Kesenjangan Mental Gen Z

Kesenjangan Mental Gen Z

S
Suara Kebahagiaan
47 Tayangan video·9 Jun 2026

**Stroberi, Garam Berlebih, dan Sekolah Pendengaran**

Dunia ini sudah berubah. Bukan hanya soal mobil listrik yang semakin kencang atau kecerdasan buatan yang semakin pintar. Perubahan yang paling fundamental justru terjadi di dalam "batok kepala" manusia, terutama anak-anak muda kita hari ini.

Ada istilah menarik yang sering kita dengar: *Strawberry Generation*. Generasi Stroberi. Metaforanya indah tapi getir. Stroberi itu buah yang penampakannya cantik, merah merona, dan eksotis. Tapi, coba tekan sedikit saja. Ia langsung benyek. Hancur. Itulah gambaran sebagian anak muda kita hari ini: penuh kreativitas dan pintar, tapi sangat rentan terhadap tekanan. Begitu kena "panas" dunia kerja atau kritikan sedikit, mereka langsung *burn out*.

Saya baru saja menyimak perbincangan menarik antara Helmy Yahya dengan seorang dokter spesialis kejiwaan, Dr. Vivi Syarif. Isunya berat: kesehatan mental. Dari kegelisahan Gen Z hingga gangguan kepribadian yang namanya mentereng: NPD (*Narcissistic Personality Disorder*).

Mari kita bicara soal NPD ini. Dalam kacamata orang awam, narsistik itu mungkin sekadar hobi *selfie* atau pamer prestasi. Tapi dalam dunia medis, ini adalah gangguan yang bisa jadi racun dalam sebuah relasi. Metaforanya seperti garam. Hidup butuh narsisme agar kita punya kepercayaan diri untuk tampil di depan umum atau mencintai diri sendiri (*self-love*). Tanpa garam, masakan hambar. Tapi kalau garamnya segenggam dimasukkan ke dalam mangkuk kecil? Masakan itu jadi beracun.

Orang dengan NPD adalah mereka yang "overdosis" narsisme. Mereka butuh pengaguman terus-menerus, merasa paling hebat, dan yang paling mengerikan: minim empati. Mereka bisa menginjak orang lain demi terlihat tinggi. Di era media sosial, gangguan ini menemukan panggung raksasanya. *Flexing* atau pamer kekayaan menjadi bensin yang membakar api kecemasan (*anxiety*) di jiwa-jiwa yang menontonnya.

Anak muda sekarang lebih "melek" soal ini daripada generasi saya dulu. Zaman saya dulu, kalau sedih ya disuruh kerja lagi. Kalau cemas, disuruh berdoa lebih kencang. Sekarang, anak SMA pun sudah berani bilang ke orang tuanya, "Ma, carikan aku psikolog".

Tapi di sinilah sering terjadi tabrakan frekuensi. Orang tua, dengan "kaset rusak" nasehatnya, sering kali memberi jawaban yang justru menjadi tembok penghalang: "Kamu itu kurang ibadah, kurang bersyukur". Ini adalah ganjalan besar. Menurut sumber yang saya pelajari, banyak anak muda justru menjadi "anti" terhadap agama karena agama sering dijadikan senjata untuk menghakimi luka batin mereka, bukan sebagai obat.

Apalagi kalau ada "trauma antargenerasi" (*generational trauma*). Ini seperti ransel berat berisi batu yang diwariskan kakek ke ayah, lalu ayah ke anak. Dulu, mungkin ikat pinggang atau rotan dianggap alat pendidikan yang wajar. Tapi beban emosional dari kekerasan verbal atau fisik itu tidak hilang begitu saja; ia mengendap dan meledak dalam bentuk depresi atau kecemasan di generasi berikutnya.

Ada satu konsep yang membuat saya termenung: *Public Listening*. Kita ini bangsa yang hobi sekolah *public speaking*. Semua orang ingin pintar bicara, pintar berdebat, pintar memberi nasehat. Tapi tidak ada kursus untuk *public listening* atau mendengarkan secara publik. Padahal, kunci untuk menghadapi generasi stroberi ini bukan dengan mengajari mereka cara menjadi baja, tapi dengan menyediakan telinga yang mau mendengar tanpa menghakimi (*suspend your judgement*).

Banyak orang tua atau bos di kantor yang terjebak dalam rasa merasa paling benar karena merasa lebih senior. Mereka ingin anak buah atau anak mereka mengikuti pola sukses masa lalu yang sudah tidak relevan lagi dengan dunia yang sudah berubah total. Padahal, komunikasi itu harusnya dua arah, bukan searah seperti siaran radio zaman dulu.

Lalu ada fenomena *gaslighting*. Ini metafora tentang manipulasi emosional yang halus. Bayangkan seseorang yang sedang menyalakan lampu redup, tapi dia bersumpah bahwa lampunya terang benderang, sampai akhirnya Anda meragukan penglihatan Anda sendiri. Begitulah manipulator bekerja—mereka memutarbalikkan fakta sampai korbannya merasa dialah yang bersalah. Ini banyak terjadi dalam hubungan pasangan yang sudah dingin, yang hanya berkomunikasi lewat diam (*silent treatment*).

Hidup di era digital ini memang penuh jebakan. Kecemasan atau *anxiety* itu seperti alarm yang berbunyi terus-menerus padahal tidak ada kebakaran. Kita cemas karena melihat hidup orang lain yang tampak sempurna di layar ponsel, padahal itu mungkin hanya potongan gambar yang sudah difilter. Overthinking menjadi penyakit harian; kita memikirkan jembatan yang bahkan belum tentu akan kita seberangi.

Solusinya? Barangkali kita perlu kembali ke teknik sederhana bernama *mindfulness*. Hidup di saat ini, di sini. Tanpa penghakiman. Kita perlu mengakui bahwa diri kita tidak selamanya harus kuat. Stroberi tetaplah stroberi; ia butuh penanganan yang lembut agar keindahannya terjaga, bukan malah diinjak-injak agar menjadi keras seperti