Di puncak Gunung Kunlun yang berselimut kabut abadi, di mana waktu seolah membeku di antara aroma dupa dan gema lonceng surgawi, hiduplah dua murid di bawah bimbingan Yuanshi Tianzun.
Yang pertama adalah Jiang Ziya. Ia adalah sosok yang sabar, tenang, dan tampak "lambat." Selama empat puluh tahun, ia hanya tekun belajar, bermeditasi, dan menyapu lantai kuil. Baginya, Tao adalah tentang ketulusan dan pengabdian tanpa pamrih.
Yang kedua adalah Shen Gongbao. Ia berbakat, cerdas, dan memiliki kekuatan sihir yang jauh melampaui rata-rata. Namun, di balik jubah sutranya yang indah, bersemayam ambisi yang membara. Baginya, Tao adalah tangga menuju kekuasaan.
Benih Kecemburuan
Perseteruan mereka dimulai ketika Yuanshi Tianzun memanggil keduanya. Sang Guru memberikan mandat suci berupa Daftar Penobatan Dewa (Fengshen Bang) kepada Jiang Ziya. Tugasnya berat: turun ke dunia manusia, membantu klan Zhou menggulingkan Raja Zhou dari Dinasti Shang yang tiran, dan mengatur tatanan dewa-dewi baru.
Shen Gongbao merasa terhina. "Mengapa dia?" bisiknya dengan nada penuh racun. "Dia hanyalah orang tua yang hanya tahu cara memancing dengan kail lurus! Aku memiliki kesaktian untuk memindahkan gunung dan membelah lautan!"
Saat Jiang Ziya menuruni gunung, Shen Gongbao mencegatnya. Dengan seringai licik, ia menantang Ziya. "Kakak seperguruan, jika kau bisa membakar daftar itu dan beralih memihak Dinasti Shang bersamaku, kita akan menguasai dunia. Jika tidak, aku akan memastikan setiap langkahmu menuju kemenangan akan dipenuhi genangan darah."
Ziya hanya menatapnya dengan mata yang jernih. "Ini adalah kehendak Langit, Adikku. Bukan tentang siapa yang paling sakti, tapi siapa yang berjalan di jalan kebenaran."
Perang Para Dewa
Maka dimulailah catur raksasa di daratan Tiongkok. Jiang Ziya menjadi perdana menteri bagi Raja Wu dari Zhou, menyusun strategi perang dengan kebijaksanaan yang tenang. Sementara itu, Shen Gongbao berkelana dari satu gua ke gua lain, dari satu gunung suci ke gunung terlarang.
Dengan lidahnya yang semanis madu namun berbisa, Shen Gongbao menghasut para dewa, siluman, dan pertapa sakti untuk melawan Jiang Ziya. Kalimat andalannya yang legendaris, "Wahai kawan, tolong tunggu sebentar," menjadi kutukan bagi siapa pun yang mendengarnya. Setiap orang yang berhenti untuk mendengarkan Shen Gongbao akhirnya terseret ke dalam peperangan dan berakhir di dalam Daftar Penobatan Dewa sebagai roh yang gugur.
Pertempuran demi pertempuran pecah. Jiang Ziya berkali-kali terdesak oleh sihir-sihir gelap kiriman Shen Gongbao. Namun, Ziya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Shen: kesetiaan dan dukungan dari langit. Setiap kali ia jatuh, bantuan datang karena ketulusannya dalam menjalankan mandat.
Puncak Konfrontasi
Puncak perseteruan mereka terjadi di depan gerbang ibu kota Dinasti Shang. Shen Gongbao, yang kini telah kehilangan segalanya termasuk harga dirinya, berdiri di atas awan hitam.
"Lihatlah, Ziya! Begitu banyak dewa yang mati karena tipu dayaku! Kau mungkin memenangkan perang ini, tapi kau akan memerintah di atas tumpukan mayat!" teriak Shen Gongbao dengan tawa gila.
Jiang Ziya mengangkat cambuk dewa miliknya, Dashan Bian. Cahaya keemasan memancar, mengusir kegelapan yang dibawa Shen. "Kau salah, Shen. Mereka yang gugur telah memenuhi takdir mereka. Tapi kau? Kau telah mengkhianati gurumu, saudaramu, dan nuranimu sendiri hanya karena rasa iri."
Dengan bantuan para dewa pelindung, Shen Gongbao akhirnya ditangkap. Sebagai hukuman atas segala kekacauan yang ia ciptakan, Yuanshi Tianzun memerintahkan agar Shen Gongbao dijadikan penyumbat lubang di Laut Timur—sebuah tempat yang dingin dan sepi, jauh dari kemilau kekuasaan yang ia dambakan.
Akhir yang Pahit Manis
Setelah kemenangan klan Zhou, Jiang Ziya berdiri di atas panggung penobatan dewa. Ia membacakan satu per satu nama mereka yang gugur untuk diberi gelar surgawi.
Ironisnya, Jiang Ziya memberikan gelar kepada semua orang, namun ia sendiri tetap menjadi manusia biasa. Ia memilih untuk melepaskan kesempatan menjadi dewa demi melihat rakyat hidup dalam kedamaian. Di saat yang sama, di kedalaman laut yang gelap, Shen Gongbao terbelenggu selamanya, meratapi kehebatannya yang sia-sia karena tidak berlandaskan kebajikan.
Perseteruan mereka bukan sekadar pertarungan sihir, melainkan pengingat abadi: Bahwa kecerdasan tanpa karakter adalah bencana, dan kesabaran yang tulus akan selalu menemukan jalannya.