
Tari Klasik di Keraton Yogyakarta
Tari Klasik di Keraton Yogyakarta
Editor: admin
15-05-2018
Seni tari menempati posisi sangat terhormat di Keraton Yogyakarta. Sejarah seni tari gaya Yogyakarta membentang sepanjang sejarah kesultanan ini sendiri. Keberadaannya menyatu dengan dinamika kehidupan di keraton dan menjadi pegangan hidup para pelakunya.
Sejarah Singkat Tari Klasik Gaya Yogyakarta
Tari klasik gaya Yogyakarta telah ada sejak berdirinya Kesultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta tidak hanya membagi wilayah, namun juga membagi khazanah budaya. Salah satunya adalah seni tari. Kesunanan Surakarta menciptakan corak tari gaya baru sedangkan Kesultanan Yogyakarta melanjutkan dan mengembangkan gaya tari yang sudah ada. Oleh karena itulah tari klasik gaya Yogyakarta juga disebut sebagai Joged (tari) Mataram.
Sri Sultan Hamengku Buwono I bukan sekadar mencintai seni tari, namun ia juga merupakan penari yang handal. Semasa ia memerintah, ia menciptakan beragam tarian seperti Beksan Lawung, Beksan Etheng, dan dramatari Wayang Wong.
Tari-tari tersebut awalnya tumbuh dan diajarkan di dalam lingkup tembok keraton. Baru pada 17 Agustus 1918, tari klasik gaya Yogyakarta mulai diperkenalkan keluar dari keraton dengan ditandai berdirinya perkumpulan Krida Beksa Wirama. Perkumpulan ini didirikan oleh dua putera Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan mendapat restu dari Sultan sendiri.
Karaton Ngayogjakarta Hadiningrat
Classical Dance in the Yogyakarta Palace
Editor: admin
05-15-2018
Dance occupies a very honorable position in the Yogyakarta Palace. The history of Yogyakarta-style dance stretches throughout the history of the sultanate itself. Its existence is integrated with the dynamics of life in the palace and becomes the life support of its practitioners.
A Brief History of Yogyakarta-style Classical Dance
Yogyakarta-style classical dance has existed since the founding of the Yogyakarta Sultanate. The Giyanti Agreement that divided the Mataram Kingdom into the Yogyakarta Sultanate and the Surakarta Sunanate not only divided the territory, but also divided the cultural treasures. One of them is dance. The Surakarta Sunanate created a new style of dance while the Yogyakarta Sultanate continued and developed the existing dance style. That is why Yogyakarta-style classical dance is also called Joged (dance) Mataram.
Sri Sultan Hamengku Buwono I not only loved dance, but he was also a skilled dancer. During his reign, he created various dances such as Beksan Lawung, Beksan Etheng, and the Wayang Wong dance drama.
These dances initially grew and were taught within the palace walls. It was only on August 17, 1918, that classical Yogyakarta-style dance began to be introduced outside the palace, marked by the establishment of the Krida Beksa Wirama association. This association was founded by two sons of Sri Sultan Hamengku Buwono VII and received the blessing of the Sultan himself.
Karaton Ngayogjakarta Hadiningrat
#DuniaBersih
#Kebaikanitukeren
#KindnessIsCool
#Ganjing World
#Influencer
#GJW
#GJWmotivation
#Education
#Ganjing World Stories
#GanJing.com
#Ganjingcampus
#Spiritual
#4thofJuly
#budaya
#senibudaya
#Indonesiaku
