
Mata Phena Pahlawan Konstitusi, Bukan Pengkhianat Konstitusi #indonesia #indonesiaku #konstitusi #

Setiap 10 November, sikap kepahlawanan kita dipertanyakan. Apakah masih ada jiwa pahlawan ada di hati kebanyakan orang Indonesia? Apakah merah putih masih berkibar-kibar di hati mereka? Pertempuran 10 November 1945 memang dahsyat. Seorang perwira tentara Inggris yang mengalami momen waktu itu mengatakan ‘Inferno’. Neraka!. Walaupuan Inggris unggul dalam persenjataan dari tentara republik, tapi mereka kalah dalam jiwa dan semangat kepahlawanan. Manusia-manusia Indonesia itu yang sekitar 3 bulan gandrung dan euforia kemerdekaan, merasa ditantang kembali ketika ada kekuatan dari luar ingin menjajah kembali tanah airnya. Lebih baik mati berkalang tanah dari pada terjajah kembali. Semangat kepahlawan itu menjangkiti para pejuang arek-arek Suraboyo melawan dengan senjata apa saja yang mereka punya untuk menghalau sang penjajah. Di atas kertas, mereka pasti kalah, mereka pasti binasa di tangan alutsita yang sudah moderen di masanya.
Memang para pejuang banyak yang gugur dan Surabaya luluh lantah dibombardir. Tapi pesan yang ingin disampaikan adalah gelombang semangat kepahlawanan itu menggetarkan musuh. Bagaimana tidak menggetarkan, para pejuang tidak peduli lagi dengan hidup dan mati. Ditembak satu maju sepuluh. Di tembak sepuluh, maju seratus. Ditembak seratus, maju seribu. Hingga amunisi sang opressor habis, mereka tidak pernah berhenti berkorban untuk tanah air tercintanya. Bagi mereka inilah sebuah kesempatan dan penghormatan menumpahkan darahnya untuk republik. Merdeka atau mati.
MT
