Asap tipis mengepul dari tungku perunggu di sebuah ruangan perpustakaan kuno Dinasti Zhou. Di sana, di antara ribuan gulungan bambu yang berdebu, duduklah seorang pria tua bernama Li Er—yang kelak dunia mengenalnya sebagai Lao Zi.
Selama puluhan tahun, ia bertugas menjaga arsip kekaisaran. Ia membaca segala hal: hukum manusia, sejarah perang, hingga silsilah raja-raja. Namun, semakin banyak ia membaca tentang ambisi manusia, semakin ia merasa bahwa dunia sedang berlari kencang menuju jurang kegelapan.
Kepergian Sang Penjaga Cahaya
Suatu pagi di musim gugur, Lao Zi melihat ke luar jendela. Dunia di sekitarnya penuh dengan korupsi, kekacauan, dan kebisingan yang tak bermakna. Ia memutuskan sudah waktunya untuk pergi. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk kembali ke pelukan alam yang jujur.
Dengan tenang, ia menaiki seekor kerbau air yang lamban dan mulai menempuh perjalanan ke arah barat, menuju Pegunungan Han Gu. Kerbau itu adalah simbol yang sempurna: kuat namun tidak agresif, bergerak lambat namun pasti—persis seperti filosofi yang ia pegang.
Pertemuan di Gerbang Batas
Ketika ia mencapai gerbang perbatasan tersier, seorang penjaga gerbang bernama Yin Xi melihat sosok tua itu dari kejauhan. Yin Xi bukan penjaga biasa; ia adalah seorang pencari kebenaran yang telah lama mengamati rasi bintang. Ia melihat cahaya ungu yang aneh menyelimuti langit dari arah timur, pertanda bahwa seorang bijak akan melintas.
Saat Lao Zi tiba di gerbang, Yin Xi berlutut dan menghalangi jalannya.
"Guru," kata Yin Xi dengan suara bergetar. "Anda akan meninggalkan kami dan pergi ke tempat yang sunyi. Saya mohon, sebelum Anda pergi, tuliskanlah hikmah Anda untuk kami yang masih terjebak di dunia ini."
Lao Zi terdiam. Ia tidak pernah ingin menjadi guru. Baginya, kebenaran yang sejati tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Namun, melihat ketulusan di mata sang penjaga, ia pun turun dari kerbaunya.
Kelahiran Dao De Jing
Selama beberapa hari di pos penjagaan yang sunyi itu, Lao Zi mengambil kuas dan tinta. Ia menulis 5.000 kata yang akan mengubah jalannya sejarah pemikiran manusia. Ia menulis tentang Dao—Jalan Alam Semesta yang tak terlihat namun menggerakkan segalanya.
Ia menulis kalimat pembuka yang legendaris:
"Dao yang dapat dijelaskan bukanlah Dao yang abadi. Nama yang dapat disebutkan bukanlah Nama yang abadi."
Ia bercerita tentang air, elemen yang paling ia kagumi. "Air adalah hal yang paling lembut di dunia, namun ia mampu menaklukkan batu yang paling keras. Ia mengalir ke tempat yang paling rendah yang dibenci orang, dan itulah sebabnya air menyerupai Dao."
Ia mengajarkan tentang Wu Wei, seni bertindak tanpa memaksa. Seperti pohon yang tumbuh tanpa suara, atau bintang yang berputar tanpa diperintah, hidup seharusnya selaras dengan ritme alam, bukan melawannya.
Menghilang di Balik Kabut
Setelah selesai menulis gulungan itu, Lao Zi menyerahkannya kepada Yin Xi. Tanpa upacara besar, tanpa tuntutan untuk dipuja, ia kembali menaiki kerbau airnya.
Yin Xi berdiri di gerbang, memeluk gulungan bambu itu erat-erat, sambil menatap punggung sang pria tua yang perlahan-lahan menghilang ditelan kabut pegunungan menuju barat. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi setelah itu. Beberapa mengatakan ia hidup selama ratusan tahun di hutan, yang lain mengatakan ia menyatu dengan angin.
Lao Zi meninggalkan dunia bukan dengan membawa harta atau kekuasaan, melainkan dengan meninggalkan sebuah cermin bagi umat manusia untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri.
Pesan dari Kisah Ini:
Di dunia yang selalu menuntut kita untuk menjadi "sesuatu" atau memiliki "segalanya", Lao Zi mengingatkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kesederhanaan, dan kebijaksanaan tertinggi sering kali ditemukan dalam keheningan.