
EKSODUS MENGEJUTKAN: SETENGAH JUTA ORANG MENGUNGSI DARI HONG KONG. LI KA-SHING MENJUAL SEGALANYA.
Gelombang kejutan mengguncang Hong Kong, diawali dengan hampir setengah juta orang yang telah pergi. Puncaknya terjadi ketika keluarga Li Ka shing, dinasti bisnis paling berpengaruh di kota itu, dikabarkan melikuidasi aset asetnya.
Miliarder berusia 97 tahun ini dilaporkan menjual rumahnya yang ikonik di 79 Deep Water Bay Road, yang oleh master Feng Shui dijuluki "tanah kemakmuran." Properti yang dibeli pada tahun 1963 sebagai hadiah pernikahan itu kini dilepas dengan harga 23% di bawah pasar. Selain itu, perusahaan perusahaan Li juga menjual hampir 400 apartemen di Greater Bay Area dengan harga obral. Aksi ini memicu kehebohan di mana warga Hong Kong bergegas membeli properti di China daratan.
Bagi banyak orang, penjualan ini memiliki makna simbolis yang mendalam: keluarga Li memutuskan hubungan dengan Hong Kong. Mereka khawatir ini menandai berakhirnya era taipan Hong Kong.
Keputusan Li ini tidak lepas dari masa lalunya. Pada tahun 1996, putranya, Victor Li, diculik oleh Cheung Tze keung, gangster yang terkait dengan geng Big Circle dari China daratan. Peristiwa itu mengubah Li selamanya. Ia menyadari bahwa kekayaan dan kekuasaan tidak menjamin keamanan. Sejak saat itu, Li menjadi sangat obsesif terhadap keamanan dan mulai memindahkan asetnya ke luar negeri, terutama setelah Hong Kong dikuasai Beijing pada tahun 1997.
Tindakan Li yang secara konsisten menjual asetnya di Hong Kong dan China daratan, meskipun memicu kemarahan Beijing, dilihat sebagai peringatan dini. Ia yang dulunya investor pertama yang berinvestasi di China, kini menjadi yang pertama menarik diri, dan banyak yang khawatir orang lain akan mengikutinya.
Gelombang kejutan kedua datang dari Parlemen Hong Kong di pengasingan, yang berisi para aktivis pro demokrasi. Biro Keamanan Hong Kong mengeluarkan surat perintah penangkapan dengan imbalan hadiah 1 juta dolar AS untuk 19 anggota parlemen tersebut. Aksi ini memicu kecaman internasional, dengan AS, Inggris, Kanada, dan Australia menyebutnya sebagai represi transnasional.
Bagi para aktivis, setiap surat perintah penangkapan justru memperkuat legitimasi mereka di mata dunia. Mereka memposisikan diri sebagai pemerintah di pengasingan yang siap mengambil alih jika rezim China goyah, sementara mereka melihat pemerintah Hong Kong saat ini sebagai perpanjangan tangan Beijing.
