
Selaras Tubuh Pikiran Jiwa
Banyak orang bilang pikiran itu sumber penderitaan. Pikiran itu liar. Loncat sana, loncat sini. Tapi Pak Wayan punya analogi yang asyik. Beliau mengibaratkan hidup kita ini seperti sebuah mobil.
Tubuh kita adalah kendaraannya. Pikiran adalah sistem operasinya—kecerdasan yang menjalankan AC, lampu, dan mesinnya. Nah, kesadaran kita adalah sopirnya.
Kalau mobil itu menabrak sana-sini, apakah kita harus menyalahkan mobilnya? Tentu tidak. Mungkin sopirnya yang lagi mabuk. Jadi, kalau hidup terasa berantakan dan pikiran bikin menderita, jangan salahkan "alatnya". Salahkan "penggunanya" yang tidak sadar.
Pikiran yang digunakan oleh ego (ketidaksadaran) memang bisa merusak. Tapi pikiran yang digerakkan oleh kesadaran? Hasilnya luar biasa.
Pak Wayan bahkan membalik pepatah lama. Kalau dulu ada yang bilang agama tanpa ilmu itu lumpuh, beliau bilang: **Kesadaran tanpa pikiran itu lumpuh. Pikiran tanpa kesadaran itu buta**.
Tanpa pikiran, kesadaran tidak punya alat untuk bergerak. Tapi tanpa kesadaran, pikiran akan menabrak apa saja.
Lalu bagaimana cara menyelaraskannya? Tubuh, pikiran, dan jiwa sering kali tidak kompak.
Resepnya sederhana tapi sulit dipraktikkan: tanyakan pada diri sendiri, **"Ini penting atau tidak?"**.
Kalau tubuh ingin istirahat tapi ada tugas yang lebih penting, ambil yang penting. Sebaliknya, kalau pikiran mulai liar memikirkan hal yang tidak penting, segera sadari. Bahkan urusan doa pun harus selaras. Jangan minta damai di mulut, tapi di hati masih suka mencaci maki. Itu namanya tidak nyambung.
Pesan penutup dari Pak Wayan ini yang paling nendang buat saya. Beliau bicara soal ikan salmon.
Salmon itu berani melawan arus. Melompat melewati jeram, menghindari beruang, hanya untuk pulang ke tempat kelahirannya.
Kita pun harus begitu. Jangan jadi ikan kecil yang hanya ikut hanyut terbawa arus. Kita harus berani melawan arus ego dan ketidaksadaran untuk pulang kembali ke kesadaran sejati.
Hanya dengan begitu, kita bisa bahagia kapan saja. Tanpa perlu menyalahkan mobil yang kita kendarai.
Saya jadi berpikir: hari ini saya sedang jadi sopir yang sadar, atau sopir yang lagi "mabuk" rutinitas?
**Dahlan Iskan (Versi Mata Pena)**
