
EPIDEMI BARU INI MENYEBAR SANGAT CEPAT DI CHINA. PENGUJIAN ASAM NUKLEAT KEMBALI DILAKUKAN!
Kasus demam Chikungunya di Foshan, Provinsi Guangdong, China, meningkat tajam, dengan total 4.077 kasus yang dikonfirmasi hingga 25 Juli. Virus ini menyebar dengan sangat cepat dan dapat menyebabkan nyeri sendi parah, yang dalam 20% kasus berkembang menjadi radang sendi kronis yang dapat berlangsung bertahun tahun dan menyebabkan hilangnya mobilitas. Belum ada pengobatan atau vaksin khusus yang efektif, dan hampir semua orang rentan. Meskipun virus ini tidak menular dari manusia ke manusia secara langsung, ia dapat menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini paling agresif antara pukul 4 sore hingga 7 malam.
Sebagai respons, pemerintah Foshan telah mengaktifkan mekanisme tanggap darurat kesehatan masyarakat tingkat tiga. Tindakan pencegahan yang dilakukan termasuk pengerahan polisi bersenjata untuk membasmi nyamuk, peluncuran kampanye pengendalian nyamuk besar besaran, dan memulai kembali pengujian asam nukleat. Prosedur ini mengharuskan banyak penduduk untuk mengantre untuk tes darah. Di distrik Shunda, 376 petugas disinfeksi dimobilisasi untuk melakukan disinfeksi berbasis saturasi.
Beberapa langkah pencegahan memicu kontroversi dan ketakutan di antara penduduk, yang membandingkannya dengan kembali ke masa pandemi kovid 19. Contohnya, komite lingkungan secara paksa memasuki rumah, mengganti kunci, dan bahkan memutus aliran listrik bagi penduduk yang menolak untuk bekerja sama. Beberapa warga yang menjalani tes darah di rumah sakit secara paksa ditahan selama beberapa jam sampai hasilnya keluar. Beberapa komentator di media sosial mempertanyakan kebijakan ini dan menuduh pemerintah Partai Komunis China menyalahgunakan kekuasaan. Sementara itu, demam Chikungunya juga telah menyebar ke Beijing, dan warga di Guangdong disarankan untuk menghindari bepergian ke Foshan dan distrik distrik terkait.
