MELEWATI RINTANGAN

MANUH BALI CHANNEL
397 pengikut
963 Tayangan video·29 Agu 2026
Praktisi Falun Dafa berbagi pengalaman melewati ujian dan rintangan agar bisa ikut bergabung dalam konerensi berbagi pengalaman tahun 2026 di yogyakarta
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Ringkasan Video
Dibuat oleh AIPractitioners gathered in Yogyakarta for a Fahui event, sharing testimonials on their spiritual journeys. They discussed overcoming physical, financial, and social obstacles to attend, while highlighting the profound health improvements, moral transformations, and deep sense of community and solidarity experienced through their shared cultivation practice.
Orang yang dari 30 tahun lalu disini, bagaimana?
Ya, tentu sebagai praktisi yang sudah cukup lama dan sekarang tinggal di Jogja,
saya merasakan suasana yang mengharukan saat ini,
karena teman-teman dari seluruh daerah di Indonesia,
bahkan dari luar negeri berkumpul di Yogyakarta
dengan rangkaian kegiatan yang sangat padat.
Dan ini semua juga untuk peningkatan julen kami bersama.
Jadi dengan bertukar pikiran, bertukar pengalaman dengan teman-teman dari berbagai daerah,
teman-teman di Jogja khususnya bisa semakin meningkat.
Karena pengalaman teman-teman dari daerah lain ini menjadi penting
untuk mendorong supaya kami bisa lebih bikin maju dalam matahari maluk itu.
Kamu baru datang?
Habis kerja.
Habis kerja tadi malam.
Habis kerja tadi malam?
Wih, naik apa pula ke sini?
Kereta.
Naik kereta berapa jam?
9-10 jam.
Wah, dari Jakarta 24 jam itu kenapa?
Habis mogok, habis itu delay.
Delay, terus?
Mogok, itu aja.
Habis bensinnya?
Oh iya, habis bensinnya, betul.
Aduh, perusahaan base apa itu?
Ujiannya ya?
Tidak mau sebut brand.
Banyak gini-gini.
Aku lho bisa menjelajuk ini.
Sekarang itu Pak Widi.
Oh iya, ini direkam Ibu.
Coba cerita pengalaman.
Krusial adalah kultifasi tunggal.
Saya sempat jadi keluarga itu.
Dikatakan saya ini sesat.
Haji yang sesat.
Itu Ibu siapa Bu?
Ibu Wiwi.
Dari praktisi mana?
Sido Arjo.
Dari kelas online, Pak.
Kelas online.
Baik, selamat Bu ya.
Tapi itu yang betul-betul membuat saya.
Harus saya ini kan.
Saya lepaskan.
Harus kultifasi tunggal.
Tapi kalau yang kecil-kecil gangguan,
sudah saya anggap.
Enteng aja.
Pokoknya kita meningkatkan sim-sim.
Itu anak saya.
Bukan, Pak.
Saya dikatakan.
Dikatakan apa?
Dikatakan adalah sesat.
Mama kalau mati mau ke mana?
Ya mati udah.
Matikan ini.
Sel-sel kita ya.
Rompak.
Tapi iwancen kita masih.
Jiwa kita.
Masih.
Itu.
Terima kasih, Bu.
Iya.
Falun dapah haus.
Cen san reng.
Oh, Ibu.
Ibu mau operasi gitu?
Dicari pembuluh darahnya gak ketemu?
Iya.
Bukan operasi.
Kateterisasi sitikardiak.
Itu sulit masuk di pembuluh darah
karena pembuluh darah sangat lembut.
Kemudian dokter.
Ayo, Bu.
Ini anu, Bu.
Gak bisa anu.
Gimana, Bu?
Saya.
Ayo berdoa, Bu.
Iya.
Saya cuman apa?
Falun dapah haus.
Cen san reng.
Terus berulang-ulang.
Kemudian dokternya.
Puji Tuhan.
Bisa, Bu.
Hari itu juga setelah selesai.
Tidak ada hambatan.
Boleh pulang.
Biasanya harus masuk ICU.
Tapi.
Ya itulah.
Keajaiban dari Falun dapah haus.
Falun dapah baik.
Cen san reng haus.
Iya.
Terima kasih.
Wih, luar biasa.
Ditabrak motor dulu.
Muda itu.
Habis naikin barang.
Sakit gigi semalaman.
Gak bisa tidur.
Bangun pagi.
Muntah-muntah.
Dari Bali sampai ke Gili Mandok.
Muntah terus.
Gak berhenti.
Terus yang nabrak itu gimana?
Yang nabrak.
Ditabrak dari belakang.
Malah minta ganti rugi.
Udah ditabrak.
Lagi minta ganti rugi.
Akhirnya bapaknya datang.
Untuk mendamaikan.
Dan mengganti rugi semua.
Itu ujiannya untuk datang ke Pahuy.
Wih, luar biasa, Pak.
Untung bisa lolos.
Sampai disini.
Tidak ada hambatan.
Semua lancar.
Makasih.
Ibu Ertin dari Prinsipu Tenggamus, Pak.
Ya, kampung.
Tantangannya kemarin itu masalah bus, Pak.
Kita harusnya jam 8 pagi sudah sampai depan perambanan.
Tetapi karena busnya itu janjinya gak tepat.
Katanya mau lewat tol.
Ternyata dia lewat jalan tikus.
Jadi jalan provinsi menghambat perjalanan kita.
Ada macet, segala itu, Pak.
Jadi kita kemarin bukan dari pihak kita.
Tapi dari busnya itu yang kurang konsisten seperti itu, Pak.
Di dalam bus ada belajar pak?
Kalau belajar pak tidak ada.
Di bus cuma Pak Cenjen sendiri kita.
Kalau yang lain tidak.
Pada tidur.
Terus pada geringsang.
Karena harusnya kita jam 8 pagi harus bisa mengikuti kegiatan pul.
Ternyata kita tidak bisa mengikuti kegiatan pul.
Terus kalau dicari ke dalam apa itu?
Ya kita harus mencari ke dalam diri sendiri.
Kekurangan apa.
Apa kebocoran kita.
Apa kita kurang Pak Cenjenan.
Apa kita kurang baca buku juga.
Juga bisa, Pak.
Jadi ada gangguan seperti itu.
Kita harus sering mencari ke dalam.
Seperti itu, Pak.
Nama saya Nur Baito dari Tangkamus.
Jadi di Tangkamus, terus terang Pak Cenjen belum kami kenalkan.
Karena belum kami kenalkan.
Ada partisipasi baru?
Ya, baru.
Yang ikut kemarin adalah baru dan penasaran.
Kalau entah apa itu apa.
Jadi bagian baru.
Wah, luar biasa.
Saya tidak mengikuti Mami kan sudah lima tahun.
Tapi teman-teman yang lama itu.
Sapaannya hangat sekali.
Wih, saudaraku.
Katanya lama tidak ketemu.
Jadi saya semakin rindu.
Luar biasa.
Pak Liman.
Waduh.
Apa kabar?
Ketemu lagi.
Bagaimana?
Kapan pulang ke Indonesia?
Pulang tanggal 13 Agustus.
Nanti baliknya 29.
Dua minggu.
Hanya untuk cerita Pahwi ini?
Ya.
Untuk Pahwi saja datang?
Khusus cerita untuk Pahwi.
Oh, khusus untuk Pahwi.
Amatan di sana apa?
Ya, memang banyak drone yang datang.
Tapi lucunya, ketika saya ke sini, drone datang.
Tapi ketika saya ke sana, dronenya berhenti.
Ada cerita gitu.
Ya.
Jadi ya, memang...
Ya, kultifasinya sana menarik.
Menariknya karena...
Hanya satu agama yang diterima.
Jadi mereka kalau mendengar saya itu pindah agama...
Ya, mereka marah.
Terus ya, mereka menantang saya.
Kenapa kamu pindah agama dan sebagainya.
Saya bilang, saya nggak pindah agama.
Tapi saya mengikuti kultifasi.
Kultifasi hati saya.
Saya sedang mengkultifasi hati saya.
Dan agama yang lama nggak mampu untuk belajar kultifasi itu.
Saya katakan begitu.
Apa itu?
Ya, saya jelaskan.
Ternyata kita memang di sana itu dipaksa...
...untuk menceritakan apa itu kultifasi.
Tawfa itu.
Jadi tanpa kita sadari...
...ya kita mengklarifikasi fakta...
...sekaligus menyelamatkan orang-orang di sana.
Ternyata bukan yang sederhana.
Padahal sebenarnya kan cari duit.
Tapi cari duit, ya.
Jadi cari duit sekalian menyelamatin orang.
Terima kasih, Pak Deka.
Makasih, Pak.
Bikin maju, ya.
Ya, makasih.
Kita hanya dengar saja Pak Deka dari dulu.
Makasih, Pak.
Apa, Pak? Bicara saja.
Nama?
Nama Hendra, Pak.
Hendra.
Mas Hendra, untuk datang ke PAU ini ada ujian apa?
Ada ujian atau tidak?
Ada pasti, ya?
Ujiannya tiba-tiba banyak pekerjaan yang muncul...
...yang tidak bisa diprediksi.
Pertama perjalanan keluar kota.
Sudah setelah pulang keluar kota...
...tiba-tiba muncul lagi kerjanya keluar kota lagi.
Pada hari sebelum hari H-nya.
Jadi saya harus keluar kota lagi.
Terus habis itu buru-buru.
Dan selesai.
Dan besok kita berangkat ke sini.
Keberangkatan aman?
Keberangkatan bersama teman-teman semuanya aman.
Lancar semuanya.
Perkenalkan.
Nama saya.
Mana?
Sume.
Sume dari Jakarta mana?
Jakarta Barat.
Sudah lama sudah ini?
2016.
Ujian apa yang dialami?
Sebelum ke sini, gitu.
Ujiannya.
Ada lah.
Dari mama saya.
Angkat gitu ya.
Lagi sakit.
Saat ini lagi dirawat di rumah sakit darmais.
Tadinya saya pikir kalau dia ada apa-apa...
Kita kan sudah tua, umur 80.
Dia komplikasi banyak.
Tapi dia bukan praktisi.
Jadi dia...
Aku ya urusin masuk rumah sakit hari Jumatnya.
Hari Kamis.
Masuk ke darmais.
Terus saya sudah pikir.
Saya bisa datang nggak ya?
Soalnya dia komplikasinya sudah banyak.
Ada tulang patah.
Ada infeksi indisono.
Diindikasikan kan kanker-kanker stadium 4.
Akhirnya bisa berangkat.
Bisa datang.
Naik apa ke sini?
Naik kereta bareng-bareng teman-teman.
Berapa orang?
Kita berapa ya?
Enam ya?
Enam.
Kemarin sudah berhasil selesai.
Senang juga bisa datang.
Sekarang bisa fahui lagi.
Senang juga.
Terima kasih.
Nama siapa?
Carlos, Pak.
Ambatannya apa?
Datang ke fahui?
Hampir tidak ada ambatan?
Tidak ada halangan?
Ya, baik-baik saja, Pak.
Baik-baik saja?
Bagus.
Nggak mungkin.
Yang begini nggak mungkin.
Nggak mungkin?
Pasti banyak.
Karena dia bawa-bawa banyak buku.
Tapi datang tepat waktu sini?
Tepat waktu, Pak.
Semuanya bagus.
Oke.
Nama Wayan Robiarto.
Oke.
Gimana tantangannya datang ke fahui bersama keluarga?
Tantangannya karena mengajak keluarga.
Jadi satu orang yang sulien.
Tiga orang belum sulien.
Jadi tidak ringan.
Banyak hal yang saya lewati dalam perjalanan dari Bali menuju Jogja.
Tapi dengan pikiran lurus,
saya sampai di Jogja,
walaupun setelah di Jogja,
kendaraan mengalami kerusakan.
Kemarin tidak bisa ke fahui, kenapa?
Kemarin saya tidak bisa ikut ke fahui,
karena saya fokus untuk mengurus kendaraan dulu,
supaya layak jalan,
supaya bisa saya pakai nanti untuk balik.
Mengingat sekarang dan besok hari libur.
Nama?
Nama siapa?
Wiwit.
Wiwit dari mana, Pak?
Saya dari Denpasar, Bali.
Apa, ujiannya datang ke fahui?
Sekarang 58 tahun.
Usianya.
Ujiannya datang ke sini?
Ujiannya, terus-terusan,
saya terus-terusan dianyainya oleh ekonomi.
Makanya saya berusaha,
karena dua tahun lalu saya tidak ikut.
Sekarang Ibu ikut?
Ibu tidak ikut.
Ibu tidak ikut karena itu juga,
karena faktor itu juga.
Tapi sudah di sini,
bagaimana perasaan Ibu?
Bagaimana bahagia dengan teman-teman?
Saya mendapat masukan dari,
dengan sering pengalaman ini,
saya bisa menimba bagaimana begini,
belajar lebih giat lagi.
Karena saya terus-terusan kedor sekali untuk belajar fahui.
Umur berapa?
Siapa namanya dulu?
Suyanto.
Dari Bintan?
Dari Bintan.
Dari tahun berapa Ibu berkultivasi?
Tahun 2000,
waktu COVID-19.
5-6 tahun.
Umur berapa sekarang?
43 tahun.
Anak berapa?
Anak 2.
Anak 2?
Iya.
Semua sekarang ikut-ikut latihan?
Iya, ikut.
Sama martabak?
Iya, sama martabak.
Bagaimana kesannya,
ikut konfresi begini?
Wah, senang sekali.
Tubuh terasa ringan.
Bagaimana ada halangan datang ke sini?
Sama siapa datang ke sini?
Sama teman dari Batam.
Oh, gitu.
Jadi,
tidak ada halangan datang ke sini?
Ada, pertama,
tidak ingin datang.
Oh, tidak ingin datang.
Tidak ingin datang.
Atau sudah tulis pengalaman?
Sudah tulis, terpilih.
Jadi, ditelepon terus sama teman-teman,
angkat terus.
Ditelepon terus sama teman-teman,
jadi,
jadi, berlangkah.
Terobos.
Oke, jadi bisa datang ya.
Kendro, saya.
Pak Kendro, oke.
Baik, Pak Kendro.
Pak Kendro, oke.
Tadi saya lihat...
Sekali lagi, pengumuman...
Pak, pakai kacamata?
Pakai.
Tapi kalau membaca, pakai kacamata?
Tidak pakai.
Ini kacamata jarak jauh?
Ini jarak jauh, ya.
Kalau deket, tidak usah.
Oh, oke.
Tapi sudah...
Jadi, dari dulu tidak pernah pakai kacamata baca?
Tidak pernah.
Oh, tidak pernah?
Tidak pernah.
Oke, oke.
Bagaimana?
Datang ke konferensi...
Oh, senang, Pak.
Rasanya senang, gitu.
Senang sekali ketemu teman-teman.
Jadi, merasakan
tambahan wawasan.
Belajar banyak dari teman-teman.
Baik.
Jadi, tidak ada halangan datang, ya?
Halangan ada, Pak.
Gangguan banyak, Pak.
Mulai dari keluarga sendiri.
Jadi, kita terobos.
Kita lewatin.
Akhirnya sampai juga.
Apalagi kita ada tugas-tugas
yang diatur sama guru.
Guru kita.
Jadi, akhirnya kita selesai dengan baik.
Nama siapa?
Ananda.
Ya?
Ananda.
Oke.
Sudah berapa lama si Ulianya?
Sudah kenal mulai dari umur setahun.
Mulai dari ibu.
Ya, mengenalkan kepada keluarga dan anak-anak.
Mulai serius si Ulianya.
Mulai dari umur 20 tahunan.
Mulai serius si Ulianya.
Karena masih kecil.
Belum mengerti renang si Ulian.
Mulai serius si Ulian.
Mulai 20 tahunan.
Oke.
Ini perjalanan kemarin.
Tantangannya apa?
Tantangannya mulai dari biaya.
Sekarang sebenarnya saya enggak mau ikut
Fahowi hari ini.
Cuma karena didorong oleh praktisi
dan juga di backup dari biayanya.
Terima kasih sempurna.
Terima kasih sama rekan praktisi juga.
Saya bisa menghadiri Fahowi hari ini.
Oke.
Lalu bagaimana perasaannya setelah ikut Fahowi?
Tentu saja senang sebagai praktisi.
Bisa punya kesempatan.
Apalagi ketidakmampuan saya
akan ekonomi untuk kali ini.
Tapi di backup oleh praktisi yang lainnya.
Terima kasih untuk praktisi juga.
Terima kasih Dede.
Panggilannya Dede?
Ya, Dede. Boleh.
Nama mas?
Nama saya Arief.
Saya dari Pekasi.
Oke.
Sudah berapa lama mas si Ulianya?
Saya mulai 2004.
Mengenal voluntary.
Dan terus Ulian sampai sekarang.
Baik.
Bagaimana ujiannya?
Datang ke sini itu bagaimana?
Tenang?
Kebetulan naik-naik Elef kan.
Pertama penuh.
Barang-barangnya penuh sama keluarga.
Barang-barang.
Kemudian AC-nya mati.
Di tengah jalan AC-nya mati.
Tapi kondisinya mobilnya nggak ada jendela.
Jadi kebetulan kami juga paling belakang.
Jadi kami dapat berkah kepanasan tadi malam.
Kebetulan juga macet.
Jadi perjalanan...
Itu mobil Elef umum?
Kita sewa.
Nah kebetulan dari berangkat itu jam 8 malam.
Sampai sini jam 10 pagi.
Karena macet.
Terlambat juga?
Terlambat juga.
Itu satu keluarga?
Satu rombongan.
Sekitar 18.
Dari Bekasi, Tangerang, Bogor, ada Jakarta juga sebagian.
Jadi kita yang belum berangkat kita tampung di situ.
Bagaimana kesannya setelah bisa ikut?
Bersyukur sih.
Senang juga karena kita bisa berpartisipasi.
Kita bisa berpartisipasi kegiatan sebelum Fahwi.
Kita bisa mengikuti Fahwi.
Berharap kita bisa mendapat peningkatan dalam hal pemahaman.
Panggilan Pak Ketut Dalung.
Sudah semua tahu.
Pak Soekarto ini adalah komandan.
Untuk apa?
Semua peralatan apa?
Peralatan untuk dekor.
Untuk dekor Fahwi.
Tantangan itu apa?
Tantangan semua pasti ada, Pak.
Setiap kita kerja pasti ada tantangan.
Yang penting hati kita dulu apa ada itu dipakai.
Dan akhirnya semua bisa berjalan lancar, Pak.
Apalagi kemarin setengah malam, jam-jam tiga malam.
Tidak ada dagang kain dan sebagainya.
Kita memerlukan hati saja.
Hati yang tenang.
Pasti ada solusi.
Itu bedanya kita orang sulian, Pak.
Sudah berapa lama mengerjakan semuanya, Pak?
Maksudnya untuk persiapan untuk Fahwi ini.
Berapa lama pengerjaan termasuk topi, segala macam?
Dari awal.
Dari awal sudah dari dua bulan yang lalu, Pak.
Sudah dua bulan yang lalu.
Sebelum marihah.
Oke, itu dikerjakan oleh siapa saja?
Teman-teman dalung, teman-teman apa namanya?
Teman-teman baliada.
Kita keroyokan, Pak, istilahnya.
Tidak ada istilah, Pak.
Tidak ada istilah bayaran dan sebagainya.
Sukarela, Pak.
Saya Wayaneka Mertayasa.
Saya panggil Eka.
Saya berasal dari praktisi dari Singapadu.
Tepatnya Gyanyar.
Untuk silihan sendiri itu saya kurang lebih 10 tahun.
Hampir 11 tahunan.
Jadi awal mulanya ikut itu karena orang tua saya tentunya.
Saya melihat orang tua saya perubahannya signifikan dari
entah itu moral atau perilakunya ke saya.
Ataupun ke keluarga.
Dan yang paling signifikan itu merubah
dari kebisaan bapak saya itu suka berjudi,
suka pokoknya berjudian itu.
Jadi berubah secara instan seperti itu.
Jadi saya tertarik untuk mengikuti ajaran polontafar tersebut.
Adik-adik ada ikut?
Kebetulan saya punya saudara satu.
Itu adik sendiri.
Juga praktisi juga.
Ibu juga praktisi.
Kebetulan juga bagian dari gitaran pinggang juga.
Apa hal-halnya keluarga?
Untuk halangan.
Jadi untuk halangan jujur saja saya sendiri.
Karena keterikatan saya banyak sekali.
Mengingat saya juga bekerja di hotel.
Jadi saya awalnya mengira bahwa saya tidak akan dapat libur.
Karena kerja saya bergantung dengan okupansi dari hotel tersebut.
Jadi saya selalu berpikir bahwa saya nggak bisa, saya nggak bisa.
Tapi pada akhirnya saya tetap memantagam diri.
Saya tetap berusaha berpikiran lurus.
Dan akhirnya ada support dari ibu saya juga.
Jadi seminggu sebelum berangkat pun saya ada keinginan untuk cancel ini.
Untuk membatalkan pahwi ini.
Karena memang keterbatasan mending di pekerjaan.
Tapi saya percaya bahwa ibu saya selalu mendukung saya untuk berpikiran lurus.
Jadi akhirnya saya tembus seperti itu.
Jadi syukur.
Bagaimana kesan-kesannya untuk pahwi?
Untuk pahwi sendiri memang banyak menjadakan saya.
Karena jujur saja kalau saya sendiri pun masih banyak pasang surutnya.
Saya masih berpikir bahwa saya masih melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh partisi tersebut.
Tapi dengan pahwi tadi, itu serah tidak langsung sudah menjadakan saya.
Jadi saya ingin mengulangi dari nol lagi.
Persembahan.
Bagus?
Berbicara.
Apa yang terjadi?
Kamu tidak berbicara.
Kebetulan aku ditugasin pakai kostumnya kostum betawi.
Jadi ini baju abang dan none.
Ini abangnya, terus nonenya tadi dibesat lagi.
Bagaimana nanti kesan-kesan kompetensinya?
Seru banget.
Karena aku baru pertama kali ikut kan.
Jadi tadi yang bisa ngilang.
Yang dari mana? Yang ger banget.
Maksudnya benar-benar apa ya.
Kan selama ini kita paling 5 orang.
Paling banyak 8 orang gitu loh.
Tapi begitu dikumpulin segini banyak kan langsung.
Oh ternyata di tempat lain ada juga gitu ya.
Tadi melihat pahwinya gimana?
Nah itu juga diluar dugaan kan.
Tadinya aku ikut genderang pinggang.
Terus sekarang genderang pinggang aku lagunya belum hafal.
Jadi aku nggak jadi ikut.
Ternyata ditugasin pakai baju tradisional gitu loh.
Ceritanya gitu.
Halo, selamat datang.
Nama aku Hansang.
Berapa orang yang datang dari Malaysia?
Berapa orang?
Kira-kira 40 orang.
Siapa?
Berapa orang yang pergi ke Yogyakarta?
Berapa orang yang datang?
Aku juga nggak tahu.
Di Malaysia ada 23 orang.
Jadi semua orang?
Semua profesional?
Di Malaysia total ada 40 orang.
Terima kasih.
Bagaimana persembahan hari ini?
Bagaimana? Bagus?
Bagus.
Banyak orangnya.
Ini lagi kuat seperti Hong Kong.
Senang ya?
Senang.
Dunia Ganjing.
Cara kehidupan yang lebih cerah.
