00:11 Eropa Ambil Sikap Tegas Terhadap China 01:41 Keluarga Jack Ma Kembangkan Kerajaan Properti Global 03:19 PM Jepang Pertama Kali Memecah Ambiguitas Soal Taiwan
Negara-negara Eropa mengambil sikap tegas terhadap Beijing disebabkan impor murah China membanjiri Eropa dan mengancam produsen lokal. ----------------- Meski lama tak tampil depan publik, Jack Ma ternyata memiliki koleksi properti global. Baru-baru ini istrinya, Cathy Zhang, diam-diam membeli properti mewah di London senilai $25,6 juta dolar. ----------------- PM baru Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan akan membela Taiwan jika diserang China, memicu kemarahan Beijing dan ancaman diplomatik.
Negara-negara Eropa berupaya melindungi industri mereka dari praktek perdagangan Beijing yang tidak adil dan berupaya mempererat hubungan dengan Taiwan.
Senin lalu, mantan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengunjungi Berlin dan mengirim pesan bahwa perangkat otoriter Beijing merupakan ancaman global.
Tsai membandingkan antara agresi China terhadap Taiwan dan perang Rusia di Ukraina.
Minggu lalu, Wakil Presiden Taiwan berkunjung ke Brusel dan menyuruhkan kepada anggota Parlemen Eropa untuk melawan tekanan Beijing yang meningkat di kepulauan tersebut.
Pesan itu mendapat tanggapan yang baik.
Perancis mengajak Persatuan Eropa untuk membela kepentingan ekonominya dengan mengurangi ketergantungan pada China atas produk-produk penting seperti tanah jarang,
serta menuntut perdagangan yang terbuka dan berlandaskan persaingan yang adil.
Sementara Inggris mengkaji ulang kerja sama ilmiah dengan Beijing dan membatasi pada sektor berisiko rendah seperti kesehatan dan pertanian.
Disebabkan kekhawatiran bahwa kemajuan China dalam teknologi AI berpotensi digunakan untuk tujuan militer.
Di saat Eropa mulai bersikap tegas terhadap Beijing, mereka juga terdampak ekspor murah China.
Bank Sentral Eropa mengatakan ekspor murah itu disebabkan lemahnya permintaan domestik China, alih-alih tarif AS.
Ekspor murah ini telah merugikan produksian Eropa dan mendesak adanya perlindungan yang kuat atas perdagangan.
Ini pertanda bahwa kesabaran Eropa terhadap praktik perdagangan tidak adil Beijing semakin menipis.
Jack Ma, salah satu pengusaha paling berpengaruh di China, menghilang dari sorotan sejak perselisihannya dengan Beijing mengakibatkan ia kehilangan kendali atas kerajaan bisnisnya.
Namun di balik layar, keluarga Ma diam-diam memperluas portfolio properti globalnya.
Di London, sebuah rumah bersejarah di Bulgaria dilaporkan dibeli oleh istri Ma seharga lebih dari 25 juta dolar.
Ini menempatkannya di 0,4 persen transaksi properti terbesar kota itu di tahun 2024.
Ketika rumah mewah itu terjual musim gugur lalu, identitas pembelinya masih misteri.
Kini, Financial Times mengungkap pembelinya sebagai Cathy Chang, istri pendiri Alibaba Jack Ma.
Rumah tersebut dulunya adalah rumah kedutaan dan atase pertahanan Italia.
Rumah ini memiliki enam kamar tidur dan bioskop pribadinya sendiri.
Rumah didaftarkan dengan harga sedikit di atas 28 juta, tetapi terjual seharga 25,6 juta dolar.
Properti itu menduduki peringkat penjualan termahal ke-34 di London tahun lalu, dan tambahan baru bagi portfolio properti global keluarga Ma.
Keluarga ini telah mengembangkan minat pada real estate ultraprima di seluruh Eropa dan Asia,
yang menawarkan privasi dan nilai jangka panjang dengan aktivitas pembelian yang melonjak sepanjang tahun 2024 dan 2025.
Selain rumah bersejarah di London ini, istri Ma juga membeli tiga rumah toko gabungan di distrik pusat Singapura tahun lalu,
senilai lebih dari 34 juta.
Laporan sebelumnya menghubungkan keluarga tersebut dengan sebuah kastil Perancis dan gebun anggur,
sebuah perkebunan seluas 28 ribu hektare di bagian utara New York,
dan sebuah hunian mewah di puncak Victoria Peak di Hong Kong.
Perdana Menteri Jepang yang baru terpilih, Sanae Takaichi, memecahkan ambiguitas strategis negara selama puluhan tahun.
Ia adalah pemimpin Jepang pertama yang secara langsung mengaitkan keamanan haiwan dengan Jepang,
dan secara terbuka menyatakan Jepang akan membantu Taiwan secara militer jika China menyerang.
Komentarnya memicu balasan diplomatik bekan lalu.
Diploma China di Osaka mengancam akan memenggal kepala Takaichi dalam sebuah unggahan yang kini telah dihapus di X.
Berikut selengkapnya.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, telah memicu perselisihan diplomatik dengan Beijing
setelah berkata bahwa jika China menyerang Taiwan, itu akan memicu respon militer dari Tokyo.
Saat itu, Takaichi ditanyai oleh anggota parlemen oposisi tentang kemungkinan situasi yang mengancam kelangsungan hidup,
sebuah istilah hukum yang memungkinkan Perdana Menteri Jepang mengerahkan pasukan militer negara.
Sebagai tanggapan, Takaichi memberi contoh bahwa upaya membuat Taiwan berada di bawah kendali Beijing dengan kapal perang dan kekuatan militer akan menyebabkan situasi seperti itu.
Ia kemudian menambahkan bahwa serangan terhadap kapal perang AS yang dikirim untuk mematahkan blokade China pada Taiwan
akan membuat Tokyo harus campur tangan secara militer guna mempertahankan diri dan sekutunya.
Situasi yang mengancam kelangsungan hidup didefinisikan secara luas dalam Undang-Undang Kontroversial Tahun 2015
yang memperluas cakupan militer negara itu.
Takaichi juga membuat marah Beijing dengan mempublikasikan pertemuannya bersama seorang perwakilan Taiwan pada pertemuan puncak regional di Seoul pada awal November.
China mengklaim Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai wilayahnya sendiri dan bersumpah akan menguasainya dengan kekerasan jika perlu.
Taiwan sangat menentang klaim kedaulatan China dan mengatakan hanya rakyat Taiwan yang dapat menentukan nasib Taiwan.
Pernyataan Takaichi memicu postingan ancaman dari seorang diploma China di Jepang yang menulis,
kepala kotor yang nekat ikut campur harus dipenggal tanpa ragu.
Seorang jubir Kemenlu China berkata, Beijing telah meluncurkan protes resmi pada apa yang disebutnya campur tangan terang-terangan dalam urusan internalnya.
Taiwan menyebut pernyataan diploma China pada Takaichi tersebut tidak sopan dan tidak tepat.
Menanggapi protes China, Jepang mengatakan pihaknya memahami dan menghormati posisi Beijing pada Taiwan
dan berharap masalah Taiwan akan diselesaikan secara damai melalui dialog.