Kisah Inspiratif: Kisah Seorang Mama dan Anak Perempuannya
Ketika seseorang masih dikategorikan sebagai anak di bawah umur, maka orang tualah yang wajib memastikan bahwa anaknya dalam pengawasan dan bimbingan moral.
Kebaikan atau keberhasilan di satu sisi jangan membuat lengah di sisi lainnya.
Jika anak membuat kesalahan pun, adalah kewajiban orangtua untuk membimbingnya kembali ke jalan yang benar dan kembali ke jalan Tuhan.
Kisah seorang mama dan anak perempuannya.
Suatu hari, ada seorang gadis remaja yang tinggal dengan mamanya yang cukup protektif.
Kemana saja anak gadisnya itu pergi, sang mama akan selalu merasa khawatir
dan akan menanyainya dengan detail hingga si anak gadis menjadi kesal.
Pada suatu hari, mama dan si anak gadis ini bertengkar lagi.
Tia, dengarkan mama ya, kalau kamu pergi, harus selalu minta izin mama.
Kamu itu anak perempuan, tau?
Iya, ma. Bahal banget sih.
Tia kan jalan-jalannya sama teman-teman sekolah. Lagian kan kita cewek semua.
Mama Tia terlihat kesal.
Di jamannya, anak perempuan tidak pernah keluar malam
dan selalu menurut pada orang tua mereka.
Tia menengok jam tangannya, lalu berkata,
Ma, ini baru jam delapan. Jangan kumoh gitu dong, ma.
Ya kan udah gede, udah SMA. Malu dong kalau gak gahul.
Tia pun meninggalkan mamanya sendirian di ruang makan
dan berlari keluar karena teman-temannya sudah datang menjemputnya.
Mama Tia merasa tidak berdaya.
Ia hanya bisa berharap anak gadisnya itu berhati-hati.
Beberapa jam kemudian, ia berusaha menelpon Tia, namun Tia tidak menjawab.
Karena tidak kuat menahan kantuk, ia pun pergi tidur dengan perasaan cemas.
Tia baru pulang ke rumah jam dua malam.
Ia berjingkat pelan-pelan ke kamar tidurnya agar tidak membangunkan sang mama.
Esok paginya, mama Tia menengok putrinya dan merasa lega
melihat anaknya itu sedang terelap di kasurnya.
Ia pun membangunkan Tia dan menegurnya.
Jam berapa kamu pulang tadi malam?
Jam sebelas lewat, ma.
Kata Tia berbohong.
Bohong kamu, mana mungkin jam sebelas?
Mama menunggumu hingga jam dua belas.
HPmu juga sengaja dimatikan ya?
Aduh mama, jangan khawatir deh.
Dia sudah besar, dia sudah bisa membedakan mana yang salah dan benar.
Dia tidak akan mengecewakan mama, oke?
Coba mama lihat prestasi Tia, adakah yang turun?
Semua berjalan baik kan, ma?
Mama pun terdiam.
Tia memang adalah seorang pelajar yang cemerlang.
Walaupun ia masih sering merasa khawatir,
ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa putrinya itu memang sudah besar dan patut dipercaya.
Hingga suatu hari, mama mulai curiga putrinya itu sedang berpacaran dengan seseorang.
Ada orang yang terus-menerus menelpon putrinya,
dan mereka bisa bercakap-cakap hingga berjam-jam.
Mama pun menanyai Tia.
Tia, siapa sih yang menelpon kamu terus?
Apa kamu sudah punya pacar sekarang?
Ih, mama tahu aja.
Yang nelpon Tia terus itu namanya Dhani.
Lagi PDK tema dia.
Tia, kamu harus berhati-hati saat bergaul dengan laki-laki ya.
Ingat selalu pesan mama padamu.
Jaga kesucian dirimu.
Aduh, mama kuno banget, bener.
Jangan khawatir deh, ma. Tia bisa jaga diri kok.
Hari demi hari berlalu,
Tia akhirnya berkata pada mamanya bahwa dia dan Dhani kini sudah berpacaran.
Tia pun mengenalkan Dhani pada mamanya,
yang ternyata adalah seorang pemuda tampan yang sopan.
Setiap berkunjung, Dhani selalu membawa buah tangan untuk mama Tia.
Sehingga kepercayaan mama Tia mulai terbentuk,
dan ia sudah tidak menanyai Tia lagi jika ia pergi dengan Dhani.
Ia yakin Dhani akan menjaga putrinya dengan baik.
Namun pada suatu hari,
bakali lintar di siang hari bolong,
Tia mengaku pada mamanya bahwa ia tengah berbadan dua.
Mama, maafkan Tia ya, ma.
Tia sudah melanggar kepercayaan mama.
Kandungan Tia sudah dua bulan sekarang.
Mama Tia bagaikan serangan jantung.
Dia menatap Tia tidak percaya.
Tia, bagaimana mungkin?
Dhani gak mau tanggung jawab, ma.
Tia disuruh gugurin aja.
Lagian dia sekarang kelas tiga.
Bentar lagi mau ujian.
Mana mungkin bisa menikah sekarang, kata Tia.
Bisa dikeluarin dari sekolah.
Dia bilang papa mamanya juga pasti bakal marah besar, ma.
Pikiran mama Tia menjadi kalut dan bingung.
Akhirnya dalam keadaan panik,
Tia dan mamanya sepakat untuk menggugurkan kandungan Tia
demi masa depannya.
Seminggu kemudian mereka pergi ke klinik aborsi
dan Tia yang ketakutan berkata pada mamanya.
Mama, apapun yang terjadi ini bukan salah mama ya.
Ini salah Tia sendiri.
Tia tidak mendengarkan nasihat mama.
Maafkan Tia ya, ma.
Tia, kamu jangan ngomong begitu.
Mama tidak menyalahkan Tia.
Yang penting habis ini,
kamu harus ingat baik-baik pelajaran ini.
Namun sayang sekali, aborsi itu gagal.
Tia meninggal akibat kehilangan darah yang sangat banyak.
Mama Tia kini hanya bisa meratapi dan menanisi nasib putrinya yang malang itu.
Ketika seseorang masih dikategorikan sebagai anak di bawah umur,
maka orang tualah yang wajib memastikan bahwa anaknya dalam pengawasan dan bimbingan moral.
Kebaikan atau keberhasilan di satu sisi,
jangan membuat lengah di sisi lainnya.
Jika anak membuat kesalahan pun,
adalah kewajiban orang tua untuk membimbingnya kembali ke jalan yang benar
dan kembali ke jalan Tuhan.