
GUANGZHOU: KOTA TINGKAT PERTAMA AKAN JATUH? | LI KA-SHING PUN MENJUAL SAHAM
Kondisi ekonomi di Guangzhou, yang dulunya dianggap sebagai salah satu dari empat kota tingkat satu di Tiongkok, sedang mengalami resesi. Hal ini ditandai dengan fenomena penurunan pengeluaran masyarakat. Ada laporan mengenai tiket pesawat yang sangat murah dari Guangzhou namun tidak diminati, dan jumlah penumpang kereta cepat yang sepi. Banyak toko, terutama di jalan-jalan komersial, telah tutup atau kosong.
Guangzhou, yang pernah menjadi pintu gerbang selatan Tiongkok, kini mengalami kemerosotan ekonomi. Banyak perusahaan besar melakukan PHK, bisnis kecil berjuang, dan bahkan pedagang kaki lima kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Meskipun dari luar kota ini terlihat ramai, banyak warganya memiliki beban finansial yang berat, seperti cicilan hipotek dan mobil, sementara rata-rata gaji hanya sekitar $911. Banyak orang, termasuk lulusan perguruan tinggi, kesulitan mencari pekerjaan, dan tingkat pengangguran menjadi masalah serius.
Data PDB kuartal pertama tahun ini menunjukkan bahwa Guangzhou telah dilampaui oleh kota-kota lain, seperti Chongqing dan Shenzhen, dan bahkan Hongjo. Tingkat pertumbuhan PDB-nya hanya 3%, menempatkannya di peringkat kedua terbawah di antara 30 kota teratas. Provinsi Guangdong secara keseluruhan juga terkena dampak, dengan banyak pabrik yang tutup, menyebabkan banyak pekerja migran kembali ke kampung halaman mereka. Fenomena ini juga terlihat dari tingkat kekosongan properti sewaan yang tinggi di Guangzhou.
Selain itu, ada tren banyak warga Guangzhou yang mencari cara untuk pindah, termasuk berimigrasi ke Hong Kong. Hal ini menunjukkan hilangnya daya tarik kota. Perusahaan besar, seperti yang dimiliki oleh taipan Hong Kong, Li Ka-shing, bahkan mulai menarik diri dari investasi real estat di wilayah tersebut dengan menjual properti dengan harga diskon besar, yang menunjukkan kepercayaannya yang rendah terhadap prospek ekonomi Guangzhou.
Secara keseluruhan, video ini menggambarkan kemerosotan ekonomi yang parah di Guangzhou, yang ditandai dengan rendahnya pengeluaran, tingkat pengangguran yang tinggi, penutupan bisnis, dan kepergian penduduk. Kondisi ini mencerminkan dampak kebijakan ekonomi dan lingkungan bisnis yang sulit, membuat warga yang berjuang secara finansial dan mempertanyakan masa depan mereka di kota tersebut.
