
Yogyakarta Soldier Exhibition
Catur Sagatra merupakan kegiatan anjangsana tahunan empat Dinasti Mataram Islam sebagai bentuk penguatan silaturahmi dan pelestarian budaya masing-masing. Keempat Dinasti Mataram Islam yakni Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Pakualaman dan Pura Mangkunegaran.
"Apabila dimaknai secara mendalam, Catur Sagatra adalah konsep kosmologi Jawa yang bertumpu pada aspek mikro dan makrokosmos. Meski masing-masing memiliki fungsi dan peran tersendiri, namun tetap dalam konteks satu keutuhan Gatra yang saling melengkapi," ujar Sri Paduka membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X
Dengan pengertian 'Kesatutubuhan' itu, Sri Paduka menyampaikan dapat dipetik makna keempat Dinasti Mataram sudah saatnya 'gumregah ' melakukan Renaisans 'Catur Sagotrah' secara berkelanjutan demi manunggalnya ikatan kekerabatan Trah Agung Mataram. Maknanya seiring dengan pergelaran tari yang menggambarkan ikatan kultural tersebut. Harapannya bisa bermuara pada ikatan kekerabatan, seiring 'gareget', 'lungguh, sêngguh, tangguh', 'sawiji, grégêt, sêngguh, ora-mingkuh' dan 'hanêbu sauyun'.
" Gareget inilah yang selayaknya diikuti keterpaduan sinergis budaya-budaya unggul yang dimiliki Trah Paku Buwono dalam olah-seni tari, Trah Hamengku Buwono dalam olah-kepemimpinan, Trah Pakualaman dalam olah-pawiyatan dan Trah Mangkunegaran dalam olah-kapujanggan. Keterpaduan budaya itulah sejatinya merupakan wujud gerakan Renaisans Mataram," ungkapnya.
Sri Paduka juga menaruh harapan besar, budaya-budaya unggul itu dapat disegarkan maknanya seiring perubahan zaman, tanpa meninggalkan makna sejatinya. Nilai-nilai inilah yang selanjutnya di aktualisasi kepada masyarakat sebagai panduan moral dan perekat kohesi sosial serta menjadi sumbangsih nyata Catur Sagatra untuk Indonesia.
Humas DIY Yogyakarta
Catur Sagatra is an annual visitation activity of the four Islamic Mataram Dynasties as a form of strengthening friendship and preserving each culture. The four Islamic Mataram Dynasties are the Ngayogyakarta Hadiningrat Palace, the Surakarta Kasunanan Palace, the Pakualaman Temple and the Mangkunegaran Temple.
"If interpreted deeply, Catur Sagatra is a Javanese cosmological concept that is based on micro and macrocosmic aspects. Although each has its own function and role, it remains in the context of one complete Gatra that complements each other," said His Majesty reading the speech of the Governor of the Special Region of Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X
With the understanding of 'Unity', His Majesty said that the meaning of the four Mataram Dynasties can be taken that it is time for 'gumregah' to carry out the Renaissance of 'Catur Sagotrah' continuously for the sake of uniting the ties of kinship of the Great Mataram Lineage. The meaning is in line with the dance performance that depicts the cultural ties. The hope is that it can lead to kinship ties, along with 'gareget', 'lungguh, sêngguh, kuat', 'sawiji, grégêt, sêngguh, ora-mingkuh' and 'hanêbu sauyun'.
"This Gareget is what should be followed by the synergistic integration of superior cultures owned by the Paku Buwono Lineage in dance, the Hamengku Buwono Lineage in leadership, the Pakualaman Lineage in pawiyatan and the Mangkunegaran Lineage in kapujanggan. This cultural integration is truly a manifestation of the Mataram Renaissance movement," he said.
His Majesty also has high hopes that these superior cultures can be refreshed in meaning along with the changing times, without leaving their true meaning. These values are then actualized to the community as a moral guide and social cohesion glue and become a real contribution of Catur Sagatra for Indonesia.
Humas DIY Yogyakarta
#DuniaBersih
#Kebaikanitukeren
#KindnessIsCool
#Ganjing World
#Influencer
#GJW
#GJWmotivation
#Education
#Ganjing World Stories
#GanJing.com
#Ganjingcampus
#Spiritual
#4thofJuly
#budaya
#senibudaya
#Indonesiaku
#etikadigital
