Di antara Delapan Dewa dalam mitologi Tiongkok (Baxian), Cao Guojiu adalah sosok yang paling unik. Jika yang lain berasal dari kalangan rakyat jelata, pengemis, atau sarjana, Cao Guojiu lahir di puncak piramida sosial: ia adalah seorang paman kaisar, seorang bangsawan tinggi yang jubahnya disulam dengan benang emas.
Namun, inilah kisah tentang bagaimana kilau emas tak lagi mampu menyilaukan mata yang telah melihat kebenaran.
Beban Darah dan Nama Besar
Cao Guojiu, atau Cao Yi, hidup di bawah bayang-bayang kemegahan Dinasti Song. Sebagai saudara dari Ibu Suri Cao, hidupnya adalah rangkaian perjamuan mewah dan penghormatan. Namun, takdir memberinya sebuah ujian berat dalam wujud adik kandungnya sendiri, Cao Er.
Berbeda dengan Cao Yi yang bijaksana, Cao Er adalah pria haus kuasa yang korup. Ia menggunakan nama besar keluarga untuk menindas rakyat, merampas tanah, dan bahkan melakukan pembunuhan demi memuaskan nafsunya.
Setiap malam, di paviliun pribadinya, Cao Yi tidak bisa tidur. Suara denting cangkir giok di istana terdengar seperti jeritan rakyat di telinganya. Ia mencoba menasihati adiknya berkali-kali.
"Adikku," ucap Cao Yi dengan suara rendah, "kekuasaan itu seperti embun pagi. Ia tampak indah, tapi akan menguap saat matahari naik. Hanya kebajikan yang akan diingat sejarah."
Cao Er hanya tertawa remeh. "Kakak, kita adalah naga di antara manusia. Aturan dibuat untuk mengatur domba, bukan untuk kita."
Pelarian Sang Bangsawan
Puncaknya terjadi ketika Cao Er terlibat dalam skandal besar yang menyebabkan kematian seorang sarjana tak bersalah. Cao Yi menyadari bahwa kejahatan keluarganya telah melampaui batas yang bisa diampuni oleh langit. Alih-alih menggunakan posisinya untuk menutupi aib tersebut, Cao Yi memilih jalan yang mengejutkan seluruh istana.
Ia menanggalkan jubah sutranya yang berat. Ia melepaskan topi pejabatnya yang berhias permata. Dengan tangan gemetar namun mantap, ia membagikan seluruh harta kekayaannya kepada fakir miskin di gerbang kota.
"Dunia ini adalah sandiwara besar," bisiknya pada angin. "Dan aku tidak ingin lagi memainkan peran sebagai penindas."
Tanpa pengawal, tanpa kuda, Cao Yi berjalan menuju pegunungan terpencil. Ia hanya membawa satu benda: sepasang Kastanyet Giok (Paiban)—lempengan giok yang biasa digunakan pejabat saat menghadap kaisar. Namun baginya, lempengan itu kini bukan lagi simbol pangkat, melainkan alat musik untuk mengiringi nyanyian jiwanya yang mencari kedamaian.
Pertemuan di Tepi Tebing
Bertahun-tahun Cao Yi hidup sebagai pertapa. Tubuhnya kurus, kulitnya terbakar matahari, namun matanya memancarkan cahaya yang lebih terang daripada permata manapun di istana.
Suatu hari, saat ia sedang duduk bermeditasi di tepi jurang yang diselimuti kabut, dua sosok asing muncul. Yang satu membawa tongkat besi dan botol labu (Tieguai Li), yang lainnya membawa kipas bulu (Zhongli Quan).
"Apa yang sedang kau cari di tempat sunyi ini, Paman Kaisar?" tanya Zhongli Quan sambil tertawa kecil.
Cao Yi membuka matanya dan membungkuk hormat. "Aku tidak mencari apa-apa. Aku hanya sedang berusaha membuang apa yang tersisa dari diriku."
"Lalu, apa yang ada di tanganmu itu?" tanya Tieguai Li menunjuk kastanyet giok milik Cao.
"Dulu, ini adalah tanda kekuasaan untuk berbicara di depan Kaisar Manusia," jawab Cao Yi tenang. "Sekarang, aku menggunakannya untuk mengetuk pintu Langit."
Mendengar jawaban itu, kedua dewa tersebut tersenyum. Mereka menyadari bahwa Cao Yi telah mencapai pemahaman tertinggi: bahwa untuk memiliki segalanya (alam semesta), seseorang harus berani melepaskan segalanya (ego dan harta).
Keabadian dalam Denting Giok
Kedua dewa itu kemudian mengajarkan rahasia alkimia batin dan cara mencapai keabadian. Cao Yi, sang paman kaisar, akhirnya diangkat menjadi dewa terakhir dari kelompok Delapan Dewa.
Hingga hari ini, Cao Guojiu digambarkan sebagai pria paruh baya yang mengenakan pakaian resmi pejabat, namun dengan wajah yang penuh ketenangan batin. Ia sering muncul dalam festival atau pertunjukan teater, memainkan kastanyet gioknya yang mengeluarkan suara bening.
Ceritanya menjadi pengingat bagi kita semua: Bukan pakaian yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan keberanian untuk memilih jalan yang benar, bahkan ketika jalan itu mengharuskan kita meninggalkan zona nyaman dan kemewahan.