
Ulasan buku Becoming Supranatural
Mengetuk Pintu Kuantum: Saat Manusia Menolak Menjadi Biasa
Buku terbaru Dr. Joe Dispenza, Becoming Supernatural, mencoba meruntuhkan tembok tebal antara mistisisme dan sains. Sebuah panduan bagi mereka yang percaya bahwa mukjizat hanyalah persoalan frekuensi.
Bagi Anna Willems, penderitaan bukan lagi konsep abstrak. Psikoterapis asal Amsterdam ini harus menyaksikan dunianya runtuh dalam hitungan menit: suaminya bunuh diri, meninggalkan tumpukan utang, dan tak lama kemudian, tubuhnya sendiri mengkhianatinya
. Ia lumpuh dari pinggang ke bawah dan didiagnosis menderita kanker esofagus
. Secara medis, ia adalah "kecelakaan emosional dan fisik" yang berjalan buntu
. Namun, di tangan Dr. Joe Dispenza, kisah Anna menjadi pembuka sebuah tesis yang provokatif: bahwa manusia sebenarnya memiliki anatomi dan kimiawi untuk menjadi "supernatural"
.
Dalam buku Becoming Supernatural: How Common People Are Doing the Uncommon, Dispenza tidak sedang menawarkan khotbah motivasi klise. Ia datang dengan data elektroensefalogram (EEG), pemetaan otak, dan pengukuran koherensi jantung
. Tesis utamanya adalah manusia dewasa umumnya hidup dalam 95 persen program bawah sadar otomatis yang merupakan rekaman masa lalu
. Kita, menurut Dispenza, adalah magnet yang kehilangan muatannya karena energi kita terjebak di pusat-pusat kelangsungan hidup (seks, pencernaan, dan stres)
.
Buku ini membedah bagaimana seseorang bisa memutus rantai "kecanduan" emosional terhadap stres
. Dispenza menjelaskan bahwa saat kita berada dalam mode bertahan hidup, fokus kita menyempit hanya pada materi—tubuh, lingkungan, dan waktu
. Untuk melampauinya, ia mengajak pembaca memasuki "titik manis momen saat ini" (the sweet spot of the generous present moment)
. Di titik inilah, kesadaran manusia bergerak dari some body (seseorang) menjadi no body (bukan tubuh), dari some thing menjadi no thing, untuk akhirnya menyatu dengan medan kuantum yang menyimpan kemungkinan tak terbatas
.
Salah satu bagian paling menarik adalah ulasannya mengenai kelenjar pineal
. Dispenza menyebut kelenjar kecil berbentuk biji pinus ini sebagai "antena kosmik" atau "alkemis" di dalam otak
. Melalui teknik pernapasan tertentu yang meningkatkan tekanan intratekal, kristal kalsit di dalam pineal akan mengalami efek piezoelektrik, mengubah frekuensi dari medan terpadu menjadi citra visual yang sangat jernih dalam pikiran—sebuah pengalaman mistis yang terasa lebih nyata daripada realitas fisik
.
"Mukjizat" dalam buku ini dipaparkan melalui data-data laboratorium. Dalam lokakarya di Tacoma, Washington, misalnya, subjek uji menunjukkan peningkatan Imunoglobulin A (IgA)—protein utama sistem kekebalan tubuh—sebesar 49,5 persen hanya dengan mempraktikkan emosi yang ditinggikan seperti rasa syukur selama beberapa hari
. Ini adalah bukti epigenetik bahwa pikiran sendiri dapat mengubah ekspresi gen tanpa bantuan obat-obatan eksogen
.
Namun, buku ini bukan tanpa tantangan. Bagi pembaca awam, penjelasan mengenai fisika kuantum dan neuroendokrinologi mungkin terasa berat. Dispenza mengantisipasi hal ini dengan menyisipkan studi kasus yang menyentuh: dari Ginny yang sembuh dari nyeri punggung kronis pasca-kecelakaan hingga Jerry yang "bangkit" dari ambang kematian akibat gagal pankreas
.
Pada akhirnya, Becoming Supernatural adalah sebuah undangan untuk berhenti menjadi korban lingkungan luar
. Dispenza berargumen bahwa keilahian bukan sesuatu yang jauh di luar sana, melainkan kecerdasan yang mengatur diri sendiri yang ada di dalam setiap sel
. Ia menantang kita: jika emosi masa lalu adalah biologi kita, mengapa tidak mulai "mengingat" masa depan dan membiarkan biologi kita berubah menyesuaikannya?
. Sebuah bacaan wajib bagi mereka yang siap melintasi ambang batas logika menuju alam kemungkinan.

