Di bawah gantung langit Dinasti Tang yang keemasan, di sebuah desa kecil dekat Gunung Yunmu, hiduplah seorang gadis bernama He Qiong. Sejak lahir, ada sesuatu yang berbeda darinya. Saat bayi lain menangis meminta susu, He Qiong sering ditemukan menatap awan dengan senyum tipis, seolah ia sedang mendengarkan bisikan rahasia dari angin.
Namun, legenda sesungguhnya dimulai pada pagi yang berkabut saat ia menginjak usia remaja.
Panggilan dari Gunung Yunmu
Gunung Yunmu dikenal sebagai tempat di mana bumi menyentuh langit. Suatu hari, saat sedang memetik tumbuhan obat, He Qiong tersesat di balik kabut yang tebal. Di sana, ia bertemu dengan seorang pria tua yang tampak bugar namun memiliki aura yang tak lekang oleh waktu. Pria itu adalah Lü Dongbin, salah satu dari Delapan Dewa.
Tanpa banyak bicara, Lü Dongbin memberikan He Qiong sebuah Mika Padat—sejenis mineral bercahaya yang dikatakan mengandung esensi langit.
"Makanlah ini," bisik sang Dewa, "dan kau takkan pernah lagi merasakan lapar yang membelenggu tubuh manusia."
He Qiong menuruti nasihat itu. Sejak saat itu, ia berhenti mengonsumsi makanan fana. Tubuhnya menjadi seringan bulu, kulitnya bercahaya seperti porselen terbaik, dan pikirannya setajam kilat. Ia bukan lagi sekadar gadis desa; ia mulai bertransformasi menjadi He Xiangu.
Bunga Teratai yang Tak Pernah Layu
Ciri khas He Xiangu yang paling ikonik adalah Bunga Teratai bertangkai panjang yang selalu dibawanya. Namun, teratai itu bukan sekadar hiasan.
Suatu musim panas, desa He Qiong dilanda kekeringan hebat. Sawah-sawah retak, dan penduduk mulai putus asa. He Xiangu berdiri di puncak tebing, mengangkat bunga teratainya ke angkasa. Keajaiban pun terjadi: bunga itu mekar dengan cahaya emas yang menyilaukan, dan dari kelopaknya, turunlah hujan yang menyejukkan.
Ia tidak menggunakan kekuatannya untuk kemegahan. Ia menggunakannya untuk:
Menyembuhkan yang sakit: Aroma dari teratainya bisa menghilangkan wabah.
Menuntun yang sesat: Cahaya dari jiwanya memberikan ketenangan bagi mereka yang dilanda kesedihan.
Melindungi wanita: Ia menjadi simbol ketabahan dan kebijaksanaan bagi kaum perempuan di seluruh negeri.
Undangan Sang Permaisuri
Kabar tentang "Gadis Dewa" ini sampai ke telinga Permaisuri Wu Zetian, penguasa wanita satu-satunya dalam sejarah Tiongkok yang sangat haus akan keabadian. Sang Permaisuri mengirim utusan emas untuk menjemput He Xiangu ke istana.
Namun, He Xiangu tahu bahwa istana adalah sangkar emas yang penuh dengan intrik dan nafsu kekuasaan. Saat para utusan tiba di rumahnya, mereka hanya menemukan sebuah ruangan kosong yang harum semerbak bunga teratai.
Di luar jendela, mereka melihat sosok He Xiangu terbang perlahan menuju langit, diiringi oleh musik surgawi yang sayup-sayup terdengar. Ia telah mencapai Ascension—kenaikan menjadi dewi sepenuhnya. Ia memilih untuk mengabdi pada alam semesta daripada tunduk pada penguasa bumi.
Warisan Sang Dewi
Hingga hari ini, He Xiangu tetap menjadi satu-satunya sosok perempuan di antara Delapan Dewa (Ba Xian). Ia adalah pengingat bahwa kekuatan sejati tidak datang dari pedang atau kekayaan, melainkan dari kemurnian hati dan kebaikan yang tanpa pamrih.
Jika Anda berjalan-jalan di tepi kolam teratai pada malam yang sunyi dan melihat sekilas cahaya putih yang memantul di air, mungkin itu adalah sapaan lembut dari He Xiangu, sang Dewi Teratai yang abadi.