Ini adalah salah satu legenda paling tersohor dalam sejarah pembangunan kembali Kuil Lingyin. Sebuah kisah yang membuktikan bahwa bagi Jigong, ruang dan waktu hanyalah mainan di jemarinya yang dekil.
Legenda Sumur Pengangkut Kayu
Kuil Lingyin baru saja mengalami kebakaran besar. Aula utamanya hangus, menyisakan abu dan kepedihan bagi para rahib. Kepala Biara yang kebingungan akhirnya mendatangi Jigong, yang saat itu sedang tidur mendengkur dengan aroma arak yang menyengat.
"Daoji! Bangun!" seru Kepala Biara. "Kita butuh kayu raksasa untuk membangun kembali pilar utama. Tapi hutan terdekat sudah habis, dan membawa kayu dari provinsi jauh akan memakan waktu bertahun-tahun!"
Jigong membuka satu matanya, menguap lebar, lalu menggaruk perutnya. "Hanya kayu? Tenanglah, Pak Tua. Beri aku arak kualitas terbaik dan tidurlah dengan nyenyak. Kayu-kayu itu akan datang sendiri."
Perjalanan di Balik Labu Arak
Keesokan harinya, Jigong menghilang. Ia pergi ke Provinsi Sichuan, ribuan mil jauhnya dari Hangzhou, tempat hutan-hutan purba tumbuh dengan batang pohon sebesar pelukan tiga orang dewasa.
Namun, Jigong tidak membawa kapak atau gerobak. Ia hanya mendatangi para penebang kayu dan berkata, "Aku beli semua kayu ini untuk Kuil Lingyin. Tolong lemparkan saja ke sungai."
Para penebang kayu tertawa. "Biksu Gila! Sungai ini mengalir ke arah yang salah. Kayu-kayu ini tidak akan pernah sampai ke Hangzhou!"
Jigong hanya tersenyum misterius. "Kalian lempar saja. Aku punya 'jalan pintas' sendiri."
Keajaiban di Sumur Belakang
Beberapa hari kemudian, di halaman belakang Kuil Lingyin, para biksu sedang mengerumuni sebuah sumur kecil yang biasanya digunakan untuk mencuci. Tiba-tiba, permukaan air sumur yang tenang mulai bergolak hebat.
Brummm...
Suara dentuman keras terdengar dari dalam tanah. Tiba-tiba, dari mulut sumur yang sempit itu, muncul ujung batang kayu raksasa! Kayu itu mencuat ke atas seolah-olah didorong oleh tangan raksasa dari kedalaman bumi.
"Satu batang!" teriak Jigong yang tiba-tiba sudah berdiri di pinggir sumur sambil memegang kipas robeknya.
Setiap kali ia mengayunkan kipasnya dan berteriak "Lagi!", sebatang kayu raksasa akan meluncur keluar dari sumur. Para biksu dengan sigap menarik kayu-kayu tersebut dan menumpuknya di halaman. Satu per satu, kayu-kayu berkualitas terbaik dari Sichuan muncul dari lubang air yang mustahil itu.
Batang yang Tertinggal
Hingga pada batang yang ke-70, seorang biksu muda yang bertugas menghitung berteriak dengan penuh semangat, "Cukup! Sudah cukup! Kayunya sudah pas untuk seluruh bangunan!"
Seketika itu juga, Jigong berhenti mengayunkan kipasnya. Batang kayu terakhir yang sedang bergerak naik tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Kayu itu terjebak—setengah di dalam air, setengah mencuat ke permukaan sumur.
"Ah," keluh Jigong sambil nyengir. "Kau terlalu cepat berteriak, anak muda. Sekarang kayu terakhir ini tidak mau naik dan tidak mau turun."
Sampai hari ini, di Kuil Lingyin, pengunjung masih bisa melihat "Sumur Pengangkut Kayu" (Yunmu Jing). Di dalamnya, konon masih terlihat ujung kayu terakhir yang "mogok" karena hitungan yang terhenti.
Makna di Balik Cerita
Kisah ini bukan hanya soal kesaktian, tapi tentang ketepatan. Jigong mengajarkan bahwa dalam hidup, niat yang tulus (membangun kembali kuil) bisa menembus batas jarak yang mustahil, namun keragu-raguan atau ketergesaan manusia seringkali menghentikan keajaiban sebelum waktunya.