
Data Nasional Indonesia Dalam Keadaan Darurat, Perlu Penanganan Serius
Pemerhati telematika & multimedia Dr. KRMT Roy Suryo menanggapi kasus peretasan Pusat Data Nasional (PDN) sejak Kamis, (20/6/2024). Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Letjen TNI Hinsa Siburian, mengatakan bahwa server mengalami serangan brain chiper ransomware pengembangan terbaru bernama lockbit 3.0.
Roy Suryo menilai Kementerian Komunitas kasi & Informasi yg menjadi Garda depan negara dlm bidang ini tampak sangat kedodoran alias hanya bisa "Ela elo" belaka menghadapi kasus yg memang menjadi tanggungjawabnya. Mereka memang tampak berusaha "ngeles" utk menutupi ketidaktahuannya, namun hal tsb malah makin menambah citra buruk yg ada.
Bagaimana tidak? Mulai dari abai-nya terhadap kemunculan Situs Ela Elo yg sempat disebut2 Netizen sebagai "produk Kominfo", Publikasi Ucapan Selamat Ulang Tahun ke-63 JokoWi yg justru disebut2 Netizen bergaya "Duka Cita" yg akhirnya dihapus sendiri oleh Kemkominfo, Diobralnya data2 INAFIS di Darkweb, hingga pengumuman Kepala BSSN Hinsa Siburian terhadap kasus Ransomware PDNs (Pusat Data Nasional sementara) dan yg terbaru Publikasi Kebocoran Data2 BAIS oleh MoonzHaxor di BreachForums hari ini juga, menjadi kekalahan bertubi-tubi yg tidak bisa dihindari.
Saya tidak akan terlalu fokus pada kasus Data BAIS yg spt kasus Data INAFIS kemarin disampaikan oleh akun X / Twitter FalconFeeds.io @FalconFeedsio bahwa ada Pelanggaran Data BAIS yg dibocorkan MoonzHaxor -salah satu anggota terkemuka BreachForums- di Forum tsb. Kebocoran tersebut mencakup file sampel, dgn kumpulan data lengkap tersedia untuk dijual. Pelanggaran ini menyusul insiden serupa pada tahun 2021 di mana jaringan internal Badan Intelijen Negara disusupi oleh kelompok Tiongkok.
