25 Jan 2026
3 menit waktu baca
29view
3 menit waktu baca

Dewa Erlang

Di balik kabut abadi yang menyelimuti puncak Gunung Kunlun, di mana langit dan bumi seolah bertaut dalam satu helaan napas, hiduplah seorang ksatria yang namanya digetarkan oleh angin: Erlang Shen.

Ia bukan sekadar dewa. Ia adalah jembatan antara kekacauan dan ketertiban. Dengan jubah perak yang berkilauan bak sisik naga dan tombak bermata tiga yang mampu membelah samudra, Erlang berdiri sebagai penjaga gerbang langit yang paling tangguh sekaligus paling kesepian.

Mata yang Melihat Segalanya

Keunikan Erlang bukan terletak pada ototnya yang sekeras baja, melainkan pada dahi di antara kedua alisnya. Di sana, bersemayam Mata Ketiga.

Suatu senja, saat langit berubah warna menjadi merah darah, Erlang merasakan getaran yang tidak wajar di dimensi fana. Ia membuka mata ketiganya. Sektika, realitas terkelupas. Ia tidak lagi melihat awan yang indah; ia melihat kebenaran yang telanjang. Ia melihat seekor siluman rubah berekor sembilan yang sedang menyamar menjadi seorang permaisuri, perlahan-lahan menghisap energi kehidupan dari seorang kaisar yang malang.

"Kebohongan hanya bisa bertahan selama kebenaran belum membuka matanya," bisik Erlang. Suaranya rendah, namun menggetarkan pilar-pilar istana langit.

Pengejaran di Antara Dua Alam

Erlang tidak turun ke bumi dengan kereta kencana yang megah. Ia melompat dari awan, ditemani oleh pendamping setianya, Xiaotian Quan—anjing langit berbulu hitam legam yang bisa menelan bulan.

Pertempuran itu terjadi di hutan bambu yang sunyi. Siluman rubah itu tertawa, suaranya melengking memecah kesunyian. "Dewa Erlang yang agung, mengapa engkau peduli pada urusan manusia yang fana? Tidakkah kau bosan menjadi anjing penjaga para Dewa?"

Erlang tidak membalas dengan kata-kata. Ia memutar tombaknya, menciptakan pusaran angin yang merobohkan ribuan batang bambu dalam sekejap. Siluman itu berubah menjadi asap, mencoba melarikan diri ke dalam bayangan. Namun, tidak ada tempat sembunyi bagi mereka yang dikejar oleh Erlang.

Mata ketiganya memancarkan sinar emas yang murni. Sinar itu menembus kabut, mengunci esensi sang siluman. Dalam satu gerakan yang begitu cepat hingga mata manusia takkan sempat berkedip, Erlang menghujamkan tombaknya ke tanah. Tanah berguncang, dan sang siluman terikat oleh rantai cahaya yang muncul dari perut bumi.

Beban Sang Penjaga

Setelah debu mereda, Erlang berdiri di bawah sinar rembulan. Ia menatap kaisar yang kini pingsan, tak menyadari betapa dekatnya ia dengan maut.

Seringkali orang bertanya, mengapa Erlang Shen tampak begitu dingin? Mengapa ia sering berselisih paham dengan pamannya sendiri, Kaisar Langit? Jawabannya sederhana: Erlang tahu apa artinya menjadi manusia. Ia adalah putra dari seorang dewi yang jatuh cinta pada manusia biasa. Darahnya adalah campuran antara keabadian yang dingin dan gairah manusia yang fana.

Ia memahami penderitaan, namun ia harus menegakkan hukum langit. Itulah beban yang ia pikul—menjadi hakim yang paling adil justru karena ia memiliki hati yang bisa terluka.

Sang Elang dan Anjing Langit

Saat matahari mulai menyingsing, Erlang bersiul kecil. Xiaotian Quan kembali ke sisinya, menjilati tangan sang majikan yang masih memegang tombak. Erlang menatap cakrawala, kembali menutup mata ketiganya. Baginya, tugas bukanlah tentang kemuliaan, melainkan tentang keseimbangan yang harus dijaga setiap harinya.

Ia melangkah kembali ke dalam kabut Kunlun, meninggalkan dunia manusia yang perlahan terbangun. Mereka tidak akan pernah tahu bahwa semalam, seorang Dewa bermata tiga telah menyelamatkan mimpi mereka dari kegelapan.


"Di dunia yang penuh tipu daya, hanya mereka yang berani melihat dengan 'mata batin' yang akan menemukan jalan pulang."