
KEMARAHAN DI SELURUH ASIA, MALAYSIA DAN JEPANG BERBALIK MELAWAN TURIS CHINA
Di seluruh Asia, mulai dari Malaysia hingga Jepang dan Singapura, frustrasi memuncak karena perilaku sebagian turis Tiongkok. Peristiwa seperti turis yang memalsukan ancaman bom di Malaysia, menggunakan SIM palsu dan menangkap jangkrik di Jepang, serta minum di dalam MRT Singapura, telah memicu gelombang reaksi balik yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Masyarakat Asia mempertanyakan apakah Tiongkok telah kehilangan kendali atas citra globalnya. Di Malaysia, keluhan kecil tentang memotong antrean meledak menjadi kemarahan publik. Di Jepang, rasa malu publik dan tindakan aneh di toko-toko mengubah kekaguman menjadi kekhawatiran. Sementara itu, di Singapura, pelanggaran aturan yang terang-terangan memicu seruan untuk mempertimbangkan kembali kebijakan bebas visa.
Insiden-insiden ini mengungkapkan krisis perilaku yang lebih dalam. Hal ini diyakini berasal dari kebiasaan budaya yang dibentuk oleh kontrol otoriter di dalam Tiongkok, di mana aturan sering diakali demi kenyamanan. Di luar negeri, perilaku ini bertabrakan dengan masyarakat yang menghargai supremasi hukum dan disiplin.
Selain itu, keputusasaan ekonomi Tiongkok, dengan tingginya pengangguran kaum muda, mendorong sebagian orang untuk mencari peluang atau bahkan melakukan kejahatan di luar negeri. Ini merusak citra Tiongkok yang diperjuangkan Beijing melalui kekuatan lunak.
Sebagai respons, negara-negara Asia kini memperketat visa dan mempertanyakan hubungan pariwisata. Reaksi balik ini juga memukul komunitas migran dan pelajar Tiongkok di luar negeri, yang menghadapi kecurigaan dan rasa malu akibat ulah segelintir orang. Asia sedang mengirimkan peringatan: kesabaran telah habis.
