Biksu Jigong

Di bawah sinar matahari sore yang malas, di depan gerbang Kuil Lingyin yang megah, tampak seorang pria dengan pakaian yang lebih mirip saringan santan daripada jubah biksu. Topinya miring, sepatu jeraminya bolong di bagian jempol, dan sebuah kipas robek terselip di pinggangnya.

Ia adalah Daoji, namun seluruh Hangzhou lebih mengenalnya dengan sebutan Jigong—Sang Biksu Gila.

Wangi Daging di Balik Gerbang Suci

"Daging anjing! Arak hangat!" teriak Jigong sambil cegukan. Ia berjalan terhuyung-huyung melewati para peziarah yang memandangnya dengan jijik sekaligus ngeri. Bagi biksu lain, Jigong adalah noda hitam di atas kain putih kesucian. Namun bagi rakyat jelata, ia adalah harapan yang berbau arak.

Suatu hari, seorang saudagar kikir bernama Tuan Lu sedang meratap di pinggir jalan. Seluruh hartanya—tiga gudang penuh sutra—terancam hancur karena rayap misterius yang muncul entah dari mana.

"Biksu Gila! Tolong aku!" seru Tuan Lu saat melihat Jigong lewat. "Katanya kau punya kesaktian. Jika kau bisa mengusir rayap-rayap itu, aku akan menyumbang sepuluh karung beras untuk kuilmu!"

Jigong berhenti, menggaruk dadanya yang daki-an, lalu membentuk bulatan kecil dari kotoran kulitnya (yang ia sebut sebagai "obat dewa"). "Sepuluh karung? Terlalu murah untuk nyawa sutra-sutramu, Tuan Lu. Bagaimana kalau seratus karung untuk rakyat jelata yang kelaparan di pinggir sungai?"

Tuan Lu ragu, tapi demi melihat sutranya yang mulai berlubang, ia setuju.

Keajaiban dari Kipas Robek

Jigong tertawa terbahak-bahak. Ia masuk ke dalam gudang yang gelap. Alih-alih merapal mantra suci atau membakar dupa, ia justru mulai bernyanyi lagu sumbang tentang keindahan arak.

Ia mengayunkan kipas robeknya—wussh!—sekali, dua kali, tiga kali.

Anehnya, setiap kali kipas itu berayun, hawa dingin yang menyejukkan memenuhi ruangan. Rayap-rayap itu bukannya lari, tapi justru berbaris rapi seperti prajurit yang sedang parade, lalu berjalan keluar menuju hutan, seolah-olah mereka sedang dipandu oleh musik yang hanya bisa didengar oleh serangga.

Tuan Lu melongo. "Hanya begitu?"

"Hanya begitu," jawab Jigong sambil menenggak arak dari labunya. "Tapi ingat janji seratus karung beras itu. Jika kau ingkar, rayap-rayap itu akan kembali, dan kali ini mereka mungkin membawa selera makan yang lebih besar... mungkin kursi jati di rumahmu juga akan habis."

Kebijaksanaan dalam "Kegilaan"

Malam itu, di bawah rembulan, Jigong duduk di dahan pohon persik. Seorang biksu muda bertanya padanya dengan penuh kebingungan, "Guru, mengapa Anda makan daging dan minum arak? Bukankah itu melanggar sila?"

Jigong tersenyum, matanya yang terlihat mabuk tiba-tiba memancarkan kejernihan yang dalam.

"Banyak orang memakai jubah bersih tapi hatinya penuh nanah keserakahan. Aku memakai jubah kotor, tapi hatinya aku jaga agar tetap bening. Arak ini lewat di tenggorokanku, tapi Buddha tetap ada di hatiku. Manusia terjebak pada bungkus, Nak, sampai mereka lupa pada isinya."

Ia kemudian melemparkan tulang ayam ke udara, yang secara ajaib berubah menjadi burung-burung kecil yang terbang menuju langit.

Sang Penolong yang Tak Terlihat

Jigong terus berjalan dari satu desa ke desa lain. Ia sering terlihat menolong janda tua yang rumahnya rubuh, atau menyembuhkan anak kecil yang sakit hanya dengan sekali sentuhan kipasnya. Baginya, penderitaan manusia adalah urusannya, sedangkan aturan manusia adalah lelucon.

Ia adalah pengingat bahwa kebaikan tidak selalu datang dalam bentuk yang rapi, wangi, dan berbicara santun. Terkadang, kebenaran justru datang dalam bentuk seorang pemabuk yang tertawa di tengah badai, mengingatkan kita bahwa dunia ini hanyalah sebuah permainan sementara.

Hingga hari ini, jika Anda pergi ke Hangzhou, Anda mungkin masih bisa merasakan jejak tawanya di antara semilir angin Danau Barat. Seorang biksu yang "gila" di mata dunia, namun paling sadar di hadapan Sang Pencipta.