
Ketika Negara Menjajaah Rakyat

Negara Menjajah Rakyat
Tepat sehari setelah peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia, kesunyian politik kembali terusik oleh aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Indonesia (UI)
. Di tengah pembungkaman media nasional yang didanai penguasa, gerakan moral ini menyuarakan tuntutan yang sangat menghentak: "lepaskan penjajahan negara terhadap rakyat"
. Melalui kacamata akademis Prof. Susi Sudarman, jeritan ini bukan sekadar retorika jalanan, melainkan deteksi nyata atas situasi "super abnormal" yang tercipta akibat kejahatan paralel dan tandem politik antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto
. Indonesia hari ini sedang menghadapi fase penjajahan modern yang sistemik, di mana negara justru menjadi aktor utama penindasan warganya sendiri
.
Penjajahan era baru ini bermanifestasi subur melalui kuasa oligarki yang hidup sempurna di bawah rezim Jokowi
. Berbeda dengan era Orde Baru yang berpusat pada satu keluarga penguasa saja, penindasan hari ini dilakukan secara berjemaah oleh faksi-faksi elit yang haus kekuasaan dan materi
. Atas restu kekuasaan, oligarki diizinkan mengeruk kekayaan alam, menyita tanah adat, hingga melakukan keganasan lingkungan yang membawa petaka bagi rakyat kecil di Medan, Aceh, Padang, hingga Papua
. Dimensi kebudayaan dan utang budaya negara terhadap kelompok adat yang dahulu menyerahkan kedaulatannya demi lahirnya Republik ini sengaja dilindas dan dilupakan demi akumulasi modal
.
Kejinya penjajahan gaya baru ini terletak pada operasinya yang halus dan tersamar
. Jika dahulu rezim militer menggunakan tindakan represif ekstrem seperti membuang mayat ke laut, rezim sekarang menggunakan alat propaganda berupa ormas dan barisan buzzers di media sosial untuk menyerang cara berpikir masyarakat
. Rakyat sengaja diperbodoh dan dininabobokan
. Mereka diberi hiburan kompetisi dangdut televisi dan daster biru untuk diajak berjoget, guna menyamarkan penderitaan jutaan korban tak terlihat (invisible victims) yang hidupnya terpinggirkan
. Di saat yang sama, rakyat diperas melalui penarikan berbagai macam pajak bertubi-tubi—mulai dari pajak perumahan hingga pajak pembelian—yang ironisnya digunakan untuk mendanai institusi semu demi Pemilu 2029 serta membeli kuda-kuda mewah milik elit penguasa
.
Bagi generasi muda, kepedihan ini terasa nyata dalam keseharian mereka
. Mahasiswa dibebani biaya UKT yang melambung tinggi tanpa adanya jaminan ketersediaan lapangan kerja yang layak setelah lulus
. Akibatnya, pengemudi ojek online (ojol) kian menjamur sebagai simbol kegagalan tata kelola pemerintahan (bad governance) yang dijalankan tanpa ilmu pengetahuan
. Kebijakan populis seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) justru memicu kecemasan mendalam di kalangan orang tua karena kekhawatiran efek keracunan akibat buruknya standar pengawasan etis dalam program tersebut
.
Di panggung geopolitik, kedaulatan negara kian tergadaikan pada kekuatan transnasional demi syahwat politik elit
. Demi mendapatkan akses kunjungan dan legitimasi dari Amerika Serikat setelah bertahun-tahun dicekal, Prabowo Subianto disinyalir menandatangani perjanjian dengan lobi-lobi internasional melalui perantara James Frenzy
. Dokumen tersebut mewajibkannya untuk membuka hubungan dengan Israel serta melarangnya mengkritik Amerika Serikat maupun gerakan politik Zionisme
. Akibatnya, Indonesia kian kecanduan menggunakan teknologi pengintaian intelijen dari Israel hanya untuk memata-matai dan menyadap email serta telepon rakyatnya sendiri
.
Ketergantungan ini diperparah oleh masuknya modal asing secara membabi buta
. Kehadiran smelter milik anak Rothschild di Batam—yang terafiliasi dengan gerakan satanik dan talmudik—menjadi bukti nyata bagaimana elit global mencengkeram ekonomi kita
. Sumber daya alam melimpah seperti emas, nikel, titanium, uranium, hingga rare earth dikeruk habis oleh para konglomerat yang bermarkas di Singapura dan London
. Ketika konflik lahan terjadi, seperti di Lampung, aparat kepolisian justru berdiri membela kepentingan korporasi Malaysia alih-alih melindungi hak milik rakyat kecil
.
Universitas dengan gerakan mahasiswanya kini berdiri sebagai benteng pertahanan terakhir
. Ketika media dibungkam, hanya perguruan tinggi yang dapat menginspirasi negeri untuk menanamkan kembali batas-batas konseptual (inscribing boundaries at the conceptual level) di dalam otak generasi muda guna melawan premanisme negara
. Indonesia adalah bangsa yang sedang menderita luka budaya, luka ketidakadilan, dan luka penindasan yang teramat dalam
. Untuk menyembuhkan luka-luka ini, kita mendesak lahirnya para pemimpin berintegritas layaknya "malaikat" yang tidak tergiur menumpuk emas dan kekayaan pribadi, melainkan mengabdi sepenuhnya pada keadilan, seperti sosok Baharuddin Lopa, Ali Sadikin, atau Tan Malaka
.
