Guangdong, China, berjuang melawan wabah Chikungunya yang ditularkan nyamuk. Langkah-langkah ketat era COVID-19, termasuk pembatasan pergerakan, diberlakukan, menimbulkan pertanyaan warga. ------------------ AS menutup celah ekspor untuk mencegah China mendapatkan teknologi AS melalui anak perusahaan guna kepentingan militer.
00:00 Intro 00:11 China Dorong Aturan “Nol-Nyamuk” atas Virus Chikungunya 01:24 AS Perketat Pengawasan Ekspor pada Perusahaan China
Selanjutnya, Provinsi Kuantong di China Selatan sedang berjuang melawan wabah virus dari nyamuk
yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, yaitu wabah cikungunya.
Video media sosial menunjukkan langkah-langkah ketat era COVID diterapkan kembali di China.
Banyak kompleks perumahan diblokir dan warga mengalami pembatasan pergerakan.
Kota Tianmen tampaknya lebih buruk situasinya.
Laporan resmi mendokumentasikan lebih dari 3.000 kasus virus baru dalam seminggu.
Pihak Berwenang mengeluarkan peringatan insiden kesehatan masyarakat tingkat tiga beberapa hari yang lalu.
Banyak taman dan kompleks perumahan diisolasi.
Beberapa warga memposting secara daring menanyakan apa keefektifan karantina wilayah
ketika virus tersebut tidak menular dari manusia ke manusia.
Kuantong adalah salah satu provinsi terpadat di China.
Sekarang beberapa jalan telah dikosongkan oleh pihak Berwenang
karena mereka menyemprot nyamuk secara massal untuk menciptakan ruang bebas nyamuk.
Rezim China juga menggunakan slogan-slogan yang identik dengan nol covid lima tahun yang lalu.
Ini berubah menjadi tindakan keras yang membatasi kebebasan bergerak rakyat China.
Cikungunya menyebar melalui gigitan nyamuk.
Pasien biasanya menderita nyeri sendi dan otot atau demam selama berhari-hari.
AS menutup celah kemungkinan China mendapatkan teknologi AS demi kepentingan militer.
Senin lalu Departemen Perdagangan AS menerbitkan aturan baru
yang mencegah perusahaan induk AS mengekspor teknologi ke anak perusahaan
yang termasuk dalam daftar hitam.
Sebelumnya, perusahaan China yang terjelat sanksi dan kontrol ekspor oleh AS
kerap membuka anak perusahaan dan memanfaatkannya untuk mendapatkan teknologi AS.
Mangkah baru ini bertujuan untuk menutup celah tersebut.
Tak saksa teknologi asal China, Huawei, memiliki sejumlah anak perusahaan,
maka sulit bagi AS untuk sepenuhnya memutus aksesnya terhadap teknologi AS.
Huawei dan produsen semikonduktor SMIC adalah yang termasuk dalam target terbaru.
Kementerian Perdagangan China menyebut langkah itu sebagai ancaman serius.
Pantan Pejabat Dewan Keamanan AS Chris McGuire menyebutnya sebagai koreksi wajib,
karena perubahan ini akan mengharuskan eksportir AS
untuk meningkatkan uji kepatuhan terhadap pembeli.