
MIMPI BURUK BENDUNGAN TIGA NGARAI—RETAKAN MENGANCAM JUTAAN ORANG! KEBENARAN YANG TAK DIAKUI BEIJING
Pada musim panas 2025, China dilanda banjir besar akibat hujan tanpa henti dan sungai yang meluap. Meskipun pejabat mengakui 329 sungai telah melampaui batas bahaya, banyak yang melihat bencana ini sebagai konsekuensi dari kesombongan manusia, terutama terkait dengan Bendungan Tiga Ngarai.
Awalnya dipuji sebagai bendungan yang bisa menahan banjir seribu tahunan, Bendungan Tiga Ngarai kini menjadi liabilitas. Untuk mengurangi tekanan air, pihak berwenang membuka 11 pintu air, melepaskan aliran yang membanjiri daerah hilir. Para pejabat menyebutnya keharusan teknis, namun penduduk menganggapnya sebagai "banjir buatan manusia," karena Beijing mengorbankan lahan pertanian dan kota kota kecil untuk melindungi pusat industri.
Seorang insinyur hidrolik, Wong Wayuo, telah memperingatkan bahwa bendungan ini lebih berfokus pada keuntungan hidroelektrik daripada pencegahan banjir. Bendungan sengaja diisi penuh sebelum musim hujan, menghilangkan penyangga keamanan. Selain itu, China memiliki hampir 100.000 bendungan tua yang kondisinya memprihatinkan. Pelepasan air yang tiba tiba dari bendungan bendungan ini telah menenggelamkan desa desa tanpa peringatan.
Kondisi Bendungan Tiga Ngarai juga mengkhawatirkan. Para ahli independen melaporkan adanya retakan dan peningkatan aktivitas seismik. Beberapa bahkan menyatakan bobot bendungan telah mengubah rotasi Bumi. Tragedi juga terjadi saat pembangunan bendungan, di mana 1,3 juta orang dipaksa pindah, dan banyak peninggalan budaya lenyap.
Bencana ini memunculkan ketakutan akan terulangnya tragedi seperti keruntuhan Bendungan Bangao tahun 1975 yang menewaskan sekitar 230.000 orang. Para ahli memperingatkan bahwa keruntuhan Bendungan Tiga Ngarai akan jauh lebih dahsyat dan berpotensi mengguncang fondasi kekuasaan Partai Komunis China. Meskipun media pemerintah berusaha menyembunyikan kebenaran, video dan kesaksian penduduk menunjukkan kehancuran yang disengaja.
Saat air Bendungan Tiga Ngarai melonjak hingga melewati batas bahaya, Beijing panik. Mereka mengirim militer untuk melindungi bendungan, memilih untuk menyelamatkannya bahkan jika itu berarti menenggelamkan rakyat di hilir. Pemerintah memilih diam, dan alih alih melakukan penyelamatan, mereka malah menyensor informasi. Bagi jutaan orang China, banjir ini bukan lagi bencana alam, melainkan pengkhianatan dari pemerintah yang seharusnya melindungi mereka.
