2 Feb 2026
3 menit waktu baca
45view
3 menit waktu baca

Prima JOY Channel

Prima JOY Channel

670 pengikut
Huatuo : Sang Tabib Dewa

Malam itu, di sebuah kedai kecil di pinggiran Provinsi Anhui, aroma arak gandum bercampur dengan bau tanah basah setelah hujan. Di sudut ruangan, seorang pria tua duduk dengan tenang. Tas kulitnya yang lusuh tergeletak di sampingnya—tas yang konon berisi rahasia hidup dan mati.

Ia adalah Hua Tuo, sang Tabib Dewa.

Sang Perintis yang Mendengar Jeritan Tubuh

Di zaman ketika penyakit dianggap sebagai kutukan roh jahat, Hua Tuo melihat dunia dengan cara yang berbeda. Baginya, tubuh manusia adalah sebuah simfoni yang harmonis. Jika satu dawai putus, musiknya akan kacau.

Suatu hari, seorang panglima perang datang dengan wajah pucat. Lengannya bengkak kebiruan, terkena panah beracun dalam pertempuran. Tabib lain menyarankan doa dan jimat, namun Hua Tuo hanya membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebotol cairan bening yang ia sebut Mafeisan.

"Minumlah," ucapnya pendek.

Ini adalah momen krusial dalam sejarah medis. Di tengah kepulan asap dupa abad ke-2, Hua Tuo menciptakan anestesi pertama di dunia. Setelah pasiennya terlelap, ia membelah daging, mengikis racun dari tulang dengan pisau perak—bunyi gesekannya membuat prajurit paling berani sekalipun merinding—lalu menjahitnya kembali seolah itu adalah selembar kain sutra yang robek.


Rahasia Lima Hewan

Namun, Hua Tuo bukan hanya tentang pisau dan darah. Ia percaya bahwa obat terbaik adalah gerak.

Suatu pagi di bawah pohon ginkgo yang mulai menguning, ia mengajar para muridnya. "Lihatlah alam," katanya sambil meliuk selembar daun. Ia menciptakan Wuqinxi atau Permainan Lima Hewan:

  1. Harimau: Untuk kekuatan tulang.

  2. Rusa: Untuk kelenturan otot.

  3. Beruang: Untuk ketenangan batin.

  4. Kera: Untuk ketangkasan pikiran.

  5. Burung Bangau: Untuk keseimbangan napas.

"Manusia sakit karena mereka lupa bagaimana cara bergerak seperti bagian dari alam," bisiknya. Baginya, mencegah penyakit jauh lebih mulia daripada mengobatinya.


Pertemuan dengan Sang Diktator

Tragedi sang tabib dimulai ketika reputasinya sampai ke telinga Cao Cao, penguasa kuat dari Kerajaan Wei. Cao Cao menderita migrain hebat yang rasanya seperti ribuan jarum menusuk otaknya.

Hua Tuo dipanggil. Dengan satu tusukan akupunktur yang presisi, rasa sakit itu hilang seketika. Namun, Cao Cao yang penuh curiga ingin memonopoli sang tabib. Ia ingin Hua Tuo menjadi tabib pribadinya selamanya.

"Hamba adalah milik rakyat, bukan milik satu istana," tolak Hua Tuo halus.

Keadaan memburuk ketika Hua Tuo memberikan diagnosa berani: "Tuan, ada tumor di dalam tengkorak Anda. Satu-satunya cara adalah membelah kepala Anda dan mengeluarkannya."

Cao Cao meledak marah. Baginya, ide membelah kepala adalah rencana pembunuhan terselubung. Hua Tuo dijebloskan ke penjara bawah tanah yang dingin.


Warisan yang Terbakar, Nama yang Abadi

Menjelang ajalnya di sel gelap, Hua Tuo memanggil seorang penjaga penjara yang baik hati. Ia menyerahkan sebuah gulungan kertas—seluruh ilmu medisnya, termasuk resep Mafeisan.

"Ambillah ini. Ini bisa menyelamatkan jutaan nyawa," kata Hua Tuo dengan suara serak.

Namun, ketakutan mengalahkan ilmu pengetahuan. Istri sang penjaga, takut suaminya akan dihukum karena menyimpan barang milik "pengkhianat", membakar gulungan itu. Konon, hanya beberapa lembar tentang cara mengebiri ayam yang berhasil diselamatkan dari api.

Hua Tuo wafat, dan bersama apinya, banyak rahasia bedah kuno hilang selama ribuan tahun. Namun, setiap kali seorang ahli bedah membius pasiennya hari ini, atau seorang praktisi Qigong melakukan gerakan bangau di taman, roh Hua Tuo hadir di sana.

Ia bukan sekadar tabib; ia adalah pengingat bahwa tubuh kita adalah kuil yang harus dijaga dengan gerak, dan disembuhkan dengan keberanian.