29 Jan 2026
2 menit waktu baca
26view
2 menit waktu baca

Dewi Ibunda Ratu

Di sebuah masa ketika langit dan bumi masih sering berbisik satu sama lain, hiduplah seorang figur yang namanya hanya berani diucapkan dalam hening yang penuh hormat: Dewi Ibunda Ratu.

Ia bukanlah sekadar penguasa, melainkan detak jantung dari semesta itu sendiri.

Takhta di Atas Samudra Kabut

Jauh di puncak Gunung Langit yang diselimuti kabut abadi, berdirilah Keraton Widuri. Di sanalah sang Dewi bertahta. Konon, jubahnya ditenun dari cahaya bulan purnama, dan rambutnya adalah aliran sungai perak yang memberi kehidupan pada lembah-lembah di bawahnya.

Namun, kehebatan Dewi Ibunda Ratu bukan terletak pada kemegahan istananya, melainkan pada rahim kasih sayangnya. Rakyat mengenalnya sebagai "Ibu dari Segala yang Bernapas". Jika seorang petani kehilangan harapan karena kekeringan, sang Dewi akan menjatuhkan sebutir air mata yang menjelma menjadi hujan. Jika seorang prajurit kehilangan arah di medan perang, bisikan sang Dewi akan hadir sebagai angin sejuk yang menuntunnya pulang.


Ujian Sang Kesatria Kegelapan

Alkisah, ketenangan itu terusik oleh hadirnya Ki Jaran Telak, seorang kesatria yang hatinya telah membatu karena dendam. Ia mendaki Gunung Langit bukan untuk memohon berkah, melainkan untuk menantang keagungan sang Dewi.

"Wahai Ibunda Ratu!" teriaknya, suaranya menggetarkan dinding-dinding es. "Jika Engkau benar-benar ibu bagi dunia ini, mengapa Engkau membiarkan luka dan kesedihan merajai hatiku? Turunlah dan hadapi pedangku!"

Langit seketika berubah menjadi ungu pekat. Guntur menggelegar, namun tidak ada kemarahan dalam getarannya. Pintu gerbang keraton yang terbuat dari mutiara terbuka perlahan. Dewi Ibunda Ratu melangkah keluar—tanpa senjata, tanpa pengawal.

Kekuatan dalam Kelembutan

Langkah kakinya tidak menyentuh tanah; ia berjalan di atas kelopak bunga melati yang bermekaran seketika di bawah kakinya. Aromanya begitu menenangkan, hingga amarah Ki Jaran Telak goyah sejenak.

"Anakku," suara Dewi Ibunda Ratu terdengar bukan di telinga, melainkan langsung di dalam jiwa. "Pedangmu tajam, tapi ia tidak bisa memotong rasa sakitmu. Kemarahanmu besar, tapi ia tidak bisa mengisi kekosongan di dadamu."

Ki Jaran Telak menerjang dengan kalap. Namun, setiap kali pedangnya mengayun, sang Dewi hanya tersenyum tipis. Tubuhnya seolah-olah menjadi udara, tak tersentuh namun ada di mana-mana. Hingga akhirnya, sang kesatria jatuh tersungkur, kehabisan tenaga dan air mata.

Dewi Ibunda Ratu mendekat. Ia tidak menghukum, melainkan meletakkan tangannya yang selembut sutra di atas kepala sang kesatria.

"Seorang ibu tidak membenci anaknya yang sedang mengamuk karena sakit. Ia hanya menunggu hingga anaknya tenang, agar ia bisa membalut lukanya."


Warisan Sang Dewi

Sejak hari itu, Ki Jaran Telak tidak lagi memegang pedang. Ia menjadi penjaga gerbang Keraton Widuri, menceritakan kepada setiap musafir bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan untuk menghancurkan, melainkan pada keberanian untuk menyayangi.

Hingga saat ini, penduduk desa di kaki gunung percaya bahwa setiap kali fajar menyingsing dengan warna jingga yang hangat, itu adalah senyuman Dewi Ibunda Ratu yang sedang memeluk dunia. Ia mengajarkan kita satu hal: bahwa di balik kerasnya kehidupan, selalu ada dekapan hangat yang menunggu kita pulang, asalkan kita mau membuka hati.