100 BUKU TIONGKOK MASUK PERPUSNAS, DIPLOMASI LITERASI XINHUA DAN SOFT POWER PKT 🚨 Epoch Weekly Sebanyak 100 buku berbahasa Mandarin dan terjemahan resmi asal Tiongkok diserahkan oleh Kantor Berita Xinhua cabang Asia Pasifik ke Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) di Jakarta. Di balik pertukaran budaya dan literasi ini, tersimpan strategi soft power Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk menanamkan pengaruh ideologis dan memperkuat narasi resmi mereka di Indonesia. Mengapa diplomasi literasi dari media negara asing perlu dicermati secara kritis? Mampukah kita menjaga kedaulatan informasi nasional dari kooptasi propaganda luar negeri? Simak analisis mendalamnya dalam episode Epoch Weekly kali ini! #EpochWeekly#EpochTimesIndonesia#Perpusnas#BukuTiongkok#SoftPower#Xinhua#PartaiKomunisTiongkok#DiplomasiLiterasi#KedaulatanInformasi#BeritaTerbaru#FLKS
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Ringkasan Video
Dibuat oleh AI
This video analyzes a report from The Epoch Times regarding the donation of 100 Chinese books to the National Library of Indonesia (Perpusnas). It argues that this act is not a simple cultural exchange but a strategic move in \"literacy diplomacy\" used by the Chinese Communist Party (CCP) to project soft power and spread specific political ideologies.
Halo, seneng banget bisa ketemu Anda lagi di ulasan kali ini.
Hari ini, kita bakal bedah sebuah laporan dari The Epoch Times yang,
jujur saja, bikin saya langsung mikir keras.
Gini, di permukaan, kita cuma ngeliat
ada acara donasi buku ke perpustakaan.
Keliatannya biasa aja kan?
Tapi, pas kita telusuri lebih jauh materi sumbernya,
wah, ternyata hadiah 100 buku ini punya
makna geopolitik yang jauh lebih dalam.
Kita bakal ngebahas sesuatu yang namanya diplomasi literasi.
Ngeliat gimana Partai Komunis Tiongkok
atau PKT membangun soft power mereka,
dan kenapa ngejaga kedaulatan informasi
nasional kita tuh sekarang jadi super penting.
Yuk, kita mulai.
Oke, sebelum kita melangkah lebih jauh,
coba deh kita tanyain satu hal mendasar ini.
Apakah donasi 100 buku berbahasa Mandarin ini
murni cuma pertukaran budaya yang bersahabat,
atau ada agenda lain yang udah disusun rapi di baliknya?
Maksud saya, gampang banget kan ngeliat tumpukan buku dan mikir,
ah asik dapet buku gratis.
Tapi ingat, di dunia hubungan internasional,
nggak ada yang namanya kebetulan.
Setiap langkah, apalagi yang melibatkan
entitas yang terafiliasi dengan negara,
itu ibarat langkah catur di papan global.
Nah, mari kita lihat titik awalnya.
Kejadiannya itu di tanggal 3 Oktober 2026,
bertempat di Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia atau Perpusnas di Jakarta.
Ada 11 penerbit Tiongkok yang secara resmi
mendonasikan 100 judul buku ke sana.
Tujuannya apa?
Kata mereka sih, pastinya buat memperkaya pengetahuan
dan mempererat ikatan budaya antara Indonesia dan Tiongkok.
Konselor Kebudayaan Kedubes Tiongkok, Wang Siping,
bahkan bilang kalau buku itu alat yang sederhana
tapi bermakna buat bantu masyarakat paham soal Tiongkok.
Kedengerannya manis banget ya.
Tapi analisis dari sumber kita justru ngajak kita buat sedikit kritis
dan ngeliat siapa dalang di balik layar acara ini.
Kalau kita kupas lapisannya,
kita bakal nemuin jaringan yang bener-bener terorganisir.
Ini bukan cuma aksi bagi-bagi buku acak dari penerbit independen
yang lagi baik hati lho.
Laporan ini nunjukin
kalau donasi ini mengungkap sebuah jaringan rapi
yang menghubungkan kantor berita Sinhua,
kedubes Tiongkok,
para penerbit,
institusi budaya,
sampai akhirnya masuk ke perpusnas.
Bahkan,
perpustakaan kita sampai membuka fasilitasnya
buat dipakai sama kedubes Tiongkok
dan komunitas bisnis mereka
buat pameran dan diskusi.
Jadi kelihatan jelas ya,
ini adalah upaya yang sangat terkoordinasi.
Biar kita nyambung sama apa yang sebenarnya lagi terjadi,
kita harus paham satu istilah penting.
Diplomasi literasi.
Coba bayangin buku-buku ini bukan cuma
sekadar tumpukan kertas dan tinta,
tapi semacam kendaraan.
Kendaraan yang didesain secara khusus
buat ngebawa ideologi-ideologi tertentu.
Di ranah hubungan internasional,
buku itu instrumen soft power yang ampuh banget.
Kenapa?
Karena mereka nawarin jalur yang jauh
lebih halus buat ngenalin sejarah, budaya,
dan yang paling krusial, pandangan
politik suatu negara ke publik asing,
tanpa harus lewat jalur politik formal yang kaku.
Dan ngomong-ngomong soal terkoordinasi,
Coba deh perhatiin garis waktunya ini.
Berdasarkan teks sumber, semuanya berawal di bulan Juli 2026.
Waktu itu, Chow Kai, kepala Biro Sinhua Jakarta,
datang berkunjung ke Perpusnas.
Di pertemuan itu, Sinhua udah terang-terangan bilang
kalau mereka bakal ngedorong donasi buku yang
mencakup bidang politik, ilmu sosial, dan budaya.
Lalu di bulan September, momen pameran buku internasional
dipakai buat mematangkan rencana kerjasama ini.
Sampai akhirnya, di bulan Oktober,
100 buku itu resmi diserah terimakan.
Kelihatan kan?
Ini strategi berbulan-bulan yang dieksekusi dengan sangat mulus.
Sekarang, mari kita gali lebih dalam isi dari
buku-buku yang katanya jadi etalase budaya ini.
Biasanya nih, kalau dengar kata pertukaran budaya,
yang terlintas di kepala kita kan puisi,
cerita rakyat tradisional, atau mungkin sejarah.
Tapi materi sumber kita negasin banget kalau kita
nggak boleh cuma berhenti di label budaya itu.
Kita harus jeli ngeliat narasi ideologi spesifik apa
yang sebenarnya disisipin di setiap halaman teks yang didonasikan ini.
Ini dia poin paling krusialnya.
Memang betul, donasi itu mencakup kategori-kategori ramah
kayak literatur anak, sains, dan panduan belajar bahasa.
Tapi ada satu kategori lain yang sangat menonjol.
Berdampingan dengan buku-buku santai tadi,
ternyata dijajarin juga teks ilmu politik dan sosial,
khususnya karya-karya dan kompilasi pidato Xi Jinping,
termasuk seri The Governance of China.
Wah, ini nunjukin kalau literatur yang masuk ke kita itu
bukan cuma sebatas definisi sempit tentang budaya,
tapi udah langsung melibatkan pemikiran politik
dan Strategi Pembangunan Negara Tiongkok.
Terus, kita harus nanya sama diri sendiri.
Emangnya kenapa kalau ada tekst-tekst politik khusus ini?
Signifikansinya di mana?
Sumber kita nunjuk ke satu konteks penting.
Tiongkok itu beroperasi di bawah sistem
di mana Partai Komunis Tiongkok atau PKT
adalah pusat kekuatan politik absolut.
Artinya, narasi soal sejarah, pemerintahan,
atau hubungan luar negeri di publikasi resmi negara mereka
secara alami bakal selara sama kerangka politik partai.
Ini bukan soal ngasih cap propaganda ke setiap buku ya,
tapi lebih kekesadaran kalau pengaruh ideologis
itu bisa diam-diam terwujud lewat sudut pandang
sejarah dan politik yang disodorin ke kita.
Kalau Anda pikir ini cuma terjadi di Indonesia, tunggu dulu.
Tekst sumber kita ngebuka lensa lebih lebar dan
ngasih lihat kalau ini adalah bagian dari pola
global operasi soft power Partai Komunis Tiongkok.
PKT secara aktif memanfaatkan metode-metode kayak gini di seluruh dunia
buat ngegedein pengaruh mereka dan dengan sangat teliti merancang
narasi yang bikin mereka kelihatan positif di panggung internasional.
Materi sumber juga merinci taktik apa aja yang dipakai PKT
buat memproyeksikan soft power ini.
Hal ini mencakup perluasan pengaruh lewat lembaga budaya,
nyusup ke universitas dan think tank asing,
sampai penggunaan besar-besaran media pemerintah kayak Xinhua.
Contoh paling nyata yang disebutin
di laporan adalah soal koran Inggris,
The Daily Telegraph.
Bayangin, selama bertahun-tahun,
mereka itu sampai memuat sisipan bulanan namanya China Watch,
yang ternyata diproduksi sama media kontrola negara, China Daily.
Ini bener-bener strategi raksasa buat ngebentuk opini publik.
Pake kedok pertukaran budaya dan media layaknya kuda Troya.
Nah, ini bawa kita ke lapisan terakhir dan menurut saya paling penting.
Kebutuhan kritis buat melindungi kedaulatan informasi nasional kita.
Terutama di lembaga-lembaga publik.
Pas ada negara asing yang aktif banget masukin
narasi politiknya ke perpustakaan nasional kita,
gimana caranya negara kita melindungi
independensi ruang intelektualnya sendiri?
Sumber tersebut nekenin banget.
Baca soal Tiongkok itu penting.
Terutama karena mereka pemain global utama.
Tapi, hal itu harus dilakukan dengan
batasan intelektual yang super jelas.
Coba kita bandingin dua konsep yang sangat berbeda ini.
Di satu sisi, ada pertukaran budaya dua arah.
Ini skenario idealnya.
Kepala Perpusnas, Bapak E. Aminuddin Aziz,
sempat nyampein harapannya supaya kerjasama
ini bisa mengarah ke publik Tiongkok
yang juga ikutan belajar soal Indonesia lewat buku-buku kita.
Kalau ini kejadian, itu namanya pertukaran
sehat dan saling menguntungkan.
Tapi di sisi lain, ada risiko nyata dari aliran informasi satu arah,
Dimana perpustakaan cuma jadi pipa pasif buat nyaluri narasi asing.
Tantangannya adalah mastiin yang pertama terjadi,
dan secara aktif mencegah yang kedua.
Terus buat nyegah aliran satu arah ini gimana?
Sumber kita menekankan pentingnya menjaga kewaspadaan intelektual.
Kita harus mastiin kalau perpustakaan kita itu
nawarin sumber yang beragam dan independen.
Sah saja kok baca karya Xi Jinping.
Tapi perpustakaan juga wajib nyediain studi akademis independen,
riset internasional, dan pandangan-pandangan
kritis soal politik dan sejarah Tiongkok.
Kurasi mandiri di perpustakaan itu vital banget.
Tujuannya supaya pembaca bisa ngebandingin berbagai sudut pandang
dan ngelatih pikiran kritis mereka.
Bukan cuma nulon mentah-mentah narasi tunggal dari sebuah negara.
Ada satu kutipan tajam dari artikel ini
yang patut kita renungin bareng-bareng.
Yang berpindah bukan sekedar kertas dan tinta,
melainkan gagasan, sudut pandang, nilai,
dan cara sebuah negara memperkenalkan dirinya kepada dunia.
Kutipan ini secara sempurna menangkap
esensi dari obrolan kita hari ini.
Ini menyoroti dampak tersembunyi yang
sebenarnya dari diplomasi literasi,
sekaligus ngingetin kalau tiap kali kita nerima sebuah buku,
sadar nggak sadar, kita juga lagi nerima sebuah pandangan dunia.
Sebagai penutup analisis kita,
saya mau ninggalin satu pemikiran provokatif soal literasi media ini.
Apakah kita udah secara kritis menelaah informasi yang kita konsumsi?
Atau kita masih gampang nerima mentah-mentah
apa yang disodorin ke kita dengan dalih pertukaran budaya?
Entah itu buku di perpustakaan, sisipan berita di koran,
atau seliuran postingan di medsos,
kita harus selalu nanya sama diri sendiri,
siapa sih yang mendanai ini?
sudut pandang mereka apa,
dan sebenarnya narasi apa yang mereka harapkan buat kita adopsi.
Nah, supaya Anda selalu dapat analisis yang tajam dan independen
kayak yang baru aja kita bahas,
dukungan Anda buat jurnalisme independen itu berarti banget.
Kalau ulasan ini bermanfaat buat Anda,
jangan lupa untuk FLKS ya.
Follow, like, komen, dan share video ini ke teman-teman Anda.
Oh iya, untuk bacaan yang jauh lebih komprehensif,
saya saranin banget buat langganan koran fisik di Epoch Times.
Gampang banget.
Bisa lewat WhatsApp di nomor 0813-1972-1972.
Atau kalau mau cepat, Anda bisa langsung baca versi
digitalnya sekarang juga di epochtimesindonesia.com.
Tetap kritis, teruslah membaca,
dan sampai jumpa di ulasan menarik berikutnya.