Jan 13, 2026
3 mins read
31views
3 mins read

Zhang Guolao : Salah Satu dari Delapan Dewa

Di antara barisan Delapan Dewa (Ba Xian) yang melegenda, tidak ada yang lebih eksentrik dan penuh teka-teki selain Zhang Guo Lao. Jika dewa lain sering digambarkan gagah atau cantik, Zhang muncul sebagai seorang kakek tua yang rapuh, dengan topi bulu khas pengembara dan tongkat bambu yang berbunyi clack-clack setiap kali ia melangkah.



Sang Pengembara Mundur

Bayangkan sebuah jalan setapak di lereng Gunung Hengshan yang berkabut. Di sana, seorang kakek tua duduk di atas keledainya. Namun, ia tidak menghadap ke depan. Zhang Guo Lao selalu duduk menghadap ke belakang, menatap jalan yang telah ia lalui, sementara punggungnya menyongsong masa depan.

Bagi Zhang, hidup bukanlah tentang mengejar apa yang ada di depan, melainkan merenungkan apa yang telah ditinggalkan. "Manusia terlalu sibuk melihat ke depan hingga mereka tersandung oleh kesalahan yang sama berulang kali," gumamnya sambil memetik yugu—alat musik tabung bambu miliknya.

Keledainya bukan sembarang hewan. Makhluk itu bisa menempuh ribuan mil dalam sehari tanpa merasa lelah. Dan yang paling ajaib? Ketika malam tiba atau saat Zhang ingin beristirahat, ia tidak perlu mencari kandang. Ia cukup melipat keledai itu seperti selembar kertas tipis dan menyimpannya di dalam kantong bajunya. Saat ingin berangkat lagi, ia hanya perlu memercikkan sedikit air, dan puff!—si keledai putih kembali berdiri tegak, siap berkelana.

Undangan Kaisar dan Tipu Muslihat Kematian

Ketenaran Zhang Guo Lao sebagai "Manusia Berumur Panjang" sampai ke telinga Kaisar Ming Huang dari Dinasti Tang. Sang Kaisar, yang terobsesi dengan keabadian, mengirim utusan berkali-kali untuk memanggil Zhang ke istana.

Zhang, yang lebih suka bicara dengan pepohonan daripada dengan pejabat, merasa jengah. Saat utusan pertama datang, Zhang tiba-tiba jatuh terkapar. Tubuhnya mendingin, napasnya hilang, dan kulitnya mulai tampak membusuk. Sang utusan panik dan melaporkan bahwa Zhang telah wafat. Namun, tak lama setelah utusan itu pergi, Zhang bangkit berdiri, menepuk debu di bajunya, dan tertawa terpingkal-pingkal sambil melipat keledainya.

Ia telah memalsukan kematiannya sendiri—sebuah seni yang ia kuasai dengan sempurna.

Namun, sang Kaisar tidak mudah menyerah. Ia mengirim seorang menteri senior yang bersujud di depan gubuk Zhang, memohon demi kehormatan kekaisaran. Merasa kasihan, Zhang akhirnya setuju untuk datang.

Ujian di Istana

Di istana, Zhang menjadi pusat perhatian. Kaisar mencoba mengujinya dengan racun yang sangat mematikan dalam secangkir arak. Zhang meminumnya dengan santai, hanya berkomentar, "Arak ini agak sedikit asam." Tak lama kemudian, giginya menghitam dan rontok. Alih-alih takut, Zhang meminta segumpal garam, menggosok gusi-gusinya, dan dalam sekejap, gigi-gigi baru yang putih cemerlang tumbuh kembali.

Kaisar terpana. Ia menyadari bahwa di balik sosok kakek tua yang tampak pikun ini, terdapat kekuatan yang melampaui logika manusia.

Suatu hari, seorang peramal terkenal di istana mencoba menebak siapa sebenarnya Zhang Guo Lao. Zhang hanya tersenyum dan berkata, "Jika kau menebaknya, kau akan mati saat itu juga." Kaisar mendesak sang peramal untuk bicara. Begitu sang peramal membisikkan bahwa Zhang adalah "Wujud Roh dari Kelelawar Putih Purba", si peramal langsung jatuh tak bernyawa.

Kaisar memohon agar Zhang menghidupkannya kembali. Dengan sedikit percikan air dan mantra ringan, Zhang mengembalikan nyawa sang peramal, namun sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mengusik rahasianya.



Warisan Sang Keledai Putih

Zhang Guo Lao akhirnya meninggalkan istana, kembali ke pegunungan untuk menghilang dalam keabadian. Ia meninggalkan pesan tersirat bagi kita semua melalui caranya berkendara: bahwa seringkali, cara terbaik untuk maju adalah dengan berani menoleh ke belakang.

Ia adalah simbol dari kebijaksanaan yang jenaka. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak perlu dipamerkan dengan otot atau pedang, melainkan dengan kemampuan untuk "melipat" beban dunia (seperti keledainya) dan menyimpannya di kantong saat kita tidak lagi membutuhkannya.

Hingga hari ini, konon jika Anda mendaki pegunungan sunyi di Tiongkok dan mendengar suara ketukan bambu yang ritmis di tengah kabut, itu mungkin adalah Zhang Guo Lao. Ia masih di sana, duduk terbalik di atas keledai kertasnya, menertawakan dunia yang terlalu serius mengejar hari esok.