#anak

#ayah

#bapak

#duniabersih

#guru

#jalan

#kebaikanitukeren

#murid

#pengikut

#pertanyaan

#pundak

#shifu

#suhu

#waktu

Taruh Sapi di Atap! Ikatan Guru dan Murid

Seorang Guru di kuil memiliki dua orang murid. Yang satu bernama Kiba dan yang lainnya bernama Kala. Kiba sangat rajin melakukan pekerjaan di kuil, sementara Kala hanya sedikit melakukan pekerjaan di kuil.

Namun anehnya, sang Guru justru selalu mengatakan bahwa Kala adalah murid sejatinya.

Suatu hari, seseorang datang berkunjung ke kuil, bertanya kepada sang Guru, “Guru, Kiba melakukan hampir semua pekerjaan di kuil. Namun Anda mengatakan bahwa justru Kala-lah murid sejati Anda, mengapa begitu?”

Guru kemudian berkata, “Baiklah, besok bawalah seekor sapi kesini, dan kamu akan tahu jawaban dari pertanyaanmu.”

Keesokan harinya, pria itu datang membawa seekor sapi ke sana.

Sang Guru kemudian memanggil Kiba, dan memintanya: “Taruhlah sapi ini di atap!”

Melihat sapi yang begitu besar, Kiba ragu-ragu, dia berkata kepada sang Guru; “Tapi Guru, bagaimana mungkin? Sapi ini sangat besar, jangankan membawanya ke atap, mengangkatnya saja saya tidak yakin mampu.”

Guru menjawab, “Baiklah. Kamu boleh pergi dan melanjutkan pekerjaanmu.”

Sekarang, Guru memanggil Kala untuk datang dan memintanya melakukan hal yang sama. 

Mendengar ini, tanpa bertanya apa pun, Kala hanya menjawab singkat; “Baik Guru,” dan segera mendekati sapi besar tersebut.

Dia berusaha keras untuk menggendong sapi itu, dia bersusah payah beberapa waktu, namun tetap saja tidak mampu mengangkat sapi yang begitu besar.

Berkali-kali Kala gagal, namun dia tidak menyerah, dia terus berusaha untuk menjalankan perintah Gurunya, untuk mengangkat sapi besar tersebut.

Hingga akhirnya, sambil kepayahan, Kala berhasil menggendong sapi itu di pundaknya, dan sekarang dia bersiap untuk menggendong sapi tersebut ke atap.

Melihat hal ini, sang Guru berkata, “Kala, cukup. Letakkan sapi itu!”

Kala hanya menjawab; “Baik guru,” dan segera meletakkan sapi yang sedang digendongnya.

Orang yang datang melihat semua ini.

Guru kemudian memandang orang itu, tersenyum dan berkata, "Inilah jawaban atas pertanyaanmu."

Seorang murid sejati, bukanlah orang yang hanya mengaku murid di mulut.

Hubungan antara guru dan murid yang sejati bukanlah sekedar formalitas, namun terikat secara batin, pikiran, dan perasaan.

Seorang murid sejati tidak akan mempertanyakan perintah dari Gurunya, dan melakukan apa yang diminta, untuk mengikuti jalan, dan mempelajari, apa yang perlu dipelajari dari Gurunya.