WISATAWAN ASING MENJAUH. CHINA MULAI DITINGGALKAN. BANDARA DIBIARKAN KOSONG.

WISATAWAN ASING MENJAUH. CHINA MULAI DITINGGALKAN. BANDARA DIBIARKAN KOSONG.

D
54 Tayangan video·19 Feb 2026

Krisis Infrastruktur dan Pudarnya Pesona Pariwisata China

Sektor penerbangan dan pariwisata China kini tengah menghadapi realitas pahit. Meskipun pemerintah telah memberlakukan kebijakan bebas visa bagi banyak negara, jumlah wisatawan internasional justru menurun drastis. Bandara-bandara megah bernilai miliaran dolar, termasuk Bandara Internasional Daxing di Beijing yang menjadi kebanggaan nasional, kini dilaporkan sepi peminat hingga menyerupai "terminal hantu" dengan arus penumpang yang sangat rendah.

Kondisi ini dipicu oleh hambatan struktural dan birokrasi yang kompleks. Para pelancong internasional cenderung menghindari China akibat ketatnya sistem Great Firewall yang memblokir aplikasi global seperti Google dan WhatsApp, sulitnya akses akomodasi mandiri seperti Airbnb, serta kewajiban registrasi polisi yang kaku. Selain itu, pengetatan undang-undang keamanan nasional dan laporan insiden kekerasan terhadap orang asing menciptakan iklim ketakutan yang membuat wisatawan beralih ke negara tetangga seperti Jepang, Thailand, dan Vietnam. Dampaknya makin diperparah dengan hengkangnya sejumlah maskapai internasional besar seperti Virgin Atlantic dan Qantas dari pasar China.

Di sisi domestik, terjadi ketimpangan antara pembangunan infrastruktur dan permintaan pasar. Terobsesi dengan gengsi politik dan pertumbuhan ekonomi semu, pemerintah daerah berlomba-lomba membangun bandara hingga ke tingkat kabupaten. Saat ini, dari 259 bandara yang ada, mayoritas beroperasi dengan kerugian besar. Banyak bandara hanya melayani sedikit penerbangan per hari dengan jumlah staf yang terkadang melebihi jumlah penumpang.

Ambisi pembangunan ini tidak hanya menciptakan proyek mangkrak di dalam negeri, tetapi juga beban utang melalui proyek internasional seperti di Nepal. Tanpa keterbukaan sejati dalam aspek budaya, akses informasi, dan keuangan, pembangunan bandara masif ini justru berubah menjadi liabilitas keuangan yang mengancam stabilitas ekonomi jangka panjang China di panggung dunia.