasti sulit,
karena mungkin ada tekanan dari lingkungan juga ya,
takut anak kita dianggap ketinggalan.
Sangat sulit,
tapi harus dilakukan.
Ini membawa kita ke langkah ketiga,
hargai proses dan kesalahan.
Bukan cuma hasilnya.
Betul.
Bantu anak untuk enggak takut salah,
karena itu bagian yang manusiawi banget dari proses belajar.
Tunjukkan cinta dan penghargaan yang enggak bersyarat,
yang enggak tergantung sama angka di rapor.
Ini juga berarti kita sebagai orang tua
harus bisa mengelola kekecewaan kita sendiri
saat anak enggak memenuhi ekspektasi kita ya.
Sangat penting,
langkah keempat adalah memberikan ruang
untuk mandiri dan bermain.
Biarkan anak bikin pilihan-pilihan kecil sesuai minatnya.
Jangan terlalu mencampuri semua urusannya sampai detil,
karena itu justru bisa mematikan kreativitas.
Dan jangan lupa waktu berkualitas.
Nah, itu dia.
Luangkan waktu berkualitas bareng.
Bukan waktu buat ngurusin jatoh akademisnya,
tapi waktu buat benar-benar terhubung sebagai keluarga.
Dan yang terakhir, ini mungkin yang paling menantang.
Ya, yang terakhir adalah mulai dari diri sendiri.
Mengutip Eli Risman lagi,
segala sesuatu bermula dari kita.
Beresin dulu urusan sama diri kita sendiri.
Refleksi diri ya.
Betul.
Orang tua perlu refleksi yang jujur.
Ambisi ini beneran buat anak atau buat nambal ego kita?
Kita cemas karena masa depan anak
atau karena takut dinilih sebagai orang tua yang gagal?
Anak belajar paling banyak dari apa yang mereka lihat,
bukan dari apa yang kita perintahkan.
Jadi kalau saya rangkum,
perubahannya ini mendasar banget ya.
Ini pergeseran dari menuntut jadi mendukung,
dari memaksakan jadi mendiskusikan,
dan dari mengukur anak dengan angka,
jadi menghargai keunikan mereka seutuhnya.
Ini bukan tentang menurunin standar, sama sekali bukan ya?
Bukan.
Tapi tentang menciptakan standar yang lebih sehat
dan lebih manusiawi.
Tepat sekali.
Ini tentang mendefinisikan ulang makna kesuksesan.
Bukan hanya untuk anak kita,
tapi juga untuk keluarga kita.
Perjalanan yang pastinya nggak mudah,
tapi sangat layak diperjuangkan.
Terima kasih untuk pembahasannya yang sangat mencerahkan.
Sama-sama.
Sebagai penutup,
mungkin ada satu pertanyaan yang bisa kita bawa pulang
untuk direnungkan.
Silakan.
Coba deh kita tanyakan pada diri sendiri.
Jika kesuksesan terus kita ukur hanya dari deretan angka dirapor,
keahlian penting apa yang mungkin tanta sadar
sedang kita korbankan dari anak-anak kita.
Bisa jadi, di masa depan yang makin kompleks,
yang paling mereka butuhkan
bukanlah kemampuan menghafal rumus,
melainkan resiliensi untuk bangkit dari kegagalan,
empati untuk bekerja dalam tim,
dan kreativitas untuk memecahkan masalah.
Dan semua itu dipupuk bukan di meja les,
tapi di lapangan bermain
dan dalam percakapan hangat di meja makan rumah kita.
