
PERUBAHAN KEBIJAKAN KELAHIRAN CHINA YG MENGEJUTKAN: DARI KEBIJAKAN SATU ANAK MENJADI INSENTIF TUNAI
Peningkatan jumlah kaum muda di China yang memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak telah menyebabkan penurunan drastis angka kelahiran, yang berujung pada penutupan banyak taman kanak kanak di seluruh negeri. Menurut data dari Kementerian Pendidikan China, 20.000 taman kanak kanak tutup pada tahun 2024, yang berarti lebih dari 50 tutup setiap hari.
Pemicu utama tren ini adalah tekanan ekonomi dan sosial yang masif. Banyak kaum muda merasa bahwa gaji rendah dan biaya hidup, terutama biaya perumahan dan pendidikan anak, terlalu tinggi untuk ditanggung. Satu orang kini tidak lagi mampu menafkahi seluruh keluarga seperti dulu. Banyak lulusan baru dan pekerja berpenghasilan rendah merasa sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri. Beberapa orang bahkan memiliki hipotek besar yang membebani mereka. Selain itu, biaya untuk membesarkan anak, termasuk biaya sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler, sangatlah besar.
Dampak lain dari tekanan sosial adalah kesulitan yang dihadapi wanita. Wanita yang sudah menikah dan belum memiliki anak sering kali menghadapi diskriminasi di tempat kerja. Setelah melahirkan, mereka sering kali harus berjuang untuk kembali ke posisi mereka sebelumnya. Banyak wanita juga menanggung beban membesarkan anak hampir sendirian, yang dikenal sebagai "pengasuhan janda," di tengah tekanan dari tempat kerja, keluarga, dan masyarakat.
Meskipun pemerintah China telah berupaya meningkatkan angka kelahiran dengan memberikan insentif seperti subsidi tunai, tunjangan bulanan, dan subsidi perumahan, banyak kaum muda berpendapat bahwa bantuan ini tidak cukup untuk mengatasi masalah mendasar. Mereka merasa bahwa keputusan untuk tidak memiliki anak didorong oleh rasa tanggung jawab, bukan keegoisan, karena mereka ingin memberikan kehidupan yang layak bagi anak anak mereka.
