Ada sebuah kuil tua, di masa lalu penduduk desa dari seberang sungai, sering datang ke sana untuk beribadah.
Namun seiring berjalannya waktu, penduduk desa semakin sibuk dengan urusan duniawinya sendiri dan lupa untuk beribadah.
Seorang Biksu di kuil tersebut melihat hal ini dan dia merasa risau, jadi dia memutuskan untuk mengingatkan para penduduk desa.
Biksu ini menyeberangi sungai, dan mulai duduk diam di sana.
Beberapa waku kemudian, penduduk desa melihat hal itu, mereka menghampiri Biksu, lalu seseorang bertanya:
“Bhante, Anda sudah duduk di sini sepanjang hari, apa yang sedang Anda lakukan?”
Biksu menjawab, “Saya sedang menunggu seluruh aliran air sungai berhenti, sehingga saya bisa menyeberanginya.”
Orang itu berkata, “Apa yang Anda bicarakan? Jika Anda menunggu semua air sungai berakhir, maka selamanya Anda tidak akan pernah bisa menyeberangi sungai.”
Biksu menjawab, “Inilah yang selalu saya katakan kepada orang-orang, kepada orang-orang yang selalu berpikir, bahwa, begitu tanggung jawab dalam hidupnya sudah selesai, semua urusan beres, barulah dia akan beribadah, mendekatkan diri kepada Tuhan
Sesungguhnya, segala urusan duniawi adalah seperti air sungai yang mengalir ini, yang tidak akan pernah habis. Jadi, alih-alih menunggu, kita seharusnya mencari cara untuk menyeberangi air yang mengalir di sungai ini.
Penduduk desa sadar, dan sejak itu, dalam kehidupan mereka yang sibuk, mereka selalu menyempatkan waktu untuk beribadah kepada Tuhan.
Begitu pula dalam hidup, tanggung jawab tidak pernah berakhir, pekerjaan tidak pernah berakhir, urusan tidak pernah berakhir.
Di tengah segala urusan yang tidak pernah berakhir itu, kita tidak boleh lupa untuk beribadah, mengingat Tuhan, dan terus mendekatkan diri kepada-Nya.