Amerika Serikat dan Tiongkok sekali lagi memperpanjang gencatan tarif selama 90 hari, menunda pengenaan tarif tiga digit yang dapat menyebabkan embargo virtual. Keputusan ini krusial bagi ritel AS yang menimbun stok jelang liburan akhir tahun. Presiden Trump mengumumkan penangguhan ini di media sosial, sementara Tiongkok juga menunda tarif tambahan dan daftar pembatasan perusahaan AS, demi stabilitas ekonomi global. Meskipun penundaan tercapai, tarif AS saat ini masih membebani Tiongkok, memperburuk angka pengangguran dan menurunkan kepercayaan konsumen di sana.
Senin kemarin AS dan China kembali memperpanjang gejatan tarif 90 hari ke depan menunda pemberlakuan tarif 3 digit atas masing-masing import.
Para pemain retail AS bergegas menimbun stok barang jelang musim liburan akhir tahun.
Simak selengkapnya.
Selama beberapa jam mendekati batas waktu selasa kemarin,
Beijing dan Washington sepakat memperpanjang gejatan tarif selama 90 hari ke depan
menunda pemberlakuan biaya masuk 3 digit atas masing-masing barang,
di mana tarif AS atas impor China akan naik menjadi 145 persen
dan tarif China untuk barang AS menjadi 125 persen,
dalam mana hal ini bisa menjadi embargo virtual antara kedua negara.
Penundaan ini dinilai krusial khususnya bagi pemain retail AS disebabkan lonjakan impor jelang akhir tahun.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan penangguhan tarif tinggi hingga November melalui akun media sosialnya pada Senin.
Sementara itu Kementerian Dagang China juga mengumumkan penangguhan tarif tambahan
serta menunda penambahan beberapa perusahaan AS yang masuk dalam target
sejak April ke dalam daftar pembatasan perdagangan dan investasi mereka.
Menurut China, maka ini bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi global
sesuai kesepakatan kedua negara pada 5 Juni.
Mei sebelumnya, kedua pihak telah menyepakati gejatan tarif 90 hari di Genewa
guna memberi ruang untuk pembicaraan.
Pertemuan lanjutan kembali digelar di Sweden akhir Juli,
di mana tim delegasi AS kembali ke Washington dan mengusulkan Presiden Trump untuk memperpanjang batas waktu.
Data terbaru Departemen Perdagangan AS menunjukkan impor dari China melonjak di awal tahun
dan mengalami penurunan tajam pada Juni.
Akibatnya, defisit perdagangan AS dengan China turun drastis menjadi 9,5 miliar dolar.
Ini merupakan angka terendah sejak 2004.
Defisit ini telah menyusut lebih dari 70 persen dalam setahun terakhir.
Selain masalah tarif, AS juga mendesak China untuk berhenti membeli minyak Rusia
guna mengakhiri konflik Rusia-Ukraina.
Bahkan mengancam akan memperlakukan tarif tambahan jika China menolak.
Meski AS dan China berhasil menunda tarif tiga digit,
namun tarif AS saat ini agaknya masih memboboli China.
Para ekonom menyebut bahwa tingkat pengangguran di China memburuk selain karena tarif,
juga karena kelebihan kapasitas industri.
Kondisi ini menekan pendapatan pekerja,
mengurangi percaya diri mereka akan masa depan dan berujung pada menurunnya belanja,
bagi banyak kepercayaan konsumen di China rendah dan penjualan retail melambat.