Di puncak Gunung Kunlun yang berselimut kabut abadi, di mana batas antara langit dan bumi menipis hingga menjadi sehelai sutra, hiduplah Sang Penguasa Kebajikan Jalan Surgawi: Daode Tianzun.
Ia bukan sekadar dewa; Ia adalah perwujudan dari Tao itu sendiri. Jika semesta adalah sebuah simfoni, maka Daode Tianzun adalah keheningan di antara nada-nadanya yang memungkinkan musik itu terdengar.
Keheningan di Tengah Riuh Dunia
Dahulu kala, saat dunia manusia mulai tenggelam dalam kebisingan ambisi, Daode Tianzun duduk di atas singgasana awannya. Ia melihat kaisar-kaisar berperang demi sejengkal tanah, dan para cendekiawan berdebat hingga lidah mereka kelu demi sebuah kebenaran yang semu.
"Mereka mengejar angin," bisik-Nya lembut. Suara-Nya tidak menggetarkan udara, tapi menggetarkan jiwa.
Ia memutuskan untuk turun ke dunia fana, bukan sebagai dewa yang berkilauan dengan emas, melainkan sebagai seorang tua bernama Laozi. Ia tidak menunggangi naga api, melainkan seekor kerbau air berwarna biru tua yang melangkah lambat, seirama dengan detak jantung bumi.
Gerbang Hangu dan Sang Penjaga
Suatu sore, ketika matahari mulai meredup di ufuk barat, seorang penjaga gerbang bernama Yin Xi melihat gumpalan awan ungu yang aneh bergerak dari arah timur. Dalam tradisi spiritual, awan ungu adalah pertanda hadirnya seorang bijak agung.
Yin Xi menunggu dengan gemetar. Tak lama kemudian, muncullah seorang kakek dengan janggut putih menjuntai hingga ke dada, menunggangi kerbau air. Matanya tenang seperti telaga purba, menyimpan kedalaman yang tak terukur.
"Tuan," cegat Yin Xi sambil berlutut. "Aku tahu Anda akan meninggalkan dunia ini untuk menuju kesunyian pegunungan barat. Tolong, sebelum Anda pergi, wariskanlah sedikit saja kebijakan Anda agar kami yang tertinggal tidak tersesat dalam kegelapan."
Daode Tianzun, dalam wujud Laozi, terdiam sejenak. Ia melihat ke tulusan hati penjaga gerbang itu. Baginya, kata-kata sering kali hanyalah penjara bagi kebenaran. Namun, atas dasar kasih sayang (Ci), Ia pun turun dari kerbaunya.
Kelahiran Daode Jing
Selama beberapa malam di pos penjagaan itu, di bawah cahaya lilin yang menari-nari, Daode Tianzun menuliskan 5.000 karakter. Inilah momen di mana esensi dari alam semesta dituangkan ke atas bambu.
Ia menulis tentang Wu Wei—seni bertindak tanpa memaksa. Ia mengumpamakan kebenaran seperti air:
"Air adalah yang paling lembut di dunia, namun tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatannya dalam menghancurkan yang keras. Ia mengalir ke tempat yang paling rendah, tempat yang dibenci manusia, dan justru karena itulah ia menyerupai Tao."
Setelah gulungan itu selesai, Ia menyerahkannya kepada Yin Xi. Tanpa sepatah kata pamit, Ia kembali naik ke atas kerbau birunya. Mereka melangkah menembus kabut pegunungan, perlahan memudar, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya dari pandangan mata manusia.
Sang Guru dari Segala Zaman
Di alam langit, Daode Tianzun kembali ke wujud aslinya sebagai yang tertua di antara Sanqing (Tiga Guru Suci). Ia tetap menjadi sosok yang paling misterius. Jika dewa lain sibuk dengan urusan pemujaan, Daode Tianzun lebih suka mengamati keseimbangan alam.
Ia mengajarkan bahwa:
Kekosongan adalah kegunaan: Sebuah kendi berguna bukan karena tanah liatnya, tapi karena ruang kosong di dalamnya.
Kelembutan adalah kekuatan: Gigi yang keras akan tanggal lebih dulu, sementara lidah yang lembut akan bertahan selamanya.
Hingga hari ini, konon jika Anda pergi ke tempat yang benar-benar sunyi—di mana hanya ada suara angin dan aliran air—Anda mungkin akan merasakan kehadiran-Nya. Ia tidak akan muncul dalam wujud raksasa, melainkan sebagai rasa damai yang tiba-tiba menyusup ke dalam dada, mengingatkan kita bahwa kita semua adalah bagian dari aliran besar yang sama.
Daode Tianzun mengajarkan bahwa untuk memimpin, seseorang harus belajar melayani. Untuk menjadi penuh, seseorang harus bersedia menjadi kosong.